
Rekap singkat!
- Perubahan gusi dan gigi pada ibu hamil terjadi karena perubahan hormon yang dapat menyebabkan radang gusi, gigi berlubang, dan masalah lainnya.
- Pentingnya menjaga kesehatan rongga mulut selama kehamilan dengan menyikat gigi dua kali sehari, berkumur, dan melakukan pemeriksaan rutin.
- Pergi ke dokter gigi saat hamil diperbolehkan, terutama pada trimester kedua, namun dengan perhatian khusus pada trimester pertama dan ketiga untuk mengurangi risiko.
Masa kehamilan merupakan masa yang ditunggu-tunggu terutama untuk para bunda. Namun terkadang, masalah kesehatan gigi dan mulut juga turut menyertai di momen bahagia ini. Lantas apa saja sebenarnya masalah kesehatan gigi dan mulut ini? Mengapa bisa terjadi? Bagaimana cara mencegahnya? Dan apakah permasalahan ini bisa menyebabkan terjadinya butterfly effect pada janin? Simak penjelasan lengkapnya pada artikel ini ya, bunda!
Perubahan pada Gusi
Pada wanita hamil, keseimbangan hormon dalam tubuhnya akan mengalami perubahan. Adanya plasenta dalam tubuh wanita hamil menyebabkan tingginya produksi kadar hormon estrogen dan progesteron selama masa kehamilan, sehingga banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan di dalam tubuh ibu hamil ini. Salah satunya adalah peningkatan rasa sensitif yang terlalu berlebihan terhadap suatu iritasi pada gusi. Pada ibu hamil perubahan yang paling umum dan sering tampak adalah radang gusi (gingivitis) dan epulis gravidarum, yang lebih banyak dikenal dengan sebutan tumor pada masa kehamilan. Epulis gravidarum umumnya terjadi pada bulan kedua dan mencapai puncaknya pada bulan kedelapan, serta sembuh secara spontan setelah melahirkan. Namun, bila ternyata tidak hilang secara spontan maka operasi pengangkatan direkomendasikan. Operasi ini bisa menggunakan metode konvensional maupun laser, yang mana bila menggunakan laser mampu memberikan hasil yang lebih nyaman bagi pasien dikarenakan adanya kecenderungan untuk berdarah dari epulis gravidarum. Namun, perlu diperhatikan bahwa bila epulis gravidarum ini tidak mengganggu proses pengunyahan ibu hamil dan tidak berdarah secara berlebihan, maka pergi ke dokter gigi saat hamil untuk perawatan tidak perlu dilakukan.

Bunda-bunda tahu nggak, sih, bagaimana hormon yang meningkat tadi bisa menyebabkan radang gusi? Jadi, ketika hormon progesteron meningkat dalam aliran darah maka kemampuan pembuluh darah untuk memungkinkan lewatnya cairan, protein, dan zat lainnya ke jaringan di sekitarnya juga meningkat, sehingga dari luar akan tampak gusi para bunda yang sedang hamil lebih merah, seperti buah stroberi, terkadang disertai dengan perdarahan dan bahkan rasa nyeri. Selain meningkatnya hormon progesteron, rendahnya vitamin C juga dicurigai sebagai salah satu penyebab terjadinya radang gusi pada masa kehamilan. Studi juga menunjukkan bahwa, ibu hamil yang mengalami kehilangan perlekatan pada gusi akibat penurunan tulang pada jaringan pendukung gigi memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki jaringan pendukung gigi yang sehat.
Perubahan pada Gigi
Banyak informasi yang mengatakan bahwa jumlah gigi berlubang meningkat selama masa kehamilan. Begitu pula dengan jumlah gigi yang lepas serta rasa nyeri akibat gigi berlubang tersebut. Namun nyatanya, tidak ada bukti secara saintifik yang menyebutkan jika perubahan jumlah gigi selama hamil disebabkan oleh janin yang membutuhkan kalsium untuk pertumbuhannya. Alih-alih demikian, studi justru menunjukkan bahwa sebanyak 70% wanita hamil mengalami mual dan muntah yang turut serta menjadi filler aktivitas dalam tubuh yang tak terelakkan. Aktivitas muntah ini mampu memengaruhi kondisi rongga mulut berupa erosi pada lapisan terluar dari gigi (enamel) ibu hamil. Apabila ibu hamil tidak memberikan perhatian yang cukup kepada kondisi rongga mulutnya, dan tidak dibersihkan dengan baik, maka lingkungan asam akan terbentuk dalam rongga mulutnya. Permasalahan-permasalahan yang timbul dalam rongga mulut ketika masa kehamilan, selain yang telah disebutkan tadi, di antaranya:
- Saat trimester awal kehamilan, beberapa ibu mungkin ngidam makanan-makanan tertentu, terutama yang banyak mengandung karbohidrat, dan terkadang lupa untuk membersihkan gigi setelah memakan makanan yang diidamkan.
