cracked tooth syndrome

Rekap Singkat!

  • Gigi retak atau cracked tooth syndrome adalah kondisi ketika gigi mengalami retakan yang terlalu kecil untuk terlihat pada rontgen biasa, tetapi cukup dalam untuk menimbulkan nyeri.
  • Nyeri akibat gigi retak umumnya muncul saat menggigit dan menghilang ketika tekanan dilepaskan.
  • Bruxism, kebiasaan mengunyah benda keras, dan tambalan gigi berukuran besar merupakan faktor risiko yang paling sering ditemukan pada kasus cracked tooth syndrome.
  • Diagnosis cracked tooth syndrome membutuhkan pemeriksaan khusus karena retakan sering kali tidak terlihat pada pemeriksaan radiografi konvensional.
  • Penanganan cracked tooth syndrome bergantung pada kedalaman retakan, mulai dari observasi, pemasangan crown, hingga pencabutan gigi pada kasus yang lebih berat.

Pernahkah Anda merasakan nyeri tajam saat menggigit makanan, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gigi tampak baik-baik saja? Tidak ada lubang, tidak ada pembengkakan, bahkan foto rontgen pun terlihat normal.

Kondisi seperti ini sering membuat pasien merasa bingung sekaligus frustrasi. Padahal, keluhan tersebut bisa saja disebabkan oleh cracked tooth syndrome, yaitu retakan pada gigi yang tidak selalu dapat terlihat secara kasat mata maupun melalui pemeriksaan radiografi standar.

Meskipun tidak sepopuler gigi berlubang atau penyakit gusi, cracked tooth syndrome merupakan salah satu penyebab nyeri gigi yang cukup sering ditemukan dalam praktik kedokteran gigi.

Apa Itu Cracked Tooth Syndrome?

Cracked tooth syndrome adalah kondisi ketika gigi mengalami retakan yang tidak lengkap atau belum menyebabkan gigi patah sepenuhnya.

Retakan ini umumnya berbentuk vertikal dan dapat meluas dari permukaan gigi menuju lapisan yang lebih dalam. Karena ukurannya sangat kecil, retakan sering kali tidak dapat terlihat dengan mata telanjang maupun foto rontgen konvensional.

Salah satu ciri khas cracked tooth syndrome adalah munculnya nyeri tajam saat menggigit atau mengunyah makanan. Menariknya, rasa nyeri tersebut biasanya akan berkurang atau bahkan hilang ketika tekanan gigitan dilepaskan.

Hal ini terjadi karena retakan pada gigi sedikit membuka saat menerima tekanan dan kembali menutup ketika tekanan menghilang.

Mengapa Gigi Bisa Retak Tanpa Terlihat dari Luar?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya cracked tooth syndrome, baik secara perlahan maupun akibat tekanan yang terjadi berulang kali dalam jangka panjang.

1. Bruxism yang Berlangsung Tanpa Disadari

Salah satu penyebab paling umum cracked tooth adalah kebiasaan menggertakkan atau menggesekkan gigi saat tidur (bruxism).

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka mengalami bruxism karena kondisi ini terjadi secara tidak sadar pada malam hari. Padahal, tekanan yang dihasilkan dapat mencapai beberapa kali lipat tekanan gigitan normal dan secara perlahan menyebabkan terbentuknya retakan mikro pada gigi.

2. Tambalan Besar yang Melemahkan Struktur Gigi

Gigi yang memiliki tambalan berukuran besar cenderung lebih rentan mengalami retakan dibandingkan gigi yang masih utuh.

Ketika sebagian besar struktur gigi telah digantikan oleh bahan tambalan, area gigi yang tersisa menjadi lebih lemah terhadap tekanan kunyah. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya cracked tooth syndrome, terutama setelah bertahun-tahun digunakan untuk mengunyah.

3. Kebiasaan Mengunyah Benda Keras

Kebiasaan mengunyah es batu, permen keras, biji-bijian, atau benda keras lainnya juga dapat meningkatkan risiko cracked tooth syndrome.

Tekanan mendadak yang terkonsentrasi pada satu area gigi dapat memicu terbentuknya retakan atau memperparah retakan yang sebelumnya sudah ada tetapi belum menimbulkan gejala.

4. Perubahan Suhu yang Terlalu Ekstrem

Kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman dengan suhu yang sangat berbeda dalam waktu berdekatan dapat menyebabkan gigi mengalami proses ekspansi dan kontraksi berulang.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat melemahkan struktur gigi dan berkontribusi terhadap munculnya cracked tooth syndrome.

