
Rekap singkat!
- Gigi kurang rapi di usia pra-lansia merupakan kondisi yang umum terjadi akibat faktor kehilangan gigi, penyakit gusi, bruxism, dan lepas retainer setelah perawatan ortodonti.
- Pemasangan behel di usia pra-lansia tetap memungkinkan selama kondisi gusi, tulang rahang, dan kesehatan umum mendukung.
- Selain behel konvensional, tersedia opsi lain untuk merawat gigi kurang rapi di usia pra-lansia melalui penggunaan clear aligner.
Saat bercermin, tidak jarang seseorang mulai memperhatikan kondisi giginya dengan lebih detail dan menyadari adanya perubahan yang sebelumnya tidak terasa. Namun nyatanya, posisi gigi kurang rapi di usia pra-lansia adalah hal yang umum terjadi, lho! Sayangnya, sering kali kita sudah terlanjur panik dikarenakan perubahan posisi gigi ini membuat kepercayaan diri menurun. Apakah gigi kurang rapi di usia pra-lansia masih bisa diperbaiki dengan behel? Yuk, cari tahu bersama di artikel Damessa berikut ini!
Apa itu Usia Pra-Lansia?
Seseorang yang sudah lanjut usia (lansia) dibagi menjadi beberapa kategori oleh World Health Organization (WHO). Menurut WHO, lansia diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, yakni usia pertengahan atau pra-lansia (middle age) dengan rentang 45 sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) dengan rentang 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua (old) dengan rentang 75 sampai 90 tahun, dan usia sangat tua (very old) dengan rentang lebih dari 90 tahun.
Tingginya angka permasalahan gigi dan mulut pada lansia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah penurunan fungsi fisiologis tubuh akibat proses penuaan, seperti berkurangnya produksi air liur, penurunan kemampuan motorik dalam menjaga kebersihan mulut, serta meningkatnya prevalensi penyakit sistemik seperti diabetes mellitus dan hipertensi yang turut memengaruhi kondisi jaringan rongga mulut.
Untuk detail spesifiknya, studi menunjukkan bahwa proses penuaan mampu menyebabkan penurunan elastisitas jaringan penyangga gigi, perubahan pada tulang rahang, dan menyebabkan gigi bergeser lebih mudah.
Kenapa Gigi Kurang Rapi di Usia Pra-Lansia?
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan gigi kurang rapi di usia pra-lansia, lho, Sahabat Damessa. Kita bahas satu persatu, ya!
- Kehilangan Satu atau Beberapa Gigi
Ketika gigi hilang karena dicabut atau berlubang besar dan tidak segera digantikan dengan gigi palsu maupun implan, gigi di sebelahnya juga akan bergeser menempati posisi yang kosong tersebut, lho! Hal ini dikarenakan gigi selalu mencari oklusi atau gigitan dengan gigi yang berlawanan. Ketika gigitan yang tepat ini tidak ditemukan, maka gigi akan cenderung lebih ‘geser’ atau ‘turun’ (untuk gigi atas yang kehilangan gigi bawah) dibandingkan sebelumnya.
- Adanya Penyakit Gusi
Sahabat Damessa tahu tidak ciri-ciri adanya penyakit gusi itu seperti apa? Adanya kemerahan, pembesaran, dan perubahan tekstur pada gusi merupakan beberapa tanda dari adanya penyakit gusi, lho! Gusi mudah berdarah saat menggosok gigi juga dapat menjadi salah satu tanda penyakit gusi. Penyakit gusi pada tahap ini lebih umum disebut dengan gingivitis.
Apabila tidak segera dirawat, maka bisa berlanjut ke tahap periodontitis (peradangan pada jaringan pendukung gigi). Lama kelamaan, gusi bisa menurun yang menyebabkan tereksposnya akar gigi sehingga gigi bisa bergerak, bergeser, dan bahkan hilang karena ketiadaan jaringan pendukung gigi.
- Kebiasaan Lama
Adanya kebiasaan menggertakan gigi (bruxism) ternyata mampu menyebabkan gigi kurang rapi di usia pra-lansia, lho, Sahabat Damessa! Kebiasaan menggertakkan gigi secara berlebihan dapat memberikan tekanan yang besar pada permukaan gigi. Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat menyebabkan gigi mengalami keausan, pengikisan, bahkan retakan. Akibatnya, gigi menjadi lebih sensitif, fungsi mengunyah terganggu, dan tidak jarang diperlukan perawatan lanjutan seperti penambalan atau pemasangan mahkota gigi.
Selain itu, gertakan yang terjadi terus-menerus dapat mengikis lapisan enamel sehingga dentin yang lebih lunak di bawahnya terekspos. Kondisi ini membuat gigi semakin sensitif dan lebih rentan terhadap kerusakan. Pada kasus yang lebih berat, kebiasaan ini juga dapat memicu pergeseran posisi gigi yang berujung pada gigi kurang rapi di usia pra-lansia dan gangguan gigitan.
- Tidak Memakai Retainer Setelah Penggunaan Behel
Terjadinya kondisi relapse ternyata tidak hanya ada di life after break-up saja, lho, Sahabat Damessa! Dalam dunia kedokteran gigi, setelah perawatan ortodonti pun gigi geligi kita juga bisa mengalami relapse. Relapse merupakan suatu kecenderungan pada gigi geligi untuk kembali ke posisi seperti sedia kala sebelum dilakukannya perawatan ortodonti.
