
Rekap Singkat!
- Gigi anak tetap bisa rusak meski rajin sikat gigi karena faktor kebiasaan dan pola makan.
- Kerusakan gigi anak sering diawali bercak putih yang berkembang menjadi gigi berlubang.
- Pencegahan gigi anak rusak perlu kebiasaan gigi yang benar dan kontrol rutin ke dokter gigi.
Sahabat Damessa pasti pernah berpikir demikian, kan? Setidaknya sekali seumur hidup ketika melihat si buah hati giginya gupis semua! Padahal gosok giginya sudah rajin dua kali sehari, bahkan terkadang hingga tiga kali. Tapi kenapa masih saja? Cari tahu penyebab tersembunyi di balik gigi anak yang rusak pada artikel Damessa berikut ini!
Apa Sebenarnya Gigi Anak Rusak?
Gigi anak rusak biasanya diawali dengan adanya bercak putih pada gigi (white spot lesion). Ketika bercak ini mulai tampak, Sahabat Damessa harus waspada bahwa jangan-jangan gigi buah hati akan berlubang! Meski demikian, white spot lesion ini tidak hanya jadi gambaran dari tanda awal terjadinya karies atau gigi berlubang saja, lho! Bisa jadi juga karena paparan fluorida yang terlalu banyak selama tumbuh kembang gigi anak. Ketika white spot lesion ini dibiarkan terus menerus tanpa adanya penanganan dari dokter gigi maka akan terus berkembang berakhir menjadi gigi berlubang.


Baca juga: Rajin Sikat Gigi, Mengapa Gigi Anak Masih Geripis?
Mengapa Gigi Anak Rusak meski Rajin Sikat Gigi?
Ternyata ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan gigi anak rusak meski sudah rajin sikat gigi! Di antaranya adalah:
1. Teknik dan durasi dari sikat gigi yang kurang tepat
Sebenarnya berapa durasi yang tepat dari sikat gigi? Jawaban yang tepat adalah 2 menit. American Dental Association (ADA) menjelaskan bahwa menyikat gigi selama 2 menit telah terbukti mampu menghilangkan plak-plak yang terbentuk di bagian luar dari gigi kita secara signifikan.
Di samping itu, ADA menginformasikan bahwa ada cara simpel supaya sikat gigi anak jadi lebih efektif! Caranya, posisikan bulu sikat di garis gusi dengan sudut sekitar 45 derajat, lalu gerakkan sikat maju–mundur pelan-pelan dengan sapuan pendek. Untuk bagian dalam gigi depan, tinggal miringkan sikat secara vertikal dan gerakkan naik–turun beberapa kali. Namun, penting untuk memastikan semua permukaan gigi harus disikat baik bagian luar, dalam, sampai permukaan kunyahnya. Jangan lupa gunakan sikat berbulu lembut dan tekanan ringan supaya gusinya tetap aman dan nggak gampang iritasi. Dengan teknik yang tepat, hasil sikat gigi jadi jauh lebih maksimal!
2. Waktu sikat gigi yang salah
Seringnya kita menanamkan kebiasaan sikat gigi bersamaan dengan mandi pagi atau sore, bukan? Sebenarnya kebiasaan ini memang baik, tapi belum tentu tidak benar. ADA menjelaskan bahwa sikat gigi yang tepat adalah pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Hal ini dikarenakan menyikat gigi setelah makan (lebih tepatnya 30-60 menit setelah sarapan) bertujuan untuk membersihkan sisa makanan pada permukaan gigi dan mencegah pembentukan plak. Sedangkan, menyikat gigi sebelum tidur bertujuan untuk mencegah interaksi bakteri dan sisa makanan yang masih menempel karena penurunan produksi air liur saat tidur sehingga tidak dapat membersihkan rongga mulut secara alami.
3. Frekuensi ngemil terlalu sering
Frekuensi ngemil yang terlalu sering bisa menyebabkan gigi buah hati rusak. Secara singkat, rongga mulut kita membutuhkan waktu untuk mengembalikan pH ke keadaan normalnya, yakni berkisar dari 7-7,5. Ketika rongga mulut tidak mempunyai cukup waktu untuk mengompensasi keadaan asam akibat makan maupun ngemil (biasa dikenal dengan sebutan remineralisasi), maka pH dalam rongga mulut akan selalu turun dan kemungkinan terjadi karies dalam rongga mulut makin tinggi.
4. Penggunaan dot atau minum susu sebelum tidur
Penggunaan dot maupun pemberian susu pada bayi dapat meningkatkan risiko terjadinya karies. Hal ini dikarenakan pemberian susu botol pada bayi hingga tertidur dapat menyebabkan paparan gula yang berkepanjangan pada gigi. Di samping karies, studi juga menunjukkan bahwa penggunaan susu botol hingga tertidur ternyata dapat meningkatkan risiko obesitas melalui efek kumulatif dari isi botol yang umumnya tinggi gula serta mampu menyebabkan terjadinya kekurangan zat besi.
