
Rekap singkat!
- Tambal gigi bisa dilakukan ketika lubang gigi masih kecil, struktur jaringan pendukungnya sehat, dan tidak ada infeksi atau kerusakan saraf yang parah.
- Cabut gigi diperlukan jika gigi sudah rusak parah, patah, atau mengalami impaksi, serta untuk keperluan ortodonti atau gigi palsu.
- Selalu konsultasikan kondisi gigi ke dokter gigi untuk mendapatkan perawatan yang tepat sesuai dengan evaluasi langsung dari profesional medis.
Sahabat Damessa pasti pernah terpikirkan hal tersebut paling tidak sekali seumur hidup, terutama ketika tiba-tiba sakit gigi menyerang, bukan? Penasaran nggak sih apa saja pertimbangan sebelum memutuskan untuk tambal gigi atau cabut gigi? Yuk, cari tahu bersama di artikel berikut ini!
Kapan Bisa Tambal Gigi?
Sahabat Damessa pernah nggak, sih, merasakan sakit gigi yang hilang timbul ketika meminum atau memakan makanan yang dingin, seperti es jeruk, es krim atau bahkan sop buah? Ketika dicek lewat kaca atau berusaha memotret dengan kamera depan ternyata ada lubang, dan yang lebih mengejutkan terkadang lubangnya kecil sekali! Nah, ketika ada Sahabat Damessa merasakan gejala tadi dan menyadari bahwa lubang giginya masih kecil, gigi ini masih bisa ditambal supaya keluhan ketika makan ataupun minum yang dingin bisa hilang.
Hmm, jadi cuma lubang kecil saja yang bisa ditambal? Eits, tentu tidak, selain itu di antaranya:
1. Dinding Gigi di Sekitarnya Masih Cukup Banyak
Ketika lubang gigi belum terlalu besar, prosedur tambal gigi bisa dilakukan dengan lebih mudah dan efektif. Dinding gigi yang masih utuh memberi ruang bagi dokter gigi untuk melakukan penambalan dengan bahan yang tepat tanpa mengganggu struktur gigi secara keseluruhan. Jika dinding gigi yang tersisa cukup kuat, tambalan akan lebih stabil dan gigi bisa berfungsi dengan baik tanpa risiko kerusakan lebih lanjut.
2. Struktur Jaringan Pendukung Gigi Masih Baik
Untuk melakukan tambal gigi yang efektif, kesehatan jaringan sekitar gigi, seperti akar dan gusi, sangat penting. Jika akar gigi dan gusi masih sehat dan tidak mengalami kerusakan, tambal gigi bisa bertahan lebih lama. Gusi yang sehat juga membantu menghindari infeksi atau peradangan yang bisa mempengaruhi keberhasilan tambal gigi.
3. Tidak Ada Infeksi yang Berulang
Abses gigi adalah kondisi di mana infeksi berkembang di sekitar gigi atau gusi, menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit yang hebat. Jika ada infeksi berulang, terutama abses yang belum sembuh, penambalan gigi mungkin tidak akan efektif. Sebelum melakukan penambalan, dokter gigi akan memastikan bahwa infeksi telah ditangani dengan baik agar tambal gigi bisa bertahan lama tanpa komplikasi.
4. Tidak Ada Kerusakan Saraf yang Parah
Jika lubang gigi sudah mencapai atau mendekati saraf, kerusakan saraf dapat terjadi, yang berpotensi menyebabkan rasa sakit atau infeksi lebih lanjut. Dalam kasus seperti ini, penambalan biasa mungkin tidak cukup, dan perawatan saluran akar atau prosedur lainnya mungkin diperlukan. Penambalan gigi hanya efektif jika saraf gigi belum mengalami kerusakan parah, karena kerusakan saraf membutuhkan perawatan khusus agar infeksi tidak menyebar.
Baca juga: Harga Cabut Gigi di Puskesmas dan Ketahui Ciri Kondisinya Saat Butuh Tindakan
Kapan Harus Cabut Gigi?
Nah, pencabutan gigi ini biasanya ditawarkan pada pasien karena berbagai macam alasan, seperti:
1. Gigi yang Berlubang Besar
Jika gigi sudah mengalami kerusakan parah dan jaringan gigi yang tersisa tidak cukup untuk menahan tambalan, cabut gigi menjadi opsi yang diperlukan. Gigi berlubang besar sering kali sulit untuk dipulihkan dengan prosedur penambalan biasa. Pada kondisi ini, cabut gigi dilakukan agar tidak terjadi infeksi lebih lanjut atau rasa sakit yang terus-menerus. Jika tidak dicabut, gigi yang rusak dapat menyebabkan masalah kesehatan gigi lainnya.
