Anak membersihkan sela gigi menggunakan benang gigi

Ringkasan Singkat!

  • Flossing gigi pada anak penting penting untuk lakukan ketika gigi mulai saling menempel
  • Gigi susu lebih tipis dan lebih cepat berlubang
  • Sikat gigi tidak mampu membersihkan sela gigi secara optimal
  • Flossing mencegah karies tersembunyi dan infeksi dini
  • Kebiasaan flossing sejak kecil membentuk kesehatan gigi jangka panjang

Banyak orang tua sudah sangat disiplin menyikat gigi anak dua kali sehari. Pasta gigi dipilih yang sesuai usia, camilan manis dibatasi, bahkan minum susu sebelum tidur pun mulai diawasi. Namun, ada satu bagian perawatan gigi anak yang masih sering terlewat: membersihkan sela gigi dengan benang gigi (flossing).

Sebagian orang tua menganggap flossing gigi pada anak tidak penting dan menganggap hanya perlu untuk orang dewasa. Ada juga yang berpikir gigi susu tidak perlu melakukan flossing karena nanti akan copot. Padahal, justru pada masa gigi susu inilah flossing gigi pada anak menjadi sangat penting. Gigi susu memiliki struktur yang lebih rapuh dan risiko karies yang lebih tinggi, terutama di area yang tidak terjangkau sikat gigi.

Baca juga: Mengapa Gigi Anak Rusak Walau Rajin Sikat Gigi?

Alasan Flossing Gigi pada Anak Sangat Penting

Gigi susu sering dianggap “sementara”, tetapi perannya sangat vital. Selain membantu anak mengunyah dan berbicara, gigi susu juga berfungsi sebagai penjaga ruang bagi gigi permanen. Masalah pada gigi susu dapat berdampak langsung pada kesehatan gigi tetap di kemudian hari.

Secara anatomi, gigi susu memiliki lapisan email yang lebih tipis dibanding gigi dewasa. Artinya, bakteri lebih mudah menembus struktur gigi. Lubang kecil yang tidak terlihat bisa berkembang cepat menjadi karies dalam hanya dalam hitungan bulan. Di sinilah flossing pada gigi anak memegang peran penting. 

Banyak penelitian menunjukkan bahwa plak anak paling sering menumpuk di sela gigi, bukan di permukaan depan atau belakang. Sayangnya, sikat gigi, bahkan yang paling canggih sekalipun, tidak mampu membersihkan area interproksimal dengan efektif. Akibatnya, anak rentan mengalami karies interproksimal, yaitu lubang di antara gigi yang sering tidak terlihat hingga sudah cukup besar dan menimbulkan nyeri atau infeksi.

Waktu yang Tepat untuk Melakukan Flossing Gigi pada Anak

Tidak ada patokan usia tunggal yang berlaku untuk semua anak. Namun, panduan yang paling akurat adalah mulai flossing saat dua gigi anak sudah saling bersentuhan.

Pada banyak anak, kondisi ini mulai terlihat:

  • usia 2–3 tahun pada gigi depan,
  • usia 4–6 tahun pada gigi geraham belakang.

Begitu sela gigi tidak lagi berjarak, sisa makanan dan plak mulai mudah terperangkap. Di tahap inilah flossing menjadi bagian penting dari rutinitas kebersihan mulut anak

Cara Melakukan Flossing Gigi pada Anak yang Aman dan Nyaman 

Flossing pada anak memerlukan teknik yang lembut dan pendekatan yang menyenangkan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diikuti orang tua untuk flossing yang efektif dan aman:

  • Pegang pipi anak dengan lembut agar terlihat jelas sela giginya.
  • Masukkan benang atau flosser perlahan tanpa menghentak untuk menghindari ketidaknyamanan.
  • Gerakkan benang membentuk huruf “C” mengikuti kontur gigi, sehingga dapat membersihkan sela gigi dengan efektif.
  • Bersihkan satu per satu sela gigi, lalu bilas mulut anak untuk menghilangkan sisa-sisa makanan dan plak.

Tips Flossing Gigi Pada Anak yang Menyenangkan 

Agar flossing gigi pada anak menjadi aktivitas yang menyenangkan, beberapa pendekatan dapat diterapkan. Salah satunya adalah dengan melakukan flossing di depan cermin. Dengan cara ini, anak bisa melihat langsung proses pembersihan gigi dan memahami pentingnya menjaga kebersihan gigi sejak dini. Melihat diri mereka di cermin dapat membuat anak merasa lebih tertarik dan termotivasi untuk terlibat aktif dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, memilih flosser dengan warna cerah atau aroma buah juga dapat meningkatkan minat anak. Flosser yang berwarna menarik atau memiliki aroma yang disukai anak akan membuat proses flossing terasa lebih menyenangkan dan kurang membosankan. Kombinasi warna yang cerah atau bau buah yang segar dapat mengubah flossing menjadi pengalaman yang lebih menyenangkan bagi anak.

Untuk membuat anak lebih bersemangat melakukan flossing, Anda juga bisa menceritakan tentang “monster plak” yang bersembunyi di sela-sela gigi mereka. Dengan imajinasi ini, anak akan merasa termotivasi untuk membersihkan plak yang tak terlihat dan mengusir “monster” tersebut. Cerita yang kreatif ini dapat membantu anak lebih tertarik dan memahami pentingnya flossing dalam menjaga kesehatan gigi mereka.

Terakhir, lakukan flossing setelah mandi, ketika anak sudah merasa lebih rileks dan nyaman. Saat tubuh mereka sudah bersih dan tenang, anak cenderung lebih kooperatif dan lebih mudah mengikuti instruksi untuk menjaga kebersihan gigi mereka. Dengan cara ini, flossing bisa menjadi rutinitas yang menyenangkan dan mudah dilakukan tanpa adanya penolakan dari anak.

Flossing gigi pada anak bersifat cukup penting. Selain itu, penting untuk diingat bahwa perawatan ini bukan hanya untuk orang dewasa, dan bukan pula hanya untuk anak yang memakai behel. Begitu gigi anak mulai saling menempel, flossing menjadi bagian penting dari perawatan gigi harian.

Dengan membiasakan flossing gigi pada anak sejak dini, orang tua membantu mencegah karies tersembunyi, infeksi gigi, dan perawatan kompleks di kemudian hari. Kebiasaan kecil ini memberi dampak besar bagi kesehatan gigi anak hingga dewasa.

Jika Anda masih ragu kapan memulai flossing, bingung memilih jenis flosser, atau ingin memastikan tidak ada karies yang tersembunyi, dokter gigi anak di Klinik Gigi Damessa siap membantu dengan pendekatan yang ramah anak dan edukatif.

Referensi: 

  • Nascimento EB, Rodrigues R, Manso MC. Prevalence of dental floss use in deciduous dentition: A systematic review and meta-analysis. Int J Dent Hyg. 2023 Feb;21(1):116-127. doi: 10.1111/idh.12611. Epub 2022 Aug 15. PMID: 35924390.
  • Noferike, Lusy, and Sri P. Utami. “An Overview of the Use of Dental Floss in Pediatric Patients at the Baiturrahmah Dental Hospital.” Journal of Dentomaxillofacial Science, vol. 7, no. 3, 1 Dec. 2022, jdmfs.org/index.php/jdmfs/article/download/1412/818/4793, https://doi.org/10.15562/jdmfs.v7i3.1412. Accessed 11 Aug. 2024.