Bone Graft Gigi Sebelum Implan Prosedur yang Sering Tidak Diberitahu tapi Penting Diketahui 11zon

Rekap Singkat!

  • Bone graft gigi adalah prosedur penambahan material tulang pada rahang yang kekurangan volume untuk menopang implan gigi.
  • Tidak semua pasien membutuhkan bone graft gigi, tetapi prosedur ini cukup sering diperlukan sebelum pemasangan implan.
  • Penyebab paling umum berkurangnya tulang rahang adalah pencabutan gigi yang tidak segera diganti, penyakit gusi, atau infeksi kronis.
  • Material bone graft dapat berasal dari tulang pasien sendiri, donor manusia, hewan, maupun bahan sintetis sesuai kebutuhan.
  • Setelah bone graft gigi, tulang memerlukan waktu sekitar 3 hingga 9 bulan untuk menyatu sebelum implan dapat dipasang.

Banyak orang datang ke dokter gigi dengan tujuan memasang implan untuk menggantikan gigi yang hilang. Mereka sudah mencari informasi mengenai prosedur, biaya, hingga hasil yang diharapkan. Namun, tidak sedikit yang baru mengetahui bahwa pemasangan implan terkadang harus diawali dengan prosedur bone graft gigi.

Bagi sebagian pasien, istilah ini mungkin terdengar asing atau bahkan mengkhawatirkan. Padahal, bone graft gigi merupakan prosedur yang cukup umum dalam dunia implantologi. Tindakan ini dilakukan untuk memastikan tulang rahang memiliki kekuatan dan volume yang cukup agar implan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Apa Itu Bone Graft Gigi?

image1

Sebelum membahas kapan prosedur ini diperlukan, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan bone graft gigi.

Bone graft gigi adalah prosedur penambahan material tulang pada area rahang yang mengalami kekurangan volume atau kepadatan. Tujuannya adalah membentuk fondasi yang kuat agar implan gigi dapat menyatu dengan tulang melalui proses yang disebut osseointegration.

Implan gigi bekerja seperti akar gigi buatan sehingga membutuhkan tulang yang sehat dan cukup tebal sebagai penyangga. Apabila kondisi tulang tidak memadai, risiko kegagalan implan dapat meningkat. Karena itu, dokter dapat menyarankan bone graft gigi sebelum pemasangan implan dilakukan.

Mengapa Tulang Rahang Bisa Berkurang?

Banyak pasien mengira tulang rahang akan tetap sama meskipun gigi sudah dicabut. Faktanya, kehilangan gigi merupakan penyebab paling umum penyusutan tulang rahang.

Akar gigi memberikan rangsangan pada tulang setiap kali seseorang mengunyah. Ketika gigi hilang, rangsangan tersebut ikut menghilang sehingga tubuh mulai menyerap kembali tulang di area tersebut melalui proses yang disebut resorpsi tulang.

Selain pencabutan gigi, penyusutan tulang juga dapat disebabkan oleh:

  • pencabutan gigi yang sudah lama tanpa penggantian,
  • penyakit gusi atau periodontitis,
  • infeksi kronis di ujung akar gigi,
  • trauma atau cedera pada rahang.

Semakin lama ruang gigi kosong dibiarkan, semakin besar kemungkinan tulang rahang menyusut sehingga kebutuhan akan bone graft gigi juga meningkat.

Baca juga: Bolehkah Gigi Ompong Dibiarkan Saja? Kenali Dampaknya bagi Kesehatan Mulut

Apakah Semua Pasien Implan Membutuhkan Bone Graft Gigi?

Jawabannya adalah tidak.

Tidak semua pasien yang ingin memasang implan memerlukan bone graft gigi. Pada pasien yang masih memiliki volume tulang yang cukup, implan sering kali dapat dipasang tanpa prosedur tambahan.

Untuk memastikan kondisi tersebut, dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh, baik melalui pemeriksaan klinis maupun foto Cone Beam CT (CBCT) yang mampu memberikan gambaran tiga dimensi mengenai tinggi, lebar, dan kualitas tulang rahang.

Secara umum, pasien yang segera mengganti gigi setelah pencabutan memiliki peluang lebih besar untuk langsung menjalani pemasangan implan tanpa bone graft dibandingkan pasien yang membiarkan ruang gigi kosong selama bertahun-tahun.

Jenis Material Bone Graft Gigi

Material yang digunakan dalam bone graft gigi tidak selalu berasal dari sumber yang sama. Pemilihannya disesuaikan dengan kebutuhan pasien, kondisi tulang, serta rencana perawatan secara keseluruhan.

