anak sering menggigit kuku

Ringkasan Singkat!

  • Anak sering menggigit kuku termasuk kebiasaan oral yang dapat memengaruhi gigi dan rahang
  • Tekanan berulang bisa menyebabkan gigi depan bergeser
  • Email gigi anak lebih rentan terhadap keausan dan retak
  • Kuku membawa banyak bakteri yang berisiko masuk ke mulut
  • Kebiasaan ini bisa dicegah dan dikoreksi sejak dini

Anak sering menggigit kuku sering dianggap hal kecil. Banyak orang tua berpikir, “ah, cuma gigit kuku saja, nanti juga berhenti sendiri.” Padahal, dalam dunia kedokteran gigi anak, kebiasaan ini termasuk parafunctional habit, yaitu kebiasaan di luar fungsi normal mulut yang dilakukan berulang dan sering tanpa disadari.

Karena terjadi terus-menerus, kebiasaan menggigit kuku bisa memberi tekanan kecil namun konstan pada gigi, rahang, dan jaringan mulut. Jika berlangsung lama, dampaknya tidak hanya soal estetika, tetapi juga fungsi gigitan, kesehatan gigi, bahkan risiko infeksi.

Mengapa Anak Sering Menggigit Kuku?

Pada usia sekitar 4–12 tahun, anak berada pada fase eksplorasi dan regulasi emosi. Maka dari itu, anak sering menggigit kuku sering kali bukan sekadar “kebiasaan buruk”, melainkan respons terhadap kondisi tertentu.

Beberapa pemicu yang paling sering ditemukan antara lain rasa cemas atau gugup, misalnya saat menghadapi tugas sekolah, situasi baru, atau menonton sesuatu yang menegangkan. Pada kondisi ini, menggigit kuku memberi sensasi menenangkan. Kebosanan juga menjadi faktor penting, terutama saat anak tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.

Selain itu, anak sering meniru perilaku orang dewasa atau teman sebaya. Jika lingkungan sekitar melakukan kebiasaan yang sama, anak cenderung menirunya tanpa sadar. Ada pula anak yang memiliki kebutuhan stimulasi oral (oral sensory seeking), sehingga mereka senang menggigit benda seperti pensil, baju, atau kuku sendiri. Hal tersebut bisa menyebabkan kebiasaan anak sering menggigit kuku.

Walaupun tampak psikologis, kebiasaan ini memiliki dampak langsung pada sistem stomatognatik, yaitu gigi, rahang, otot, dan jaringan lunak mulut.

Dampak Kebiasaan Menggigit Kuku pada Kesehatan Gigi dan Rahang

Tekanan berulang pada gigi depan dari kebiasaan anak sering menggigit kuku, dapat menyebabkan perubahan struktural seiring waktu meskipun tampak ringan. Berikut adalah dampak lain yang bisa terjadi.

1. Perubahan Posisi Gigi

Anak sering menggigit kuku dapat memberi tekanan horizontal pada gigi depan atas dan bawah. Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat menyebabkan gigi menjadi lebih maju (protrusi), munculnya crowding ringan, atau bahkan open bite anterior pada beberapa kasus.

2. Keausan dan Kerusakan Email

Email gigi anak secara alami lebih tipis dibandingkan gigi dewasa. Gesekan berulang dengan kuku yang keras akibat anak sering menggigit kuku dapat menyebabkan mikrofraktur, tepi gigi menjadi tidak rata, bahkan sensitivitas gigi. Kerusakan ini sering kali tidak langsung terlihat, tetapi terakumulasi seiring waktu.

3. Risiko Gigi Retak

Pada anak yang menggigit kuku sambil menekan rahang dengan kuat, muncul risiko crack lines pada gigi depan. Retakan halus ini bisa menjadi jalur masuk bakteri dan menyebabkan keluhan ngilu di kemudian hari.

