Anak susah mengunyah makanan keras karena rahang tidak seimbang

Ringkasan Singkat!

  • Anak susah mengunyah tidak selalu berarti picky eater
  • Pertumbuhan rahang yang tidak seimbang dapat mengganggu fungsi kunyah
  • Rahang sempit, rahang bawah mundur, atau gigitan terbuka sering jadi penyebabnya
  • Kebiasaan napas mulut dan makanan terlalu lunak ikut memengaruhi rahang

Saat anak mulai dikenalkan dengan berbagai tekstur makanan, kita sering berharap kemampuan mengunyahnya akan berkembang dengan sendirinya. Namun ketika keluhan seperti makan yang lambat”, sulit menelan daging, atau hanya mau makanan lembut yang terus berulang. Kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa anak susah mengunyah, atau fungsi mengunyah anak tidak bekerja optimal.

Masalahnya, kondisi tersebut sering langsung dianggap sebagai fase picky eater. Padahal, dalam banyak kasus, kesulitan mengunyah justru berkaitan erat dengan pola pertumbuhan rahang dan gigitan anak, sesuatu yang tidak selalu terlihat jelas oleh orang tua, tetapi sangat memengaruhi cara anak menggigit, menggerus, dan menelan makanan.

Baca juga: Struktur Gigi Anak Tidak Rapi? Ini Waktu yang Tepat untuk Konsultasi Orthodonti!

Anak Susah Mengunyah Saat Rahang Tidak Tumbuh Seimbang

Rahang dan gigi bekerja sebagai satu sistem yang saling mendukung. Ketika salah satu bagian tidak tumbuh optimal, seperti pada anak dengan rahang atas yang sempit, maka proses mengunyah ikut terganggu. Pada kondisi ini, langit-langit mulut cenderung tinggi dan ruang untuk lidah terbatas, sehingga makanan sulit digerakkan dengan baik. Anak yang mengalami hal ini sering kali menunjukkan tanda-tanda seperti menyimpan makanan di pipi (food pocketing), cepat lelah saat makan, dan tampak memutar-mutar makanan di mulut. Begitu pula pada anak dengan rahang bawah yang terlalu mundur, gigi depan tidak bisa berfungsi efektif untuk memotong makanan, sehingga anak susah mengunyah makanan berserat dan lebih sering mengandalkan gigi belakang. Anak dengan kondisi ini juga cenderung menolak makanan keras seperti daging atau sayuran.

Sementara itu, open bite membuat gigi depan tidak saling bertemu. Anak sering kesulitan menggigit mie, ayam suwir, atau sayuran panjang. Jika disertai gigitan silang (crossbite), anak cenderung mengunyah di satu sisi saja, sehingga otot rahang berkembang tidak seimbang.

Faktor Penyebab Anak Susah Mengunyah

Penyebab anak susah mengunyah salah satunya adalah pertumbuhan rahang yang bermasalah. Namun, masalah rahang tidak selalu bawaan lahir. Berikut adalah faktor yang berpengaruh besar.

1. Bernapas Lewat Mulut

Salah satu kebiasaan yang paling sering memengaruhi pertumbuhan rahang adalah bernapas lewat mulut. Anak yang sering pilek, alergi, atau memiliki pembesaran adenoid dan tonsil cenderung bernapas dengan mulut terbuka dalam jangka waktu lama. Saat itu terjadi, posisi lidah turun ke bawah dan tidak lagi menempel pada langit-langit mulut. Padahal, lidah berperan penting dalam membantu membentuk dan melebarkan rahang atas. Tanpa tekanan lidah yang cukup, rahang atas cenderung tumbuh lebih sempit dan tinggi, yang nantinya bisa berpengaruh pada posisi gigi dan pola mengunyah.

2. Kebiasaan Oral yang Mengganggu Pertumbuhan Rahang

Beberapa kebiasaan lain juga memberi tekanan yang tidak ideal pada rahang dan gigi, misalnya mengisap jari atau empeng terlalu lama, menggigit bibir, atau sering menggigit benda-benda tertentu seperti ujung pensil. Kebiasaan ini dapat mengarahkan gigi dan rahang ke posisi yang tidak semestinya karena tekanan berulang pada area yang sama. Dalam jangka panjang, pola seperti ini berpotensi memengaruhi bentuk rahang, menambah risiko gigi berjejal, serta mengganggu hubungan antar rahang.