- Gusi ibu hamil cenderung lebih mudah berdarah ketika menyikat gigi dikarenakan adanya perubahan hormon dalam tubuh, sehingga cenderung menghindari aktivitas ini. Hal ini berdampak pada meningkatnya plak bakteri dalam rongga mulut.
- Menurunnya laju aliran air liur (saliva), sehingga mampu meningkatkan pembentukan karies (gigi berlubang).
Pun setelah melahirkan, terkadang para bunda masih tak luput dari penyakit pada rongga mulut. Hal ini bisa saja terjadi dikarenakan ibu cenderung mengabaikan kesehatan rongga mulut mereka demi mengasuh buah hati, sehingga akan terjadi penurunan kualitas kesehatan rongga mulut.
Baca juga: Yuk Kenali Tanda dan Gejala Gingivitis yang Harus Diwaspadai!
Tata Cara Menjaga Kesehatan Rongga Mulut selama Masa Kehamilan
Kombinasi dari perawatan secara personal dan profesional ketika masa kehamilan merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga kesehatan rongga mulut bunda-bunda sekalian, di antaranya:
- Rajin menggosok gigi dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur, serta menggunakan benang gigi (dental floss).
- Berkumur dengan obat kumur atau air garam hangat untuk mengurangi sensitivitas pada gusi dan membuat gusi lebih rileks.
- Melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada rongga mulut sebelum masa kehamilan untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan rongga mulut yang menyeluruh dan optimal serta menjaga kebiasaan tersebut selama masa kehamilan.
Lantas, Bolehkah Pergi ke Dokter Gigi saat Hamil?
Pergi ke dokter gigi saat hamil tentu saja diperbolehkan! Akan tetapi, perlu digaris bawahi bahwa perawatan kedokteran gigi pada trimester pertama harus dihindari. Hal ini bukan tanpa alasan, trimester pertama kehamilan merupakan masa yang penting bagi janin para bunda karena sedang berada pada fase yang disebut organogenesis (pembentukan organ). Intervensi yang tidak diperlukan bisa mengarah ke kemungkinan terburuk berupa aborsi. Begitu pula pada trimester ketiga. Dikarenakan perut yang makin membesar, ke dokter gigi saat hamil dapat menjadi tantangan karena ibu hamil kerap kesulitan memposisikan tubuhnya di dental chair. Selain itu, duduk terlalu lama di dental chair mampu menyebabkan terjadinya supine hypotensive syndrom yang mana aliran darah kembali ke jantung dan tekanan darah mengalami penurunan. Hal ini bisa menyebabkan gejala seperti mual, pusing, muntah, hingga pingsan.
Lantas, pada trimester ke berapa ibu hamil aman untuk menjalani perawatan ke dokter gigi saat hamil? Umumnya, pada trimester kedua ibu hamil diperbolehkan untuk melakukan tindakan kedokteran gigi, seperti tambal gigi, cabut gigi, hingga perawatan saluran akar. Meski demikian, pada kasus-kasus kegawatdaruratan seperti radang pada gigi dan gusi yang parah, yang mana infeksinya bisa berpengaruh terhadap kesehatan bayi, tindakan kedokteran gigi bisa dilaksanakan atas persetujuan dokter obgyn.
Nah, mulai sekarang yuk bunda-bunda sekalian periksakan kesehatan gigimu ke Damessa sebelum memutuskan untuk memulai masa kehamilan dan lindungi buah hati dari hal-hal yang tidak diinginkan. Jangan lupa cek Instagram @damessa.dentalclinic untuk informasi terbaru lainnya!
Referensi:
- Besas P, Chatzopoulou D, Ryan P, Gillam DG. (2018). Surgical Excision of An Epulis: Case Report. Adv Dent & Oral Health, 9(4): 555770.
- Yenen, Z., & Ataçağ, T. (2019). Oral care in pregnancy. Journal of the Turkish German Gynecological Association, 20(4), 264–268. https://doi.org/10.4274/jtgga.galenos.2018.2018.0139