
Rekap singkat!
- Gusi turun (resesi gingiva) dapat terjadi akibat kebiasaan menggosok gigi terlalu keras, malposisi gigi, atau peradangan pada jaringan periodontal.
- Penyebab lain gusi turun termasuk penyakit gusi, penggunaan behel, diabetes, merokok, dan tambalan atau crown yang tidak pas.
- Gusi yang sudah turun dapat dinaikkan kembali dengan perawatan ringan atau tindakan bedah seperti graft tulang untuk hasil yang maksimal.
Halo, Sahabat Damessa. Kalau membahas mengenai senyum yang ideal tentunya tidak hanya gigi yang perlu diperhatikan, tetapi juga jaringan lunak yang menyokong gigi bernama gusi. Namun terkadang, alih-alih penuh, tampak muncul gambaran segitiga hitam di sela-sela gigi yang makin lama kok makin turun, ya? Kira-kira gusi turun ini bisa dinaikkan lagi, nggak, sih? Simak pembahasannya di artikel berikut, ya, Sahabat Damessa.
Gusi Turun itu Apa, sih?
Gusi turun, atau dalam bahasa medis dikenal dengan resesi gingiva, merupakan kondisi ketika gusi berpindah ke arah bawah (pada rahang bawah) maupun ke arah atas (pada rahang atas) yang mengakibatkan terbukanya permukaan akar gigi. Sahabat Damessa tahu, nggak, sih, kalau angka kejadian resesi gingiva meningkat seiring bertambahnya usia? Studi menunjukkan demikian, lho! Terjadinya resesi gingiva ini juga tidak hanya pada pasien dengan kebersihan mulut yang buruk, lho, Sahabat Damessa sekalian, tetapi juga dapat terjadi pada mereka yang memiliki standar kebersihan mulut yang baik.

Hmm… Mengapa Gusi Turun ini Bisa Terjadi, ya?
Sahabat Damessa tahu nggak, sih, kalau resesi gingiva ini bisa terjadi akibat pengaruh mekanis secara langsung maupun secara tidak langsung akibat reaksi dari peradangan di dalam gusi. Pengaruh mekanis ini dapat berupa kebiasaan menggosok gigi yang terlalu keras, lho! Pemilihan bulu dan model sikat gigi menjadi hal yang penting dalam hal ini. Ketika model sikat gigi tidak sesuai dengan anatomi dari rongga mulut dan menggunakan bulu sikat yang terlampau kaku, maka turunnya gusi menjadi hal yang tak terelekkan. Di samping itu, fungsi sikat gigi untuk membersihkan plak yang membandel juga tidak tercapai. Umumnya hal ini tampak pada orang-orang dengan kebersihan mulut yang cukup baik. Selain itu, adanya malposisi, atau ketidaksesuaian gigi dalam lengkung rahang, juga bisa menyebabkan gusi menjadi turun. Di samping itu, tingginya frenulum juga menyebabkan kesulitan dalam menjaga kebersihan rongga mulut dan menyebabkan gusi menjadi turun.
Baca juga: Anda Mengalami Gusi Bengkak? Kira-kira Kenapa Ya?

Nah, bila tadi kita membahas mengenai bagaimana pengaruh mekanis, sekarang kita beranjak ke pengaruh secara tidak langsung yang diakibatkan oleh peradangan dalam gusi, yuk! Adanya penyakit pada jaringan penyangga gigi (jaringan periodontal) merupakan salah satu hal yang menyebabkan terjadinya penurunan gusi, lho! Ketika terjadi kerusakan pada jaringan periodontal, gigi akan kehilangan dukungan dari tulang yang menyokong di sekitarnya dan terjadi proses peradangan pada gusi. Proses ini memang tidak tampak secara kasat mata, nih, Sahabat Damessa, tetapi bila diamati dengan mata telanjang akan tampak adanya penurunan gusi pada daerah tersebut. Selain itu, permukaan dari tambalan yang kurang halus, posisi crown yang kurang fit, dan adanya kelebihan dari tambalan pada gigi juga mampu menjadi tempat melekatnya plak. Ketika plak-plak ini terus berkumpul dan tidak dibersihkan dengan menyeluruh, maka akan berujung pada menurunnya gusi di daerah tersebut. Studi juga menunjukkan, bahwa pergerakan gigi akibat penggunaan behel, adanya penyakit sistemik seperti diabetes, dan kebiasaan merokok juga mampu menjadi penyebab penurunan gusi, lho, kawan-kawan!
Lalu, Bisakah Gusi yang Sudah Terlanjur Turun ini Dinaikkan Kembali?
Jawabannya tentu saja bisa, dong, Sahabat Damessa! Ada beberapa perawatan yang bisa diberikan untuk ‘menaikkan’ gusi yang sudah melorot ini. Perawatan pertama yang diberikan adalah menghilangkan faktor pencetus terjadinya gusi turun. Dokter gigi umum maupun dokter gigi spesialis periodonsia nantinya akan menyarankan untuk mengganti sikat gigi dengan bulu yang lebih halus dan pasta gigi yang tidak abrasif. Apabila ternyata gusi turun ini disebabkan karena adanya akhiran tambalan yang kurang halus maupun crown yang kurang fit, nantinya akan diperbaiki supaya tidak terjadi penumpukan plak pada daerah tersebut. Namun, bila ternyata gusi yang turun ini sudah terlalu parah, maka tindakan bedah akan disarankan. Tindakan bedah untuk jaringan periodontal ini biasanya akan dikombinasikan dengan bone graft untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Kalau Sahabat Damessa mulai merasa gusinya makin turun, ngilu, atau terlihat ‘panjang sebelah’, segera konsultasikan ke dokter, ya! Dokter gigi akan bantu menentukan apakah cukup dengan perawatan ringan atau perlu tindakan khusus. Sahabat Damessa juga nggak perlu bingung harus perawatan dimana karena di Klinik Damessa, semua spesialis tersedia.
Jangan lupa ikuti akun Instagram @damessa.dentalclinic untuk tips kesehatan lainnya. Ingat, gusi sehat itu pondasi senyum yang indah. Yuk, jaga gusimu supaya tetap kuat dan nggak ‘melorot’!
Referensi:
- Imber, J.-C., & Kasaj, A. (2021). Treatment of gingival recession: When and how? International Dental Journal, 71(3), 178–187. doi:10.1111/idj.12617
- Patel, M., Nixon, P. J., & Chan, M. F. (2011). Gingival recession: Part 1. Aetiology and non-surgical management. British Dental Journal, 211(6), 251–254. doi:10.1038/sj.bdj.2011.764
- Patel, M., Nixon, P. J., & Chan, M. F. (2011). Gingival recession: Part 2. surgical management using pedicle grafts. British Dental Journal, 211(7), 315–319. doi:10.1038/sj.bdj.2011.821
- Takei, H. H., Scheyer, E. T., Azzi, R. R., Allen, E. P., & Han, T. J. (2024). Periodontal Plastic and Esthetic Surgery. In Newman and Carranza’s Clinical Periodontology and Implantology (14th ed., pp. 775–778). Canada: Elsevier.