Gingivitis adalah kondisi peradangan gusi yang bisa dialami siapapun. Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 90% populasi dunia pernah mengalami masalah gusi, termasuk gingivitis. Sayangnya, kondisi tersebut sering tidak disadari oleh banyak orang. Padahal, dampaknya bisa cukup serius jika tidak ditangani. Masalah ini terjadi akibat penumpukan plak bakteri di sekitar gigi dan gusi yang kemudian memicu peradangan. 

Jika dibiarkan, gingivitis dapat berkembang menjadi periodontitis yang dapat menyebabkan gigi goyang hingga risiko kehilangan gigi. Plak yang tidak dibersihkan secara rutin akan mengeras menjadi karang gigi, menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak. Oleh karena itu, mengenali gejala awal gingivitis sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Rekap Singkat!

  • Gingivitis seringkali diawali dengan gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah saat menyikat gigi.
  • Bau mulut yang tak kunjung hilang bisa menjadi tanda adanya infeksi gusi.
  • Jika tidak ditangani, gingivitis dapat menyebabkan gusi menyusut, gigi goyang, dan bahkan perubahan posisi gigi.

Mari kita bahas lebih dalam beberapa gejala awal gingivitis yang perlu Anda ketahui!

1. Gusi Merah dan Bengkak

Salah satu gejala paling awal dan umum dari gingivitis adalah gusi yang tampak merah dan bengkak. Hal tersebut terjadi akibat penumpukan plak bakteri yang menyebabkan warna gusi berubah menjadi merah terang atau keunguan dan tampak membengkak.  Pembengkakan gusi terjadi karena respon tubuh terhadap bakteri yang mengiritasi jaringan gusi. Jika dibiarkan, peradangan ini dapat memperburuk kondisi dan menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih dalam.

2. Gusi Mudah Berdarah

Gusi yang meradang menjadi lebih sensitif dan rentan berdarah, kondisi tersebut biasanya dialami saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi. Kondisi gusi berdarah ini jika terus berulang bisa saja menandakan adanya masalah yang memerlukan perhatian medis. Jadi, mengabaikan gejala ini dapat meningkatkan risiko berkembangnya gingivitis menjadi periodontitis.

3. Bau Mulut Tidak Sedap (Halitosis)

Bau mulut yang tidak sedap atau halitosis juga menjadi tanda umum gingivitis. Penumpukan plak dan bakteri di sekitar gusi menghasilkan senyawa sulfur berbau tidak sedap yang menyebabkan bau mulut kronis. Jika bau mulut tetap ada meskipun sudah menjaga kebersihan mulut, ini bisa menjadi indikasi adanya gingivitis atau infeksi gusi lainnya.

4. Perubahan Tekstur dan Warna Gusi

Selain menjadi merah dan bengkak, gusi yang terkena gingivitis juga mengalami perubahan tekstur dan warna. Gusi dapat tampak mengkilap dan terasa lebih lunak saat disentuh. Dalam beberapa kasus, gusi bahkan bisa tampak pucat atau keabu-abuan jika pasokan darah ke jaringan terganggu akibat peradangan kronis. Perubahan ini membuat gusi menjadi lebih rentan terhadap infeksi lanjutan dan memudahkan penumpukan plak baru yang memperburuk kondisi kesehatan mulut secara keseluruhan.

5. Gusi Menyusut (Resesi Gusi)

Jika gingivitis tidak segera diobati, kondisi ini dapat menyebabkan resesi gusi, yaitu penarikan garis gusi menjauh dari gigi. Hal ini menyebabkan akar gigi menjadi terekspos sehingga meningkatkan sensitivitas gigi terhadap suhu panas atau dingin serta membuat gigi tampak lebih panjang. Hal ini dapat meningkatkan risiko pembentukan karang gigi di area akar yang terekspos, yang lebih sulit dibersihkan dan lebih rentan terhadap infeksi.

6. Sensitivitas Gigi

Sensitivitas gigi merupakan gejala lanjutan dari gingivitis. Gejala ini biasanya terjadi ketika resesi gusi telah terjadi. Sebab, akar gigi yang terbuka lebih rentan terhadap rangsangan eksternal seperti makanan atau minuman panas, dingin, manis, atau asam. Sensitivitas ini bisa menjadi tanda bahwa gingivitis telah menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih dalam.

Menggunakan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman, namun perawatan gingivitis tetap diperlukan untuk mengatasi akar masalahnya.

7. Perubahan Posisi Gigi dan Gigi Goyang

Dalam kasus gingivitis yang berkembang menjadi periodontitis yang kerusakan jaringan penyangga gigi. Ini menyebabkan perubahan posisi gigi atau bahkan gigi goyang. Hal ini terjadi karena jaringan dan tulang yang menopang gigi mengalami kerusakan akibat infeksi.

8. Nanah di Sekitar Gusi

Nanah atau abses di sekitar gusi merupakan tanda adanya infeksi yang lebih serius. Munculnya nanah biasanya disertai dengan rasa nyeri berdenyut, pembengkakan hebat, dan bau mulut yang lebih parah. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera karena dapat menyebar ke jaringan lain jika dibiarkan.

9. Peningkatan Jarak Antar Gigi

Gingivitis yang berlanjut dapat menyebabkan jaringan gusi melemah dan menciptakan ruang (kantong periodontal) antara gigi dan gusi. Kantong ini menjadi tempat berkembangnya bakteri dan sisa makanan, memperburuk kondisi peradangan. Akibatnya, jarak antar gigi tampak meningkat dan gigi bisa tampak renggang.

10. Rasa Tidak Nyaman atau Nyeri pada Gusi

Gingivitis juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri pada gusi, terutama saat makan atau menyikat gigi. Sensasi ini bisa berupa nyeri ringan hingga nyeri yang lebih tajam saat gusi ditekan atau terkena rangsangan tertentu. Nyeri ini muncul akibat peradangan yang membuat jaringan gusi menjadi lebih sensitif. Jika rasa sakit terus berlanjut, ini bisa menjadi tanda bahwa infeksi telah berkembang lebih serius dan memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Gingivitis merupakan kondisi yang umum namun dapat berdampak serius jika diabaikan. Oleh karena itu, mengenali gejala-gejalanya seperti gusi merah, bengkak, mudah berdarah, bau mulut, hingga gigi goyang sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Jangan biarkan masalah kesehatan gusi mengganggu kenyamanan dan kesehatan mulut Anda! Segera periksakan kondisi gigi dan gusi Anda ke Klinik Gigi Damessa untuk konsultasi dan mendapatkan perawatan terbaik. Tim dokter gigi Damessa yang profesional siap membantu memastikan kesehatan gigi dan gusi Anda tetap optimal. Buat janji sekarang dan dapatkan perawatan terbaik untuk senyum sehat Anda!

Referensi

Pihlstrom, B. L., Michalowicz, B. S., & Johnson, N. W. (2005). Periodontal diseases. The Lancet, 366(9499), 1809–1820. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(05)67728-8

Ditinjau oleh: drg. Brenda Regina Christy

Dokter gigi lulusan pendidikan Dokter Gigi Universitas Airlangga yang merupakan seorang Supervisor Dentist Human Capital di Damessa Dental Care.