Rekap singkat!

  • Cedera gigi pada anak bisa berdampak panjang, mulai dari infeksi gigi, perubahan warna pada gigi, sampai gangguan tumbuh kembang benih gigi permanen di bawahnya.
  • Pertolongan pertama yang sering salah dilakukan saat gigi anak patah adalah gigi dibuang begitu saja, membersihkan luka terlalu agresif, dan asal mengoleskan obat.
  • Perawatan gigi patah di dokter gigi dapat berupa menempelkan kembali fragmen, menambal gigi, perawatan saluran akar, dan melakukan splinting.

Anak jatuh saat tengah berlari, bermain sepeda, atau terpeleset itu adalah hal yang biasa. Namun, ketika jatuh membuat gigi anak patah, maka situasinya berbeda ya Bunda! Cedera gigi pada anak, baik pada gigi susu maupun permanen bisa berdampak panjang, mulai dari infeksi gigi, perubahan warna pada gigi, sampai gangguan tumbuh kembang benih gigi permanen di bawahnya. Masalahnya, banyak orang tua yang masih menganggap gigi anak patah itu ‘biasa saja’ sehingga pertolongan pertama yang diberikan sering tidak tepat.

Pertolongan Pertama yang Sering Salah Dilakukan

Berikut ini adalah beberapa pertolongan pertama yang sering salah dilakukan ketika gigi anak patah karena jatuh.

1. Bagian Gigi yang Patah Dibuang Begitu Saja

Potongan gigi yang patah sering kali langsung dibuang karena dianggap tidak berguna. Padahal, patahan kecil sekali pun bisa dipasang kembali selama masih disimpan dengan baik dan benar. Kamu bisa menyimpan fragmen (patahan) pada cairan seperti susu steril, saline, atau wadah kecil berisi sedikit air bersih. Intinya, jangan sampai gigi dibiarkan mengering.

2. Membersihkan Luka Terlalu Agresif

Melihat darah membuat orang tua spontan ingin membersihkan bekas luka. Namun, menggosok area yang cedera dengan tisu atau kain bisa memperparah pendarahan, merusak jaringan, dan membawa bakteri masuk. Cara yang benar justru jauh lebih sederhana. Kamu bisa menekan lembut bekas luka dengan kasa atau kain bersih yang sudah dibasahi. Berikan kompres dingin di bagian luar pipi untuk mengurangi bengkak akibat jatuh.

3. Kumur Terlalu Kuat sehingga Memperburuk Cedera

Niat awal ingin menghilangkan darah atau sisa tanah supaya keadaan lebih baik, tapi berkumur terlalu kuat justru bisa menggeser pembekuan darah, memperbesar luka, bahkan membuat patahan tambahan pada gigi. Cukup ajak anak berkumur pelan dengan air hangat. Kalau anak masih kecil dan tidak bisa berkumur, membersihkan luka dengan cotton bud basah secara lembut dapat menjadi opsi lain yang aman.

4. Mengira Gigi Susu Patah Bukan Masalah

Banyak orang tua berpikir, “Ah, nanti juga tumbuh lagi”. Padahal, gigi susu yang patah bisa menyebabkan nyeri hebat, infeksi, atau abses gigi. Hal ini terjadi karena akar gigi susu sangat dekat dengan benih gigi permanen sehingga trauma dapat mengganggu pertumbuhan gigi tetap nantinya. Artinya, gigi susu yang patah tetap harus ditangani dengan serius, ya!

5. Mengoleskan Obat atau Cairan Asal-asalan

Beberapa orang tua mencoba meneteskan minyak, salep luka, bahkan alkohol ke area yang patah. Cara ini sangat berbahaya karena dapat mengiritasi pulpa (saraf), memperparah peradangan, dan meningkatkan risiko infeksi gigi. Area gigi yang patah tidak boleh dioleskan obat apa pun tanpa anjuran dokter.

Baca juga: Harga Perawatan Saluran Akar Gigi: Prosedur, Estimasi Biaya, dan Faktor Penentu

Perawatan Gigi Anak Patah Saat Dibawa ke Dokter Gigi

Dalam kasus gigi anak patah, waktu itu sangat penting. Idealnya, anak dibawa ke dokter gigi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam untuk penanganan terbaik. Berikut ini bentuk perawatan yang dapat dilakukan oleh dokter gigi.

1. Menempelkan Kembali Fragmen

Jika gigi anak patah dan fragmennya masih ada, dokter dapat mencoba untuk menempelkan kembali fragmen tersebut. Proses ini membantu mengembalikan bentuk gigi yang hilang dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada struktur gigi. Penempelan ini dilakukan dengan bahan yang aman dan kuat agar fragmen gigi tetap terpasang dengan baik.

2. Menambal dengan Komposit

Jika fragmen gigi tidak bisa ditemukan, dokter bisa menambal gigi yang patah dengan bahan komposit. Komposit adalah bahan resin yang dapat meniru warna gigi asli dan digunakan untuk mengisi bagian yang hilang. Penambalan ini akan memperbaiki tampilan dan fungsi gigi yang patah tanpa mengganggu kesehatan gigi lainnya.

3. Menilai Kondisi Saraf Gigi

Dokter juga akan menilai apakah saraf gigi terkena dampak dari trauma yang terjadi. Jika saraf gigi terpengaruh, penanganan lebih lanjut seperti perawatan saluran akar mungkin diperlukan untuk mencegah infeksi atau kerusakan lebih lanjut. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan kesehatan gigi tetap terjaga setelah cedera.

4. Melakukan Splinting

Jika gigi goyang akibat trauma, dokter dapat melakukan splinting untuk menstabilkan gigi yang bergerak. Splinting melibatkan penggunaan bahan pengikat untuk menjaga gigi agar tetap di tempatnya selama proses penyembuhan. Prosedur ini membantu mencegah pergeseran lebih lanjut dan mendukung pemulihan gigi yang lebih cepat.

Gigi anak patah akibat jatuh bukan kondisi sepele dan tidak boleh ditunda penanganannya. Pertolongan pertama yang tepat dan pemeriksaan dokter gigi sejak dini sangat berperan dalam mencegah komplikasi jangka panjang pada gigi dan rahang anak. Segera konsultasikan kondisi gigi anak ke Klinik Gigi Damessa untuk perawatan lebih lanjut dan follow Instagram kami di @damessa.dentalclinic untuk informasi lainnya!