2. Gigi yang Patah
Gigi yang patah akibat kecelakaan atau trauma sering kali tidak dapat diselamatkan melalui penambalan atau prosedur lainnya. Pencabutan dilakukan untuk menghindari komplikasi seperti infeksi atau kerusakan lebih lanjut pada jaringan sekitarnya. Ketika gigi patah sampai ke bagian akar atau tidak bisa diperbaiki, cabut gigi menjadi solusi yang lebih efektif dan aman. Dengan cara ini, risiko infeksi dapat diminimalisir, dan ruang untuk pengobatan lebih lanjut dapat terbuka.
3. Sisa Akar
Kadang-kadang, setelah gigi patah akibat kerusakan atau kecelakaan, sisa akar masih tertinggal di dalam gusi. Sisa akar ini sering kali terasa kasar dan bisa menyebabkan ketidaknyamanan ketika diraba dengan lidah. Jika tidak dicabut, sisa akar ini bisa menyebabkan iritasi atau bahkan infeksi. Oleh karena itu, dokter gigi biasanya akan menyarankan pencabutan sisa akar untuk mencegah masalah lebih lanjut.
4. Gigi Impaksi
Gigi impaksi adalah gigi yang tidak dapat erupsi dengan normal karena adanya penghalang fisik, seperti gigi lainnya atau kekurangan ruang dalam rahang. Gigi geraham bungsu yang terhambat sering menjadi penyebab impaksi. Jika dibiarkan, gigi impaksi bisa menyebabkan pembentukan kista di sekitar folikel gigi. Pencabutan gigi impaksi biasanya dianjurkan untuk mencegah komplikasi lebih serius seperti infeksi atau kerusakan gigi lain di sekitarnya.
5. Kelebihan Gigi (Supernumerary Teeth)
Supernumerary teeth adalah kondisi di mana seseorang memiliki gigi tambahan di luar seri gigi normal, yang sering muncul di rahang atas depan. Keberadaan gigi tambahan ini dapat menyebabkan gigi berjejal, kegagalan erupsi gigi yang seharusnya muncul, atau bahkan mengganggu posisi gigi permanen. Pencabutan gigi berlebih ini diperlukan untuk memperbaiki susunan gigi dan mencegah masalah ortodontik di masa depan. Selain itu, cabut gigi dapat membantu memberi ruang untuk gigi yang tumbuh dengan baik.
6. Keperluan Ortodonti dan Gigi Palsu
Sebelum melakukan pemasangan kawat gigi (bracket ortodonti), terkadang ortodontis merekomendasikan pencabutan gigi geraham kecil atau geraham bungsu. Ini diperlukan untuk memberi ruang bagi pergerakan gigi, terutama jika rahang terlalu sempit. Cabut gigi juga umum dilakukan sebelum pembuatan gigi palsu atau implan, terutama jika gigi yang ada sudah tidak layak untuk dipertahankan. Dengan pencabutan, prostodontis dapat merancang gigi palsu atau implan yang lebih efektif dan nyaman.
Nah, sekarang Sahabat Damessa sudah ada gambaran, kan, kira-kira apakah gigi Sahabat akan ditambal atau dicabut? Namun, tetap tidak diperbolehkan self-diagnose, ya! Pengetahuan ini ditujukan hanya untuk menambah pengetahuan Sahabat Damessa mengenai kondisi atau gambaran umum untuk tiap perawatan. Pada kenyataannya, masih banyak pertimbangan lain dari dokter gigi yang mengetahui secara langsung kondisi gigi yang dikeluhkan oleh Sahabat Damessa. Jangan lupa tetap menjaga kebersihan rongga mulut, ya! Juga kontrol minimal 6 bulan sekali ke dokter gigi di Klinik Damessa. Untuk informasi menarik lainnya, ikuti Instagram Damessa di @damessa.dentalclinic.
Referensi:
- Dhar V, Pilcher L, Fontana M, González-Cabezas C, Keels M. A, Mascarenhas A. K, Nascimento M, Platt J. A, Sabino G. J, Slayton R, Tinanoff N, Young D. A, Zero D. T, Pahlke S, Urquhart O, O’Brien K. K, Carrasco-Labra A. (2023). Evidence-based clinical practice guideline on restorative treatments for caries lesions. The Journal of the American Dental Association, 154 (7), 551 – 566.e51
- Gadhia A, Pepper T. Oral Surgery, Extraction of Teeth. [Updated 2023 Jun 1]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK589654/