4. Trauma Gusi dan Jaringan Lunak

Ujung kuku yang tajam dapat melukai gusi dan mukosa mulut. Luka kecil yang berulang bisa menyebabkan peradangan lokal, gusi mudah berdarah, dan meningkatkan risiko infeksi.

5. Masuknya Bakteri ke Mulut

Kuku merupakan salah satu bagian tubuh dengan jumlah bakteri tinggi. Di bawah kuku dapat ditemukan bakteri seperti E. coli, Staphylococcus, hingga jamur. Saat anak menggigit kuku, mikroorganisme ini langsung masuk ke rongga mulut, meningkatkan risiko stomatitis, sariawan berulang, bahkan gangguan pencernaan ringan.

Baca juga: 3 Kebiasaan Buruk yang Membuat Gigi Maju

Peran Orang Tua dalam Menghentikan Kebiasaan Menggigit Kuku

Tujuan utama bukan sekadar menghentikan kebiasaan anak sering menggigit kuku, tetapi mengelola penyebabnya dan mencegah dampak jangka panjang.

Langkah pertama adalah mengamati kapan anak paling sering melakukan kebiasaan menggigit kuku. Apakah saat belajar, menonton televisi, atau ketika cemas. Dengan mengenali pola ini, orang tua bisa memberi respons yang lebih tepat.

Untuk anak dengan kebutuhan stimulasi oral, berikan alternatif yang lebih aman seperti makanan sehat bertekstur, chewy tube, atau aktivitas yang melibatkan tangan. Pada anak yang mudah cemas, teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam atau aktivitas sebelum tidur bisa membantu.

Yang tidak kalah penting, hindari memarahi atau mempermalukan anak. Metode yang terlalu keras justru dapat meningkatkan kecemasan dan memperparah kebiasaan menggigit kuku.

Kapan Kebiasaan Menggigit Kuku Perlu Diperiksakan ke Dokter Gigi Anak?

Selain pemeriksaan rutin, orang tua juga perlu segera membawa anak ke dokter gigi anak apabila mulai muncul tanda atau keluhan tertentu yang berpotensi mengganggu kesehatan serta tumbuh kembang gigi dan rahang anak, seperti kondisi berikut.

  • Gigi depan mulai tampak berubah posisi
  • Gerdapat keausan atau chipping pada gigi
  • Anak mengeluh ngilu atau nyeri
  • Kebiasaan tidak berkurang setelah 1–2 bulan intervensi di rumah

Dokter gigi anak dapat mengevaluasi kondisi oklusi, kesehatan jaringan mulut, dan menentukan apakah diperlukan pemantauan, edukasi lanjutan, atau intervensi tambahan seperti habit appliance pada kasus tertentu.

Menggigit kuku mungkin terlihat sepele, tetapi bagi kesehatan gigi dan rahang anak, dampaknya bisa nyata jika dibiarkan. Kabar baiknya, kebiasaan ini dapat dihentikan dan sebagian besar efeknya bisa dicegah bila orang tua peka sejak awal.

Jika Ayah dan Bunda ingin memastikan kebiasaan anak tidak memengaruhi pertumbuhan gigi dan rahangnya, tim dokter gigi anak di Klinik Gigi Damessa siap membantu dengan pendekatan ramah anak, pemeriksaan menyeluruh, dan edukasi yang mudah dipahami.

Referensi: 

  • Darwish, Amel, et al. “Oral Parafunctional Habits among Preschool Children in Riyadh, Saudi Arabia.” Saudi Journal of Oral Sciences, vol. 5, no. 1, 2018, p. 22, https://doi.org/10.4103/sjos.sjoralsci_46_17.
  • Baeshen HA. Malocclusion trait and the parafunctional effect among young female school students. Saudi J Biol Sci. 2021 Jan;28(1):1088-1092. doi: 10.1016/j.sjbs.2020.11.028. Epub 2020 Nov 11. PMID: 33424403; PMCID: PMC7783814.