Sering tergigit bibir atau lidah saat makan akibat maloklusi gigi

Ringkasan Singkat!

  • Bibir atau lidah sering tergigit bisa menjadi tanda maloklusi gigi
  • Posisi gigi dan rahang yang tidak seimbang membuat jaringan lunak mudah terjepit
  • Overjet, deep bite, open bite, dan crowding sering menjadi penyebab
  • Kondisi ini dapat menimbulkan luka berulang dan sariawan kronis

Pernah lagi makan santai, tiba-tiba bibir atau lidah sendiri yang tergigit? Kalau hanya sesekali, itu masih wajar. Tapi kalau kejadian ini sering terulang, bahkan sampai menimbulkan sariawan yang tidak sembuh-sembuh, bisa jadi ini bukan soal ceroboh saat makan. Dalam banyak kasus, sering tergigit bibir atau lidah sebenarnya sedang memberi sinyal bahwa pola gigitan (oklusi) tidak bekerja secara ideal. Kondisi inilah yang dalam kedokteran gigi disebut maloklusi.

Baca juga: Yuk, Kenali Macam-macam Maloklusi dan Cegah Sebelum Terlambat

Penyebab Maloklusi atau Sering Tergigit Bibir atau Lidah

Sering tergigit bibir atau lidah adalah hal normal. Namun jika sering terjadi, penyebabnya biasanya bukan refleks yang buruk, melainkan ketidakseimbangan antara posisi gigi, rahang, dan otot mulut. Dalam kondisi gigitan ideal, bibir, pipi, dan lidah berada di “zona aman” saat rahang menutup. Ketika susunan gigi berubah, jaringan lunak ini bisa ikut terselip di antara gigi.

Berikut adalah penjelasan dari faktor yang memicu kondisi sering tergigit bibir atau lidah:

1. Gigi Depan Terlalu Maju atau Terlalu Mundur

Kondisi ini sering dikenal dengan istilah overbite atau underbite, tergantung pada apakah gigi depan terlalu maju atau terlalu mundur. Ketika gigi depan terlalu maju (overbite), bibir bawah cenderung lebih mudah terjepit. Sebaliknya, jika gigi depan terlalu mundur (underbite), bibir atas bisa terjepit ke belakang. Hal ini dapat menyebabkan gangguan dalam posisi normal bibir dan mulut, yang pada gilirannya bisa mempengaruhi cara seseorang berbicara, makan, dan bernapas.

2. Gigi Berjejal (Crowding)

Gigi berjejal atau crowding terjadi ketika ada terlalu banyak gigi dalam ruang mulut yang terbatas, membuat gigi tidak memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dengan benar. Kondisi ini menyebabkan gigi saling bertumpukan atau berdesakan, sehingga mempersempit ruang yang tersedia untuk lidah yang menyebabkan sering tergigit bibir atau lidah. Ketika lidah kekurangan ruang, ini bisa mempengaruhi posisi lidah saat berbicara atau menelan, serta berpotensi menyebabkan masalah lainnya, seperti gangguan pada saluran napas atau kebiasaan oral yang tidak sehat.

3. Gigitan Terbuka (Open Bite)

Gigitan terbuka adalah kondisi di mana gigi atas dan bawah tidak saling bersentuhan ketika mulut ditutup, menciptakan celah terbuka di antara keduanya. Kondisi ini sering menyebabkan lidah terdorong ke area gigi ketika seseorang sedang berbicara atau menelan. Akibatnya, lidah bisa menekan gigi secara berlebihan, yang dapat menyebabkan masalah perkembangan gigi dan bahkan perubahan pada bentuk wajah dan dapat menyebabkan sering tergigit bibir atau lidah. Gigitan terbuka juga dapat mempengaruhi kemampuan mengunyah dengan efektif.

4. Gigitan Silang (Crossbite)

Gigitan silang adalah kondisi di mana gigi atas dan bawah tidak sejajar dengan benar ketika mulut ditutup. Pada gigitan silang, beberapa gigi bawah terletak di luar gigi atas, yang menyebabkan jalur kunyah menjadi tidak simetris. Kondisi ini dapat dapat menyebabkan sering tergigit bibir atau lidah, serta dapat menyebabkan ketegangan pada otot wajah dan rahang. Gigitan silang yang tidak diobati bisa berakibat pada masalah jangka panjang, seperti ketidakseimbangan wajah atau kerusakan gigi.

