Gigi susu berperan penting dalam perkembangan anak, baik untuk mengunyah makanan, berbicara dengan jelas, maupun menjaga posisi gigi tetap untuk gigi permanen yang akan tumbuh. Biasanya, gigi susu mulai tanggal satu per satu sejak usia 6 tahun dan sepenuhnya digantikan oleh gigi permanen pada usia 12-13 tahun. 

Namun, ada kondisi di mana gigi susu tak kunjung lepas meskipun gigi permanen sudah mulai tumbuh. Kondisi ini disebut dengan persistensi gigi susu. Jika dibiarkan, persistensi gigi bisa berdampak buruk pada susunan gigi dan kesehatan mulut anak. Yuk, kenali lebih lanjut tentang kondisi ini agar Anda dapat mengambil tindakan yang tepat!

Apa itu Persistensi Gigi Susu?

Persistensi gigi susu adalah kondisi di mana gigi susu tetap bertahan dan tidak tanggal sesuai jadwal normalnya, meskipun gigi permanen penggantinya sudah mulai tumbuh atau bahkan sudah sepenuhnya tumbuh. Akibatnya, gigi permanen bisa tumbuh di posisi yang tidak seharusnya, sehingga menyebabkan susunan gigi menjadi tidak rapi atau berjejal.

Kondisi ini sering kali tidak disadari oleh orang tua, terutama jika gigi permanen tetap tumbuh tanpa menyebabkan rasa sakit atau keluhan berarti. Namun, jika tidak ditangani, persistensi gigi bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak di kemudian hari.

Penyebab Persistensi Gigi Susu

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan persistensi gigi susu pada anak, antara lain:

1. Tidak Adanya Gigi Permanen Pengganti

Beberapa anak terlahir tanpa benih gigi permanen (hipodonsia), sehingga gigi susu tidak memiliki dorongan alami untuk tanggal.

2. Pertumbuhan Gigi Permanen yang Tidak Normal

Gigi permanen yang tumbuh dalam posisi miring atau tidak pada jalur seharusnya dapat menyebabkan gigi susu tetap bertahan.

3. Akar Gigi Susu Belum Sepenuhnya Resorpsi (hancur)

Normalnya, akar gigi susu akan mengalami resorpsi sebelum tanggal. Jika proses ini terganggu, gigi susu bisa tetap bertahan di tempatnya.

4. Kelainan atau Gangguan Pertumbuhan Gigi

Beberapa kondisi medis tertentu, seperti gangguan hormon atau faktor genetik dapat menyebabkan keterlambatan pergantian gigi susu ke gigi permanen.

Dampak Persistensi Gigi Susu

Jika dibiarkan tanpa penanganan, persistensi gigi susu bisa menimbulkan beberapa masalah, seperti:

  • Gigi berjejal: Akibat gigi susu tetap bertahan, gigi permanen yang seharusnya tumbuh di tempatnya malah tumbuh di posisi yang tidak tepat.
  • Gangguan gigitan: Susunan gigi yang tidak rapi dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam mengunyah makanan dengan benar.
  • Meningkatkan risiko gigi berlubang: Posisi gigi yang berjejal membuat pembersihan gigi menjadi lebih sulit, sehingga lebih rentan terhadap plak dan karies.
  • Masalah estetika dan percaya diri: Anak bisa merasa tidak nyaman atau kurang percaya diri akibat susunan gigi yang tidak rapi.
  • Gangguan pertumbuhan rahang: Gigi yang tidak teratur bisa mempengaruhi perkembangan rahang anak, menyebabkan masalah ortodontik di masa depan.

Cara Mengatasi Persistensi Gigi Susu

Jika Anda melihat ada gigi susu yang tetap bertahan meskipun gigi permanen sudah mulai tumbuh, segera konsultasikan ke dokter gigi. Berikut beberapa cara penanganannya:

1. Pemeriksaan Gigi Secara Rutin

Melakukan pemeriksaan gigi anak setiap enam bulan sekali sangat penting untuk mendeteksi masalah sejak dini. Dokter gigi akan mengevaluasi pertumbuhan gigi anak dan menentukan apakah ada persistensi gigi susu.

2. Pencabutan Gigi Susu

Jika gigi susu tetap bertahan dan menyebabkan masalah, dokter gigi biasanya akan melakukan pencabutan gigi untuk memberi ruang bagi gigi permanen tumbuh dengan baik.

3. Perawatan Ortodontik (Behel Gigi)

Jika gigi permanen tumbuh di posisi yang salah akibat persistensi gigi susu, dokter mungkin merekomendasikan pemasangan behel gigi untuk merapikan susunan gigi.

4. Perawatan Tambahan

Jika ditemukan adanya kelainan pertumbuhan gigi permanen atau tidak adanya benih gigi, dokter gigi dapat menyarankan berbagai solusi seperti pemasangan gigi palsu atau perawatan lainnya.

Pencegahan Persistensi Gigi Susu

Meskipun persistensi gigi susu sering kali sulit dicegah karena faktor genetik atau kelainan gigi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mendukung pergantian gigi yang sehat:

  • Rutin memeriksakan gigi anak ke dokter gigi sejak dini.
  • Menjaga kebersihan gigi anak dengan mengajarkan cara menyikat gigi yang benar.
  • Memberikan makanan bergizi yang kaya kalsium dan vitamin D untuk mendukung pertumbuhan gigi dan tulang yang kuat.
  • Menghindari kebiasaan buruk seperti menggigit benda keras atau menghisap jempol yang bisa mengganggu pertumbuhan gigi.

Persistensi gigi susu adalah kondisi yang perlu diwaspadai oleh orang tua agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang pada kesehatan gigi anak. Berkat memahami penyebab, dampak, serta cara mengatasi dan mencegahnya, Anda dapat membantu anak memiliki susunan gigi yang sehat dan rapi. Pemeriksaan rutin ke dokter gigi adalah langkah terbaik untuk mendeteksi masalah sejak dini.

Jangan biarkan persistensi gigi susu mengganggu pertumbuhan gigi si kecil! Segera periksakan kesehatan giginya ke Klinik Gigi Damessa untuk konsultasi dan perawatan terbaik. Tim dokter gigi profesional kami siap membantu memastikan gigi anak tumbuh sehat dan rapi. Buat janji sekarang dan berikan yang terbaik untuk kesehatan gigi si kecil!

Referensi:

Al-Jewair TS, et al. (2010). Management of persistent primary teeth in orthodontics: a case report and review. Journal of the Canadian Dental Association, 76, a115. https://jcda.ca/article/a115

Ditinjau oleh: drg. Brenda Regina Christy

Dokter gigi lulusan pendidikan Dokter Gigi Universitas Airlangga yang merupakan seorang Supervisor Dentist Human Capital di Damessa Dental Care.