5. Fluorida yang tidak cukup
Sahabat Damessa sekalian pasti sudah sering sekali mendengar fluorida, kan? Fluorida ini ternyata memainkan peran yang amat sangat penting, lho, dalam pencegahan karies, tidak hanya pada anak, tetapi juga pada orang dewasa! Fluorida yang terkandung dalam air, pasta gigi, obat kumur, maupun dalam bentuk suplemen memainkan berbagai peran penting. Di antaranya adalah memperkuat lapisan paling luar dari gigi, yakni enamel; meningkatkan proses remineralisasi, serta mengurangi risiko terjadinya demineralisasi akibat asam setelah mengonsumi makanan maupun minuman. Ketika fluorida dalam tubuh anak, terutama dalam rongga mulut, kurang atau bahkan tidak mencukupi, maka gigi akan rentan mengalami proses demineralisasi dan akhirnya terjadi karies.
Baca juga: Struktur Gigi Anak Tidak Rapi? Ini Waktu yang Tepat untuk Konsultasi Orthodonti!
Ikuti Cara Berikut untuk Mencegah Gigi Anak Rusak!
Kalau sebelumnya kita sudah membahas mengapa gigi anak rusak, saat ini kita bahas bersama, yuk, bagaimana caranya untuk mencegah rusaknya gigi sang buah hati! Sahabat Damessa bisa ikuti cara-cara berikut!
1. Perbaiki teknik, durasi, dan waktu menyikat gigi buah hati
Dari segala tata cara yang akan dibahas, hal dasar inilah yang perlu Sahabat Damessa perhatikan. Sahabat Damessa harus memastikan bahwa buah hati menyikat gigi dengan cara, durasi, dan pada waktu yang tepat. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, yakni selama 2 menit pada waktu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Di samping memastikan hal ini, Sahabat Damessa juga harus memerhatikan bahwa pasta gigi yang digunakan buah hati mengandung fluorida untuk memberikan proteksi pada gigi.
2. Edukasikan kepada anak untuk mengurangi makanan manis
Walaupun banyak faktor resiko lain penyebab karies gigi, efek dari makanan dengan gula tambahan memiliki efek yang krusial pada permasalahan karies gigi. Dengan alasan ini, penting untuk memilih snack yang tepat yang sebagian besar berisikan makanan sehat yang kaya nutrisi seperti keju, sayuran, buah segar, yoghurt, dan sebagainya.
3. Berkumur setelah makan makanan yang manis dan lengket
Hal ini bertujuan untuk mencegah penumpukan makanan pada gigi yang akan menyebabkan fermentasi asam dan merusak lapisan terluar gigi.
4. Rutin ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali
Rutin periksa ke dokter gigi 6 bulan sekali sangatlah penting untuk melakukan pemeriksaan sehingga risiko penyakit gigi dan mulut dapat menurun.
Sekarang Sahabat Damessa sudah tahu alasan di balik gigi anak rusak meskipun sudah rajin sikat gigi. Yuk, segera periksakan kondisi gigi buah hati ke Klinik Gigi Damessa dan follow Instagram @damessa.dentalclinic untuk informasi menarik lainnya. Gigi anak yang sehat hari ini adalah investasi senyum sehatnya di masa depan!
Referensi
Lopes, P. C., Carvalho, T., Gomes, A. T. P. C., Veiga, N., Blanco, L., Correia, M. J., & Mello-Moura, A. C. V. (2024). White spot lesions: diagnosis and treatment – a systematic review. BMC oral health, 24(1), 58. https://doi.org/10.1186/s12903-023-03720-6
American Dental Association. (2022, October 7). Toothbrushes. ADA Oral Health Topics. Retrieved from https://www.ada.org/resources/ada-library/oral-health-topics/toothbrushes
Cheng, H., John, J., Scott, J., Denney-Wilson, E., Do, L., Bhole, S., … Arora, A. (2025). Bottle feeding to sleep beyond 12 months is associated with higher risk of tooth decay and overweight in Australian children: Findings from the healthy smiles healthy kids cohort study. Australian and New Zealand Journal of Public Health, 49(2), 100224. doi:10.1016/j.anzjph.2025.100224
Lopes, P. C., Carvalho, T., Gomes, A. T. P. C., Veiga, N., Blanco, L., Correia, M. J., & Mello-Moura, A. C. V. (2024). White spot lesions: diagnosis and treatment – a systematic review. BMC oral health, 24(1), 58. https://doi.org/10.1186/s12903-023-03720-6
Nassar Y, Brizuela M. The Role of Fluoride on Caries Prevention. [Updated 2023 Mar 19]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK587342/
Warreth, A. (2023). Dental caries and its management. International Journal of Dentistry, 2023, 1–15. doi:10.1155/2023/9365845
Young, D. A., Nový, B. B., Zeller, G. G., Hale, R., Hart, T. C., Truelove, E. L., … Beltran-Aguilar, E. (2015). The American Dental Association Caries Classification System for Clinical Practice. The Journal of the American Dental Association, 146(2), 79–86. doi:10.1016/j.adaj.2014.11.018