Kalkulus gigi atau lebih dikenal sebagai karang gigi adalah akumulasi plak yang mengeras pada permukaan gigi. Plak yang tidak dibersihkan secara rutin ini dalam prosesnya akan bercampur dengan mineral dari air liur. Ini membentuk lapisan keras yang sulit dihilangkan tanpa bantuan profesional.
Proses ini terjadi ketika ion kalsium dan fosfat dalam air liur bereaksi dengan sisa makanan dan bakteri dalam plak, mempercepat proses mineralisasi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada estetika gigi seperti menyebabkan perubahan warna gigi menjadi kekuningan. Selain itu, kalkulus gigi juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan mulut yang lebih serius termasuk peradangan gusi, bau mulut, dan peningkatan risiko infeksi periodontal.
Oleh karena itu, penting untuk memahami cara mencegah dan mengatasi kalkulus demi menjaga kesehatan gigi dan mulut. Lantas, apa saja yang perlu diketahui tentang masalah gigi ini? Silakan simak artikel berikut sampai selesai!
Apa Itu Kalkulus Gigi?
Kalkulus gigi terbentuk dari plak yang mengalami mineralisasi akibat kandungan kalsium dan fosfat dalam air liur. Proses ini bisa terjadi dalam waktu singkat bahkan dalam hitungan hari jika kebersihan mulut tidak terjaga. Kalkulus dapat muncul di atas garis gusi (supragingiva) atau di bawah garis gusi (subgingiva). Kalkulus supragingiva umumnya terlihat berwarna putih kekuningan, sedangkan kalkulus subgingiva lebih gelap karena terkontaminasi pigmen darah.
Plak yang tidak dibersihkan tersebut akan menjadi tempat berkembang biaknya bakteri. Pada akhirnya hal ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan mulut. Oleh karena itu, pemahaman tentang pembentukan kalkulus dan cara mencegahnya sangat penting untuk menjaga kesehatan gigi dan gusi.
Faktor Risiko Terbentuknya Kalkulus
Plak atau Kalkulus Gigi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh berbagai faktor. Adapun, berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya kalkulus gigi:
- Kebersihan Mulut yang Buruk
Kebersihan mulut yang kurang terjaga merupakan salah satu penyebab utama terbentuknya plak dan kalkulus pada gigi. Tidak menyikat gigi secara rutin minimal dua kali sehari atau tidak menggunakan benang gigi dapat menyebabkan sisa makanan dan bakteri menumpuk di permukaan gigi dan di sela-sela gusi.
Plak yang tidak dibersihkan dalam waktu 24 hingga 72 jam dapat mengeras menjadi karang gigi (kalkulus), yang lebih sulit dibersihkan dan dapat menyebabkan penyakit gusi seperti gingivitis atau periodontitis. Selain itu, kebiasaan tidak membersihkan lidah dan jarang berkumur juga berkontribusi terhadap pertumbuhan bakteri yang memperparah masalah kesehatan mulut.
- Pola Makan Tinggi Gula dan Karbohidrat
Makanan dan minuman yang mengandung kadar gula tinggi, seperti permen, kue, minuman bersoda, dan makanan bertepung seperti roti putih atau keripik kentang, dapat mempercepat pembentukan plak pada gigi. Bakteri di dalam mulut menggunakan gula sebagai sumber energi dan menghasilkan asam sebagai produk sampingannya.
Asam ini dapat merusak lapisan enamel gigi dan menciptakan lingkungan yang ideal bagi plak untuk berkembang. Konsumsi makanan manis secara berlebihan, terutama jika tidak diimbangi dengan kebersihan mulut yang baik, dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi, pembentukan karang, dan timbulnya bau mulut yang tidak sedap.
- Kondisi Mulut Kering (Xerostomia)
Air liur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mulut karena membantu membersihkan sisa makanan, menetralkan asam, dan menghambat pertumbuhan bakteri. Pada kondisi mulut kering atau xerostomia, produksi air liur berkurang secara signifikan yang menyebabkan mulut kehilangan mekanisme pembersihan alaminya.
Akibatnya, bakteri lebih mudah berkembang biak dan menyebabkan akumulasi plak serta peningkatan risiko pembentukan karang gigi. Mulut kering dapat disebabkan oleh faktor seperti dehidrasi, efek samping obat-obatan tertentu (seperti antihistamin atau antidepresan), penyakit autoimun seperti sindrom Sjögren, atau kebiasaan bernafas melalui mulut.
- Merokok
Merokok merupakan faktor risiko utama bagi kesehatan mulut dan gigi. Nikotin dan tar yang terkandung dalam rokok dapat mengganggu aliran air liur, membuat mulut lebih kering, serta mempercepat proses mineralisasi plak menjadi karang gigi.
Selain itu, zat kimia dalam rokok dapat menyebabkan perubahan warna gigi, membuatnya tampak kuning atau cokelat, serta memperlemah jaringan gusi. Perokok juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit periodontal, yang dapat menyebabkan kerusakan tulang penyangga gigi.
Sistem kekebalan tubuh perokok pun cenderung melemah, sehingga memperlambat proses penyembuhan jika terjadi infeksi gusi atau luka di mulut.