3. Pola Makan Terlalu Lunak dan Kurangnya Stimulasi Otot Kunyah

Pola makan yang terlalu didominasi makanan lunak juga berpengaruh terhadap perkembangan rahang. Ketika makanan tidak membutuhkan banyak usaha untuk dikunyah, otot-otot kunyah menjadi jarang “berolahraga”. Kurangnya kerja otot ini mengurangi stimulasi alami pada tulang rahang yang sebenarnya dibutuhkan untuk tumbuh kuat dan proporsional. Dalam jangka panjang, kombinasi kebiasaan tersebut dapat membuat rahang tidak mendapat stimulasi pertumbuhan yang optimal. Akibatnya, bentuk rahang bisa menjadi sempit, posisi gigi berjejal, dan fungsi mengunyah tidak seefektif seharusnya.

Kapan Anak Susah Mengunyah Perlu Diperiksa ke Dokter?

American Association of Orthodontists merekomendasikan pemeriksaan ortodonti pertama pada usia 7 tahun. Namun jika anak sudah menunjukkan kesulitan makan sejak dini, pemeriksaan lebih awal sangat dianjurkan.

  • Waktu makan jauh lebih lama daripada anak seusianya
    Anak membutuhkan waktu sangat panjang untuk menghabiskan porsi kecil, sering berhenti di tengah, atau tampak lelah sebelum selesai makan.
  • Sering melepeh atau menyimpan makanan di mulut
    Makanan kerap tidak ditelan, hanya dihisap, disimpan di pipi (food pocketing), atau dikeluarkan lagi setelah dikunyah sebentar.
  • Menolak tekstur tertentu secara konsisten
    Anak terus-menerus menolak makanan yang agak keras atau berserat, dan hanya mau makanan lembut atau bubur, meskipun usianya sudah cukup untuk tekstur lebih padat.
  • Terlihat tidak nyaman saat mengunyah
    Anak tampak meringis, memegang pipi atau rahang, sering mengubah posisi makanan di mulut, atau tampak bingung saat diminta menggigit dan mengunyah makanan tertentu.

Pemeriksaan tidak selalu berarti langsung pasang behel. Banyak anak yang mengalami anak susah mengunyah cukup dibantu dengan perawatan interceptive, seperti membantu pertumbuhan rahang, mengontrol kebiasaan buruk, atau terapi otot mulut.

Jika anak terus kesulitan mengunyah, jangan buru-buru menyalahkan selera makannya. Bisa jadi, tubuhnya sedang memberi sinyal bahwa rahang dan sistem kunyahnya butuh bantuan. Mengunyah seharusnya nyaman dan menyenangkan. Bila terasa berat, itu tanda ada yang perlu diperiksa.

Di Klinik Gigi Damessa, dokter gigi berpengalaman akan menilai pertumbuhan rahang dan fungsi kunyah anak secara menyeluruh, dengan pendekatan yang ramah dan edukatif. Tujuannya bukan sekadar merapikan gigi, tetapi membantu anak makan lebih nyaman dan tumbuh optimal.

Yuk, konsultasikan pertumbuhan rahang si kecil lebih awal di Klinik Gigi Damessa. Makan enak dan nyaman adalah bagian penting dari tumbuh kembang anak yang sehat.

Referensi: 

  • Julien KC, Buschang PH, Throckmorton GS, Dechow PC. Normal masticatory performance in young adults and children. Arch Oral Biol. 1996 Jan;41(1):69-75. doi: 10.1016/0003-9969(95)00098-4. PMID: 8833593.
  • Souto-Souza D, Soares MEC, Primo-Miranda EF, Pereira LJ, Ramos-Jorge ML, Ramos-Jorge J. The influence of malocclusion, sucking habits and dental caries in the masticatory function of preschool children. Braz Oral Res. 2020 Jun 19;34:e059. doi: 10.1590/1807-3107bor-2020.vol34.0059. PMID: 32578802.