
Ringkasan Singkat!
- Veneer gigi adalah lapisan tipis dari porselen atau komposit yang ditempelkan ke permukaan depan gigi.
- Veneer tidak bisa dipasang sembarangan karena ada syarat kondisi gigi dan gusi yang harus dipenuhi.
- Veneer porselen lebih tahan lama 5 sampai 15 tahun, veneer komposit lebih terjangkau tapi usianya 2 sampai 4 tahun.
- Pasien bruxism tidak disarankan pasang veneer sebelum kebiasaan menggertakkan gigi ditangani terlebih dahulu.
- Veneer yang dipasang di klinik tidak bereputasi berisiko mengikis enamel berlebihan dan hasil yang tidak natural.
Veneer gigi semakin populer di Indonesia seiring tren estetika senyum yang terus berkembang. Banyak yang tertarik setelah melihat hasil transformasi di media sosial. Tapi sebelum memutuskan, ada beberapa hal yang sebaiknya dipahami lebih dulu karena veneer adalah prosedur permanen yang tidak bisa dibatalkan begitu saja.
Apa Itu Veneer Gigi?
Veneer gigi adalah cangkang tipis yang dibuat dari bahan porselen atau resin komposit, dirancang untuk ditempelkan secara permanen ke permukaan depan gigi. Ketebalannya berkisar 0,5 sampai 1 mm. Prosedur ini termasuk dalam kategori kedokteran gigi estetik dan bertujuan memperbaiki warna, bentuk, ukuran, atau perataan gigi depan.
Ada dua jenis utama: veneer komposit (direct veneer) yang dibuat langsung di mulut pasien dalam satu kunjungan, dan veneer porselen (indirect veneer) yang dibuat di laboratorium dengan waktu pengerjaan 1 sampai 2 minggu. Veneer porselen lebih tahan lama dan lebih menyerupai kilau alami gigi, tetapi biayanya lebih tinggi.
Kondisi yang Cocok untuk Veneer Gigi
Ada beberapa orang yang memang cocok untuk melakukan veneer gigi, di antaranya yang memiliki kondisi:
- Gigi bernoda permanen yang tidak merespons bleaching, misalnya akibat konsumsi antibiotik tetrasiklin saat anak-anak
- Gigi depan yang sedikit retak atau aus pada permukaan tapi strukturnya masih kuat
- Celah kecil antargigi depan yang tidak memerlukan perawatan ortodonti
- Gigi yang bentuk atau ukurannya tidak simetris secara estetik
- Enamel yang sedikit terkikis namun tidak ada infeksi aktif atau penyakit gusi
Siapa yang Tidak Cocok Pasang Veneer?
Ini yang jarang dibahas. Tidak semua orang bisa atau sebaiknya langsung memasang veneer, di antaranya:
- Pasien dengan gigi berlubang aktif atau infeksi pulpa. Kondisi ini harus ditangani terlebih dahulu.
- Pasien dengan penyakit gusi yang belum dirawat. Gusi harus dalam kondisi sehat sebelum veneer dipasang.
- Pasien bruxism yang belum menggunakan night guard. Tekanan menggertakkan gigi bisa meretakkan atau melepas veneer.
- Enamel yang sudah sangat tipis. Veneer memerlukan pengikisan enamel dan jika lapisannya tidak cukup, dentin bisa terekspos.
- Gigi yang posisinya sangat miring atau berjejal parah. Untuk kasus ini, perawatan ortodonti lebih tepat dari veneer.
Prosedur Pemasangan Veneer Porselen
Pemasangan veneer porselen biasanya membutuhkan dua sampai tiga kunjungan. Pada kunjungan pertama, dokter melakukan pemeriksaan lengkap termasuk rontgen panoramik untuk memastikan kondisi gigi dan gusi sehat. Setelah disetujui, enamel gigi diasah setipis 0,3 sampai 0,5 mm untuk memberi ruang bagi veneer. Cetakan gigi diambil dan dikirim ke laboratorium. Pada kunjungan berikutnya, veneer yang sudah jadi dicoba, disesuaikan, lalu direkatkan menggunakan bahan adhesif khusus dan sinar UV.
Baca juga: Veneer Gigi: Prosedur, Fungsi, Risiko, dan Cara Merawatnya
Cara Merawat Veneer agar Tahan Lama
- Sikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi non-abrasif dan sikat berbulu lembut
- Hindari menggigit benda keras seperti kuku, pulpen, atau es batu
- Gunakan night guard jika memiliki kebiasaan bruxism
- Kurangi konsumsi kopi, teh, dan rokok yang mempercepat perubahan warna
- Kontrol rutin setiap 6 bulan ke dokter gigi untuk evaluasi kondisi veneer
Jika Anda tertarik dengan veneer gigi dan ingin mengetahui apakah kondisi gigi Anda memenuhi syarat, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter gigi estetik di Klinik Gigi Damessa. Hasilnya bisa sangat memuaskan jika dilakukan dengan tepat dan pada kondisi yang sesuai.
Referensi
- Morimoto S, et al. (2016). Survival Rate of Resin and Ceramic Inlays, Onlays, and Overlays: A Systematic Review and Meta-analysis. Journal of Dental Research, 95(9), 985–994. doi:10.1177/0022034516646191
- Arif R, et al. (2019). Retrospective evaluation of the clinical performance and longevity of porcelain laminate veneers 7 to 14 years after cementation. Journal of Prosthetic Dentistry, 122(1), 31–37. doi:10.1016/j.prosdent.2018.09.007