Bagaimana Dokter Mendeteksi Cracked Tooth Syndrome?

Salah satu tantangan terbesar dalam mendiagnosis cracked tooth syndrome adalah karena retakan sering kali tidak terlihat pada pemeriksaan radiografi biasa.

Oleh karena itu, dokter gigi biasanya memerlukan beberapa metode pemeriksaan tambahan untuk membantu menemukan lokasi retakan.

1. Tes Gigitan (Tooth Slooth)

Pasien akan diminta menggigit alat khusus untuk membantu mengidentifikasi gigi mana yang memunculkan rasa nyeri saat menerima tekanan.

2. Pewarna Khusus

Dokter dapat mengoleskan cairan pewarna pada permukaan gigi untuk membantu memperjelas garis retakan yang sulit terlihat secara langsung.

3. Pemeriksaan dengan Pembesaran

Penggunaan kaca pembesar atau mikroskop gigi memungkinkan dokter melihat detail struktur gigi secara lebih akurat.

4. Transiluminasi

Metode ini dilakukan dengan menyinari gigi menggunakan cahaya khusus dari arah tertentu sehingga pola retakan dapat terlihat lebih jelas.

Kombinasi berbagai pemeriksaan tersebut sering kali diperlukan untuk memastikan diagnosis cracked tooth syndrome secara akurat.

Apa Pilihan Perawatannya?

Penanganan cracked tooth syndrome bergantung pada lokasi dan kedalaman retakan yang terjadi pada gigi. Berikut di antaranya:

1. Retakan yang Masih Terbatas pada Email

Jika retakan hanya berada pada lapisan email dan belum mencapai lapisan yang lebih dalam, dokter mungkin hanya akan melakukan observasi dan pemantauan berkala.

Dalam beberapa kasus, tindakan sederhana untuk menghaluskan permukaan gigi sudah cukup membantu mengurangi keluhan.

2. Retakan yang Sudah Mencapai Dentin

Ketika retakan telah mencapai lapisan dentin, dokter biasanya akan merekomendasikan pemasangan crown atau mahkota gigi.

Crown berfungsi melindungi struktur gigi sekaligus membantu mendistribusikan tekanan gigitan secara lebih merata sehingga retakan tidak semakin meluas.

3. Retakan yang Sudah Mencapai Saraf Gigi

Apabila cracked tooth syndrome telah menyebabkan retakan mencapai ruang pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah, perawatan saluran akar mungkin diperlukan sebelum pemasangan crown dilakukan.

Tindakan ini bertujuan mengatasi infeksi atau peradangan yang telah terjadi pada jaringan di dalam gigi.

4. Retakan yang Sudah Mencapai Akar

Ini merupakan kondisi paling berat dalam kasus cracked tooth syndrome.

Retakan vertikal yang telah mencapai akar gigi sering kali memiliki prognosis yang kurang baik dan dalam beberapa kasus memerlukan pencabutan gigi karena struktur gigi tidak lagi dapat dipertahankan.

Baca juga: Kenapa Gigi Retak Tanpa Benturan? Ini Penyebabnya

Cracked Tooth Syndrome Perlu Ditangani Sejak Dini

Kini Anda sudah mengetahui bahwa cracked tooth syndrome merupakan kondisi nyata yang sering kali sulit dideteksi karena tidak terlihat secara langsung.

Nyeri saat menggigit yang muncul dan menghilang bukanlah keluhan yang sebaiknya diabaikan. Semakin cepat cracked tooth syndrome didiagnosis, semakin besar peluang gigi dapat dipertahankan tanpa memerlukan prosedur yang lebih kompleks.

Apabila Anda mengalami nyeri saat menggigit, gigi terasa sensitif tanpa penyebab yang jelas, atau dicurigai mengalami cracked tooth syndrome, segera konsultasikan kondisi Anda ke Klinik Gigi Damessa.

Dengan fasilitas pemeriksaan yang lengkap dan tim dokter gigi berpengalaman, Klinik Gigi Damessa siap membantu mendiagnosis serta menangani cracked tooth syndrome secara tepat agar kesehatan dan fungsi gigi Anda tetap terjaga.

Referensi

  • Lynch, C. D., & McConnell, R. J. (2002). The cracked tooth syndrome. Journal of the Canadian Dental Association, 68(8), 470-475.
  • Banerji, S., et al. (2010). Cracked tooth syndrome. Part 1: Aetiology and diagnosis. British Dental Journal, 208(10), 459-463.
  • American Association of Endodontists. (2020). Cracked Teeth. aae.org.