Implan Gigi untuk Pasien Diabetes

Ringkasan SIngkat!

  • Implan gigi untuk pasien diabetes tetap aman dilakukan.
  • Kunci utama ada pada kontrol gula darah (HbA1c ideal <7%)
  • Risiko memang lebih tinggi, tapi bisa dikelola
  • Persiapan dan kontrol pasca-implan sangat menentukan
  • Dengan protokol yang tepat, tingkat keberhasilan implan bisa mencapai >90%

Ketika seseorang kehilangan gigi, implan gigi sering disebut sebagai solusi paling stabil, paling nyaman, dan paling mendekati gigi asli. Namun begitu kata diabetes muncul, banyak pasien langsung ragu.

“Katanya diabetes bikin luka susah sembuh, nanti implannya gagal ya?”

“Aman nggak sih pasang implan kalau gula darahku tinggi?”

Pertanyaan ini sangat wajar. Diabetes memang mempengaruhi proses penyembuhan tubuh, meningkatkan risiko infeksi, dan berkaitan erat dengan kesehatan gusi serta tulang. Tapi kabar baiknya adalah implan gigi untuk pasien diabetes aman dan seluruh proses perawatannya berhasil selama kondisi tertentu terpenuhi dan perawatannya dilakukan dengan benar.

Baca juga: Mengenal Proses Implan Gigi, Solusi Permanen untuk Gigi Hilang

Faktor Keberhasilan Implan untuk Pasien Diabetes

Diabetes adalah kondisi metabolik yang mempengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, termasuk rongga mulut. Pada kondisi implan untuk pasien diabetes, beberapa perubahan biologis dapat berdampak pada keberhasilan proses perawatan. Berikut adalah beberapa faktor yang perlu diperhatikan:

  • Aliran Darah ke Jaringan Menurun
    Pada diabetes, aliran darah ke jaringan tubuh, termasuk gusi dan tulang, dapat menurun. Hal ini menyebabkan proses penyembuhan luka lebih lambat, yang penting untuk keberhasilan implan.
  • Respons Imun Melemah
    Diabetes dapat melemahkan respons imun tubuh, meningkatkan risiko infeksi. Infeksi pada area sekitar implan bisa berdampak pada kegagalannya.
  • Risiko Penyakit Gusi Lebih Tinggi
    Pasien diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami periodontitis (penyakit gusi), yang dapat memengaruhi kualitas tulang yang mendukung implan.

Seluruh proses perawatan termasuk implan gigi untuk pasien diabetes bergantung pada proses osseointegration (penyatuan implan dengan tulang). Oleh karena itu, faktor-faktor di atas harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Namun, kabar baiknya, semua faktor tersebut bisa dikendalikan dengan perawatan yang tepat.

Kunci Keamanan Implan untuk Pasien Diabetes

Implan gigi untuk pasien diabetes menjadi penentu utama bukan hanya apakah seseorang memiliki diabetes, tetapi seberapa terkontrol diabetes tersebut. Pemeriksaan HbA1c atau kadar gula darah rata-rata dalam tiga bulan terakhir menjadi indikator utama dalam keberhasilan implan:

  • HbA1c < 7%: Tingkat keberhasilan implan sangat tinggi, mendekati pasien tanpa diabetes.
  • HbA1c 7–8%: Masih memungkinkan, tetapi dengan pengawasan yang lebih ketat.
  • HbA1c > 8–9%: Risiko kegagalan implan meningkat signifikan.

Penelitian menunjukkan bahwa kegagalan implan lebih sering terjadi pada pasien dengan HbA1c tinggi yang tidak terkontrol, daripada karena diagnosis diabetes itu sendiri.

Kapan Implan Gigi untuk Pasien Diabetes Tidak Dianjurkan?

Implan gigi untuk pasien diabetes sebaiknya ditunda atau dihindari jika kondisi-kondisi berikut belum teratasi, karena faktor-faktor ini dapat memengaruhi keberhasilan prosedur implan:

1. HbA1c Tinggi dan Tidak Stabil

Kadar HbA1c yang tinggi dan tidak terkontrol menandakan gula darah yang tidak stabil, yang dapat meningkatkan risiko kegagalan implan. Diabetes yang tidak terkontrol menghambat proses penyembuhan luka dan meningkatkan kemungkinan infeksi. Oleh karena itu, penting untuk menstabilkan kadar gula darah sebelum melanjutkan prosedur implan.

2. Infeksi Aktif pada Gusi atau Tulang

Infeksi aktif pada jaringan gusi atau tulang sekitar gigi yang akan diimplan dapat menghambat proses penyembuhan dan meningkatkan risiko kegagalan implan. Infeksi ini harus diobati terlebih dahulu, karena bakteri yang ada di dalam mulut dapat mempengaruhi integrasi implan dengan tulang.

3. Periodontitis Berat yang Belum Dirawat

Periodontitis atau penyakit gusi yang belum dirawat dengan baik dapat merusak tulang yang mendukung implan gigi. Kondisi ini meningkatkan risiko implan gagal, karena tulang yang tidak sehat atau rusak tidak dapat menyokong implan dengan baik. Perawatan gusi dan pengobatan periodontitis harus diselesaikan sebelum memulai prosedur implan.