1. Autograft

Autograft menggunakan tulang yang diambil dari tubuh pasien sendiri, biasanya dari area dagu atau bagian belakang rahang.

Material ini memiliki tingkat kecocokan biologis yang sangat baik karena mengandung sel tulang hidup yang membantu proses regenerasi. Namun, prosedurnya memerlukan area operasi tambahan untuk mengambil jaringan tulang.

2. Allograft

Allograft berasal dari donor manusia yang telah melalui proses sterilisasi dan pengolahan sesuai standar medis.

Karena tidak memerlukan pengambilan tulang dari tubuh pasien, prosedurnya menjadi lebih sederhana. Material ini juga memiliki hasil klinis yang baik pada banyak kasus.

3. Xenograft

Xenograft umumnya berasal dari tulang sapi yang telah diproses sehingga hanya menyisakan struktur mineralnya.

Material tersebut berfungsi sebagai kerangka tempat tulang baru pasien tumbuh secara bertahap. Jenis ini merupakan salah satu material yang paling sering digunakan dalam prosedur bone graft gigi.

4. Alloplast

Alloplast merupakan material sintetis yang dibuat dari senyawa seperti kalsium fosfat atau hidroksiapatit.

Bahan ini dirancang menyerupai mineral alami tulang sehingga dapat membantu proses pembentukan tulang baru. Alloplast menjadi pilihan bagi pasien yang tidak ingin menggunakan material dari manusia maupun hewan.

Berapa Lama Proses Penyembuhan Bone Graft Gigi?

Salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan pasien adalah berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga implan dapat dipasang.

Setelah menjalani bone graft gigi, tubuh memerlukan waktu agar material tersebut menyatu dengan tulang rahang dan membentuk tulang baru yang cukup kuat untuk menopang implan.

Secara umum, proses penyembuhan berlangsung sekitar 3 hingga 9 bulan, tergantung pada beberapa faktor, seperti:

  • luas area yang memerlukan bone graft,
  • jenis material yang digunakan,
  • kondisi kesehatan pasien,
  • kemampuan penyembuhan masing-masing individu.

Sebelum melanjutkan ke pemasangan implan, dokter biasanya akan melakukan evaluasi melalui pemeriksaan klinis dan foto rontgen atau CBCT untuk memastikan proses penyembuhan telah berlangsung optimal.

Apakah Bone Graft Gigi Aman?

Bila dilakukan dengan indikasi yang tepat dan oleh dokter gigi yang berkompeten, bone graft gigi merupakan prosedur yang aman dan telah banyak digunakan dalam perawatan implan di seluruh dunia.

Seperti tindakan medis lainnya, prosedur ini tetap memiliki risiko, seperti pembengkakan, rasa tidak nyaman, atau infeksi. Namun, risiko tersebut relatif rendah apabila pasien mengikuti instruksi perawatan setelah tindakan dan menjaga kebersihan rongga mulut dengan baik.

Karena itu, konsultasi dan pemeriksaan sebelum tindakan menjadi tahap yang sangat penting agar dokter dapat menentukan apakah bone graft memang diperlukan sekaligus memilih material yang paling sesuai.

Atasi dan Konsultasikan Kondisi Gigi Bersama Dokter Gigi Damessa

Bone graft gigi bukanlah prosedur tambahan yang perlu ditakuti, melainkan bagian dari perencanaan implan yang bertujuan menciptakan fondasi tulang yang kuat dan stabil. Tidak semua pasien memerlukannya, tetapi pada kondisi tulang yang sudah menyusut, prosedur ini dapat meningkatkan keberhasilan implan dalam jangka panjang.

Apabila Anda berencana memasang implan gigi, jangan ragu berkonsultasi terlebih dahulu agar kondisi tulang rahang dapat dievaluasi secara menyeluruh. Di Klinik Gigi Damessa, dokter akan melakukan pemeriksaan lengkap sebelum menentukan apakah bone graft gigi diperlukan sehingga setiap pasien mendapatkan rencana perawatan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Referensi

  • Chiapasco, M., et al. (2009). Bone augmentation procedures in implant dentistry. International Journal of Oral & Maxillofacial Implants, 24(Suppl), 237-259.
  • Esposito, M., et al. (2009). Interventions for replacing missing teeth: Bone augmentation techniques for dental implant treatment. Cochrane Database of Systematic Reviews, (4).
  • Jensen, S. S., & Terheyden, H. (2009). Bone augmentation procedures in localized defects in the alveolar ridge. International Journal of Oral & Maxillofacial Implants, 24(Suppl), 218-236.