- Penggunaan Alat Ortodontik
Alat ortodontik seperti kawat gigi, retainer, atau aligner dapat mempersulit proses pembersihan gigi secara menyeluruh. Bracket, kawat, dan karet elastis dapat menjadi tempat menumpuknya sisa makanan dan plak jika tidak dibersihkan dengan benar. Area di sekitar kawat gigi sering kali sulit dijangkau oleh sikat gigi biasa, sehingga memerlukan alat bantu seperti sikat interdental atau benang gigi khusus ortodontik.
Jika kebersihan mulut tidak dijaga selama penggunaan alat ortodontik maka risiko terbentuknya karang gigi, gigi berlubang, dan peradangan gusi akan meningkat. Oleh karena itu, pemakai alat ortodontik dianjurkan untuk lebih disiplin dalam menjaga kebersihan mulut dan rutin melakukan pemeriksaan ke dokter gigi.
Dampak Kalkulus Gigi
Plak Gigi dapat memberikan dampak terhadap kesehatan gigi dan mulut secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa dampak yang bisa diberikan oleh Plak Gigi:
- Radang Gusi (Gingivitis)
Kalkulus pada gigi dapat menyebabkan gingivitis, ditandai dengan gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah saat menyikat gigi. Jika tidak diobati, kondisi ini dapat berkembang menjadi periodontitis yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi.
- Bau Mulut Kronis (Halitosis)
Kalkulus menjadi tempat berkumpulnya bakteri yang menghasilkan senyawa sulfur berbau tidak sedap dan menyebabkan bau mulut kronis.
- Pembentukan Plak Baru
Permukaan kasar kalkulus memudahkan penumpukan plak baru, memperburuk kesehatan mulut secara keseluruhan.
- Gigi Goyang atau Lepas
Pada kasus parah, kalkulus dapat merusak jaringan penyangga gigi, menyebabkan gigi goyang atau bahkan lepas.
- Komplikasi Kesehatan Sistemik
Penyakit periodontal yang disebabkan oleh kalkulus berhubungan dengan masalah kesehatan sistemik seperti penyakit jantung, diabetes, dan komplikasi kehamilan, karena bakteri dari infeksi mulut dapat memasuki aliran darah dan mempengaruhi organ lain.
Melihat dampak yang diberikan, penting untuk mengenali tanda-tanda keberadaan kalkulus. Namun, jika sudah terjadi, sangat disarankan untuk segera mengambil tindakan untuk mengatasinya guna mencegah komplikasi lebih lanjut.
Cara Mencegah Kalkulus Gigi
Pencegahan kalkulus dimulai dari menjaga kebersihan mulut yang baik. Berikut adalah beberapa langkah efektif yang dapat dilakukan:
- Menyikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride.
- Menggunakan benang gigi (flossing) untuk membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau sikat gigi.
- Mengurangi konsumsi makanan manis dan berkarbohidrat tinggi.
- Menggunakan obat kumur antibakteri untuk mengurangi jumlah bakteri di dalam mulut.
- Kunjungan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan untuk pemeriksaan dan pembersihan profesional.
Jika kalkulus sudah terbentuk, metode pembersihan biasa tidak akan efektif. Penghapusan kalkulus harus dilakukan oleh profesional gigi melalui prosedur scaling. Scaling sendiri adalah proses pembersihan kalkulus menggunakan alat manual atau ultrasonik yang menghasilkan getaran untuk memecah kalkulus.
Untuk kasus yang lebih parah, dokter gigi mungkin akan melakukan root planing. Prosedur ini bertujuan untuk menghaluskan permukaan akar gigi sehingga lebih sulit bagi plak untuk menempel kembali.
Setelah prosedur pembersihan, pasien biasanya dianjurkan untuk melakukan perawatan lanjutan di rumah. Ini contohnya seperti menjaga kebersihan mulut yang lebih intensif dan menggunakan produk perawatan gigi khusus.
Berikut adalah sedikit pembahasan mengenai kalkulus gigi. Kalkulus gigi bukan hanya masalah estetika gigi saja. Tetapi, kalkulus gigi juga merupakan ancaman nyata bagi kesehatan mulut dan tubuh secara keseluruhan.
Oleh sebab itu, pencegahan melalui perawatan mulut yang baik dan kunjungan rutin ke dokter gigi adalah kunci utama untuk menghindari komplikasi serius. Meskipun menjaga kebersihan mulut secara rutin di rumah sangat penting, perawatan gigi profesional tidak dapat diabaikan. Dokter gigi memiliki peralatan dan teknik yang dapat menghilangkan kalkulus dengan aman dan efektif. Pemeriksaan rutin juga memungkinkan deteksi dini masalah lain, seperti kerusakan gigi atau kanker mulut, yang mungkin tidak disadari pasien.
Selain itu, dokter gigi dapat memberikan saran yang dipersonalisasi mengenai perawatan mulut yang tepat sesuai kondisi masing-masing pasien. Ini termasuk pemilihan produk perawatan mulut yang sesuai dan teknik menyikat gigi yang benar.
Referensi:
Jepsen S, et al. (2017). Periodontal manifestations of systemic diseases and developmental and acquired conditions: Consensus report of workgroup 3 of the 2017 World Workshop on the Classification of Periodontal and Peri‐Implant Diseases and Conditions. Journal of Clinical Periodontology, 45(S20), S219–S229. https://doi.org/10.1111/jcpe.12951
Ditinjau oleh: drg. Brenda Regina Christy
Dokter gigi lulusan pendidikan Dokter Gigi Universitas Airlangga yang merupakan seorang Supervisor Dentist Human Capital di Damessa Dental Care.