5. Kebiasaan Oral yang Tidak Sehat

Kebiasaan oral yang tidak sehat, seperti mengisap jari, menggigit bibir, atau tongue thrust, dapat berkontribusi pada masalah gigi dan mulut. Tongue thrust adalah kebiasaan di mana lidah terdorong ke depan saat menelan, yang dapat mempengaruhi posisi gigi dan menyebabkan perubahan pada rahang dan struktur mulut. Kebiasaan seperti ini, jika dilakukan dalam jangka panjang, bisa menyebabkan perubahan pada susunan gigi dan rahang, serta meningkatkan risiko gangguan lainnya, seperti sering tergigit bibir atau lidah atau masalah estetika pada senyum.

Maloklusi bisa terjadi sejak masa kanak-kanak, tetapi juga dapat muncul di usia dewasa, misalnya setelah kehilangan gigi geraham, adanya tambalan terlalu tinggi, atau dorongan dari gigi bungsu.

Hubungan Sering Tergigit Bibir atau Lidah dengan Kebiasaan “Self-Biting

Dalam dunia ortodonti, sering tergigitnya bibir, lidah, atau pipi bagian dalam termasuk tanda disfungsi oklusal. Ketika hubungan gigi tidak presisi, tubuh kesulitan menemukan posisi gigitan yang stabil. Beberapa pola yang sering dijumpai:

  • Bibir bawah sering tergigit. Umumnya terkait dengan overjet (gigi atas terlalu maju) atau deep bite (gigitan terlalu dalam). Bibir bawah mudah terperangkap saat rahang menutup.
  • Lidah sering tergigit saat makan. Sering terjadi pada kondisi crowding, open bite, atau crossbite, ketika lidah mencari ruang yang stabil namun justru masuk ke area gigitan.
  • Pipi bagian dalam sering tergigit. Biasanya berhubungan dengan gigitan tidak simetris, kebiasaan mengatupkan gigi kuat (clenching), atau bruxism saat tidur.

Jika dibiarkan, kondisi ini bukan hanya menimbulkan rasa nyeri, tetapi juga luka dan sariawan berulang, penebalan jaringan pipi (keratosis), perubahan pola makan karena takut tergigit, dan rasa tidak nyaman saat berbicara atau mengunyah.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Penanganan maloklusi, atau sering tergigit bibir atau lidah, sangat bergantung pada penyebab utama yang mendasari kondisi tersebut. Tidak semua kasus memerlukan perawatan menggunakan behel (braces), tetapi untuk kasus maloklusi kronis, perawatan ortodonti sering kali memberikan hasil yang signifikan. 

Berikut adalah beberapa cara umum yang digunakan dalam menangani maloklusi:

1. Behel atau Aligner

Perawatan ortodonti adalah metode yang paling sering digunakan untuk mengatasi masalah maloklusi. Dengan menggunakan alat seperti behel atau aligner, posisi gigi dapat diperbaiki, serta jalur gigitan dapat dipulihkan ke posisi yang lebih alami. Proses ini umumnya memerlukan waktu beberapa bulan hingga tahun, tergantung pada tingkat keparahan maloklusi dan respons gigi terhadap perawatan.

  • Behel (Braces): Behel adalah alat ortodontik tradisional yang digunakan untuk meratakan gigi dan memperbaiki gigitan yang tidak tepat. Behel bekerja dengan memberikan tekanan pada gigi untuk menggesernya ke posisi yang lebih baik.
  • Aligner: Sebagai alternatif behel, aligner adalah pelat transparan yang dapat dilepas dan dipasang kembali. Aligners bekerja dengan cara yang lebih nyaman dan estetis, serta lebih disukai oleh banyak orang dewasa yang membutuhkan perawatan ortodonti.

2. Terapi Myofunctional untuk Kebiasaan Tongue Thrust

Tongue thrust adalah kebiasaan memasukkan lidah ke depan gigi saat berbicara atau menelan, yang dapat mempengaruhi posisi gigi dan struktur mulut secara keseluruhan. Terapi myofunctional adalah pendekatan yang digunakan untuk mengatasi kebiasaan ini dan melatih lidah agar berada pada posisi yang tepat.

Terapi ini melibatkan latihan-latihan khusus yang dirancang untuk mengubah kebiasaan otot wajah dan lidah, yang pada akhirnya dapat membantu memperbaiki posisi gigi dan gigitan. Terapi ini biasanya disarankan bagi anak-anak atau individu dengan kebiasaan lidah yang kuat dan bertahan lama.