Penyebab dari relapse kompleks dan masih belum jelas hingga kini. Namun, studi menunjukkan bahwa penyebab dari relapse meliputi beberapa faktor, seperti jaringan gusi dan penyangga gigi yang masih beradaptasi, posisi gigi yang belum sepenuhnya stabil, serta perubahan alami yang terjadi seiring pertumbuhan dan bertambahnya usia.
Apakah Masih Bisa Pasang Behel di Usia Pra-Lansia?
Jawabannya… tentu saja bisa. Selama kondisi biologis seperti kondisi gusi, kesehatan tulang rahang, dan kesehatan sistemik mendukung untuk dilakukan perawatan behel. Perlu diketahui pula oleh Sahabat Damessa, bahwa perawatan merapikan gigi dengan menggunakan behel di usia pra-lansia memiliki kemungkinan jangka waktu yang lebih lama dibandingkan pada usia dewasa muda.
Hal ini dikarenakan seiring bertambahnya usia, jaringan yang menopang gigi mengalami perubahan. Proses penyesuaian dan penyembuhan jaringan menjadi lebih lambat dibandingkan saat usia muda. Sel-sel di sekitar gigi juga tidak bekerja seaktif sebelumnya sehingga respons tubuh terhadap perawatan gigi membutuhkan waktu lebih lama.
Selain itu, kondisi jaringan di usia yang lebih matang cenderung lebih mudah mengalami peradangan. Elastisitas jaringan penyangga gigi pun berkurang sehingga gigi tidak bergerak secepat pada usia muda. Aliran darah ke area sekitar gigi juga tidak seoptimal sebelumnya yang membuat proses pemulihan berlangsung lebih lambat. Meski demikian, dengan perencanaan perawatan yang tepat dan pengawasan dokter gigi, perawatan seperti behel tetap dapat dilakukan dengan aman dan hasil yang baik.
Apakah Ada Opsi Lain Selain Penggunaan Behel?
Memang seiring dengan berkembangnya teknologi, perawatan untuk merapikan gigi tidak hanya terbatas pada behel konvensional saja, ya, Sahabat Damessa. Ada pula clear aligner yang juga mampu merapikan gigi tanpa terlihat menggunakan bracket. Dari segi kenyamanan dan estetika, aligner memang lebih unggul bila dibandingkan dengan bracket konvensional.
Namun, ketika membicarakan mengenai bagaimana hasil atau keberlanjutan pasca perawatan dan kompleksitas dari perawatan yang bisa ditangani, tentu saja bracket konvensional lebih unggul. Untuk lebih lengkapnya, Sahabat Damessa bisa baca artikel mengenai pemilihan aligner atau behel, ya!
Baca juga: Aligner atau Behel, Mana yang Lebih Sesuai dengan Kebutuhan Anda?
Apa Manfaat Perawatan Ortodonti untuk Pra-Lansia?
Pada pasien yang sudah pra-lansia, perawatan ortodonti tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan estetika dan kepercayaan diri saja. Namun, perawatan ortodonti juga bisa mengurangi risiko penyakit gusi dan meningkatkan umur gigi sebagai investasi jangka panjang. Dengan gigi yang tetap bertahan pada usia lansia, maka fungsi gigi untuk mengunyah makanan juga akan bertahan lama sehingga mampu mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik kedepannya.
Sekarang Sahabat Damessa sudah tahu, kan, bahwa behel bukan soal usia, tetapi tentang kondisi rongga mulut kita saat ini dan bagaimana perencanaan perawatan kedepannya. Sahabat Damessa bisa langsung pergi ke Klinik Damessa terdekat untuk mengkonsultasikan keluhannya dengan Spesialis Ortodonti berpengalaman di klinik! Untuk informasi menarik lainnya, Sahabat Damessa bisa mengikuti Instagram @damessa.dentalclinic.
Referensi:
- Chacón-Moreno, A., Ramírez-Mejía, M. J., & Zorrilla-Mattos, A. C. (2022). Relapse and inadvertent tooth movement post orthodontic treatment in individuals with fixed retainers: A review. Revista cientifica odontologica (Universidad Cientifica del Sur), 10(3), e116. https://doi.org/10.21142/2523-2754-1003-2022-116
- Dyussenbayev, A. (2017). Age Periods Of Human Life. Advances in Social Sciences Research Journal, 4(6). https://doi.org/10.14738/assrj.46.2924
- Gasner NS, Schure RS. Periodontal Disease. [Updated 2025 May 12]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554590/
- Kim, H., Jo, H., Cha, J. Y., Lee, K. J., Yu, H. S., & Choi, S. H. (2024). Orthodontic treatment of a middle-aged patient with periodontally compromised dentition accompanied by pathologic tooth migration. The Angle orthodontist, 94(6), 678–686. https://doi.org/10.2319/122923-866.1
- Smyczek, J., Słomian, M., Grudnik, K., Grudnik, M., Jagielski, M., Pisarek, S., Wąs, K., Lau, K., & Kasperczyk, J. (2025). Everyday tensions: Bruxism as a reflection of 21st-century stress – narrative review of literature. Wiadomości Lekarskie, (7), 1403–1410. https://doi.org/10.36740/wlek/205602