4. Kebiasaan Merokok Aktif

Merokok dapat mengganggu proses penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi, karena merokok menurunkan aliran darah ke jaringan tubuh, termasuk gusi dan tulang. Kebiasaan merokok yang aktif harus dihentikan sebelum prosedur implan dilakukan, dan pasien dianjurkan untuk berhenti merokok selama masa penyembuhan setelah implan.

5. Kebersihan Mulut yang Buruk (Plak dan Karang Gigi Berlebih)

Kebersihan mulut yang buruk, yang ditunjukkan dengan adanya plak dan karang gigi berlebih, dapat meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi setelah pemasangan implan. Sebelum implan dilakukan, penting untuk memastikan bahwa kebersihan mulut sudah optimal, termasuk pembersihan karang gigi dan perawatan gusi secara menyeluruh.

Beruntung, sebagian besar kondisi ini dapat diperbaiki dengan perawatan medis dan kebersihan mulut yang baik. Setelah kondisi sistemik dan mulut lebih stabil dan optimal, prosedur implan gigi untuk pasien diabetes dapat dilakukan keberhasilan yang tinggi. 

Risiko Implan Gigi untuk Pasien Diabetes yang Perlu Dipahami

Meskipun implan tetap dapat dilakukan dengan aman pada pasien diabetes, ada beberapa risiko yang perlu dipahami:

  • Peri-implantitis

Ini adalah peradangan jaringan di sekitar implan, ditandai dengan gusi merah dan bengkak, mudah berdarah, nyeri atau ngilu saat ditekan. Pasien diabetes memang lebih rentan, tetapi kontrol kebersihan mulut, scaling rutin, dan kontrol berkala sangat efektif mencegah kondisi ini.

  • Gagal Osseointegration

Osseointegration adalah proses paling krusial dalam implan. Gula darah tinggi dapat menghambat proses ini. Namun dengan kontrol gula darah baik, kualitas tulang yang cukup, dan teknik bedah atraumatik, risiko kegagalan bisa ditekan secara signifikan.

Perbedaan dalam Prosedur Implan Gigi untuk Pasien Diabetes

Secara teknis, prosedur implan gigi untuk pasien diabetes tidak jauh berbeda dengan prosedur pada pasien non-diabetes. Namun, yang membedakan adalah fase persiapan dan pemantauan yang lebih teliti. Tahap persiapan mencakup pemeriksaan menyeluruh pada gusi dan tulang, serta CT-scan 3D untuk menilai kualitas tulang yang akan menjadi tempat penanaman implan. Evaluasi HbA1c terbaru juga dilakukan untuk memastikan gula darah terkendali, diikuti dengan scaling dan perawatan gusi untuk memastikan kondisi mulut yang optimal. Saat pemasangan, protokol sterilisasi dilakukan dengan lebih ketat, dan teknik bedah dilakukan dengan minimal trauma untuk meminimalkan risiko. 

Pada beberapa kasus, antibiotik preventif juga diberikan untuk menghindari infeksi. Masa penyembuhan pada pasien diabetes mungkin sedikit lebih lama dibandingkan pasien non-diabetes. Umumnya, pasien non-diabetes memerlukan waktu sekitar 3–4 bulan sebelum pemasangan mahkota, sementara pasien diabetes bisa memerlukan waktu 4–6 bulan untuk memastikan integrasi implan yang optimal dengan tulang.

Kesimpulannya, implan gigi untuk pasien diabetes adalah aman! Tapi dengan syarat. Pasien diabetes bukan otomatis tidak boleh implan gigi. Dengan gula darah terkontrol, gusi sehat, dan perencanaan yang matang, implan justru bisa menjadi solusi terbaik untuk mengembalikan fungsi kunyah dan kualitas hidup. Yang berbahaya bukan implannya, tapi implan tanpa persiapan dan kontrol yang baik.

Jika kamu atau orang tua memiliki diabetes dan sedang mempertimbangkan implan gigi, jangan langsung takut atau menunda tanpa informasi yang tepat. Klinik Gigi Damessa menyediakan perawatan implan dengan evaluasi medis menyeluruh, teknologi modern, dan dokter berpengalaman dalam menangani pasien dengan kondisi sistemik seperti diabetes.

Yuk, mulai dari konsultasi dulu. Aman, terencana, dan sesuai kebutuhan tubuhmu!

Referensi: 

  • Enteghad S, Shirban F, Nikbakht MH, Bagherniya M, Sahebkar A. Relationship Between Diabetes Mellitus and Periodontal/Peri-Implant Disease: A Contemporaneous Review. Int Dent J. 2024 Jun;74(3):426-445. doi: 10.1016/j.identj.2024.03.010. Epub 2024 Apr 12. PMID: 38614881; PMCID: PMC11123523.
  • Dubey RK, Gupta DK, Singh AK. Dental implant survival in diabetic patients; review and recommendations. Natl J Maxillofac Surg. 2013 Jul;4(2):142-50. doi: 10.4103/0975-5950.127642. PMID: 24665167; PMCID: PMC3961886.