3. Penyesuaian Restorasi Gigi

Jika Anda memiliki tambalan atau mahkota yang terlalu tinggi atau tidak rata, hal ini bisa menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu posisi gigi dan gigitan. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah penyesuaian tambalan atau mahkota, sehingga gigitan bisa kembali rata dan nyaman.

  • Tambalan: Dalam beberapa kasus, tambalan yang tidak tepat dapat menyebabkan gangguan pada gigitan. Penyesuaian tambalan dilakukan untuk memastikan bahwa gigi dapat mengunyah dengan efisien dan nyaman.
  • Crown: Jika mahkota gigi terlalu tinggi atau tidak pas, hal ini dapat menyebabkan maloklusi. Penyesuaian mahkota dilakukan oleh dokter gigi untuk memperbaiki kecocokan dan memastikan gigitan yang lebih alami.

4. Pelindung Mulut untuk Kebiasaan Menggigit

Pada beberapa individu, kebiasaan menggigit pipi, lidah, atau gigi saat tidur dapat menyebabkan maloklusi atau kerusakan gigi dalam jangka panjang. Penggunaan pelindung mulut atau night guard adalah solusi yang efektif untuk mengurangi dampak kebiasaan tersebut.

Pelindung mulut ini berfungsi untuk melindungi gigi dari gesekan dan tekanan yang dapat merusak enamel gigi atau menyebabkan perubahan posisi gigi. Night guard biasanya disarankan untuk pasien yang memiliki kebiasaan menggertakkan gigi atau bruxism, serta mereka yang sering menggigit pipi atau lidah saat tidur.

5. Edukasi Kebiasaan yang Mempengaruhi Posisi Gigi

Selain perawatan medis dan ortodontik, mengubah kebiasaan yang mempengaruhi posisi gigi juga sangat penting. Beberapa kebiasaan buruk seperti menggigit bibir, kuku, atau memberi tekanan pada gigi depan dengan lidah dapat memperburuk maloklusi.

  • Mengurangi kebiasaan menggigit bibir dan kuku: Kebiasaan menggigit bibir atau kuku bisa menyebabkan tekanan yang tidak merata pada gigi, yang lama kelamaan dapat menyebabkan gangguan pada posisi gigi. Mengurangi kebiasaan ini dapat mencegah terjadinya maloklusi lebih lanjut.
  • Tekanan lidah pada gigi depan: Kebiasaan memberi tekanan berlebihan pada gigi depan dengan lidah juga bisa memengaruhi posisi gigi. Edukasi dan terapi myofunctional sangat penting untuk membantu mengatasi kebiasaan ini.

Selama masa penyembuhan luka, dokter juga bisa menyarankan penyesuaian tekstur makanan agar tidak memperparah iritasi.

Jangan Anggap Sepele Jika Terjadi Berulang!

sering tergigit bibir atau lidah bukan sekadar kurang fokus saat makan. Ini bisa menjadi tanda bahwa gigitan tidak bekerja sebagaimana mestinya. Dengan evaluasi yang tepat, kondisi ini umumnya bisa diperbaiki dan kualitas hidup pasien meningkat sehingga makan jadi lebih nyaman, tanpa rasa cemas tergigit lagi!

Di Klinik Gigi Damessa, dokter gigi berpengalaman akan mengevaluasi hubungan gigi, rahang, dan kebiasaan mulut secara menyeluruh untuk mencari penyebab sering tergigitnya bibir atau lidah. Dengan pendekatan yang tepat, perawatan dapat disesuaikan agar nyaman dan efektif.

Jika kamu sering mengalami luka berulang di mulut, jangan tunggu makin parah. Yuk, konsultasikan kondisi gigitanmu di Klinik Gigi Damessa dan makan kembali dengan nyaman tanpa rasa takut.

Referensi: 

  • C, Melou, et al. “Relationship between Occlusal Factors, Oral Parafunctions and Temporomandibular Disorders: A Case Control Study.” International Journal of Dentistry and Oral Health, vol. 5, no. 4, 2019, https://doi.org/10.16966/2378-7090.295. Accessed 20 Oct. 2022.
  • Topal, Refika. “Impact of Malocclusion on Oral Health-Related Quality of Life (OHRQoL) Using the Oral Health Impact Profile (OHIP-14).” Journal of Medical and Dental Investigations, vol. 4, 31 Dec. 2023, p. e230354, https://doi.org/10.5577/jomdi.e230354. Accessed 12 Oct. 2024.