
Rekap Singkat!
- Dental anxiety pada anak dipengaruhi keluarga, pengalaman, dan lingkungan.
- Anak takut ke dokter gigi cenderung kurang kooperatif saat perawatan.
- Peran orang tua di rumah membantu anak lebih berani ke dokter gigi.
Sahabat Damessa pasti pernah punya pengalaman anak takut ke dokter gigi, kan? Padahal buah hati merengek terus menerus karena giginya sakit, tetapi menolak ketika diajak ke dokter gigi. Tapi sebenarnya kenapa anak-anak ini takut untuk ke dokter gigi dan apakah ada cara supaya anak jadi berani untuk ke dokter gigi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak informasi artikel Damessa berikut ini!
Kenapa Anak Mengalami Dental Anxiety?
Dental anxiety dapat diartikan sebagai kondisi psikologis pasien berupa kekhawatiran, kecemasan, atau bahkan ketakutan yang berlebihan dan tidak rasional terhadap klinik gigi atau dokter gigi.
Sahabat Damessa tahu tidak ternyata kejadian anak takut ke dokter gigi ini dirasakan secara global. Studi menyebutkan bahwa 36,5% anak-anak prasekolah mengalami ketakutan ini. Diikuti dengan anak-anak yang lebih tua (25,8%) dan remaja (13,3%).
Hal ini mampu menimbulkan hambatan terhadap pemberian layanan kesehatan gigi dan mulut yang efektif dikarenakan kurangnya kerja sama dan kepatuhan selama perawatan berlangsung.
Baca juga: Anak Takut Periksa Gigi? Bunda Butuh ke Dokter Spesialis Gigi Terdekat di Damessa!
Mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata penyebab dari adanya dental anxiety ini bermacam-macam, Sahabat Damessa! Termasuk di antaranya pengaruh keluarga, lingkungan, dan budaya. Kecemasan orang tua, misalnya, telah secara konsisten diidentifikasi sebagai penentu penting dalam terjadinya dental anxiety pada anak-anak. Hal ini dikarenakan anak-anak mampu menginternalisasi respon emosional dari pengasuh anak. Ketika orang tua secara tidak sengaja merasa cemas terhadap perawatan di dokter gigi, kecemasan tersebut dapat menular dan memicu kondisi anak takut ke dokter gigi. Hal ini akan tampak dari munculnya rasa ketidaknyamanan atau kekhawatiran dari anak-anak selama kunjungan ke dokter gigi.
Selain itu, temperamen anak dan pengalaman perawatan gigi di masa lalu juga berperan penting dalam membentuk dental anxiety. Anak-anak yang memiliki sensitivitas emosional atau rasa takut yang tinggi terhadap hal baru, rentan mengalami kecemasan dalam situasi ini. Lebih lanjut, pengalaman negatif anak-anak, seperti prosedur yang menyakitkan atau perlakuan yang kurang tepat selama di dokter gigi, dapat menyebabkan anak takut ke dokter gigi dan membentuk siklus rasa takut terhadap perawatan dokter gigi. Hal ini berakibat pada perilaku yang kurang kooperatif sehingga mampu mempersulit perawatan gigi.
Studi juga menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga memengaruhi hal ini, seperti status sosial ekonomi dan aksesibilitas terhadap perawatan gigi. Sahabat-sahabat kita yang berada di daerah marjinal memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami dental anxiety dikarenakan kurangnya penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut, keterbatasan transportasi, dan terkadang waktu tunggu yang lama sebelum memulai perawatan. Aspek fisik dari lingkungan di klinik gigi, seperti bau, suara, dan instrumen yang asing juga dinilai mampu memicu dental anxiety pada anak-anak yang belum terbiasa dengan lingkungan tersebut.
Persepsi budaya seputar perawatan gigi juga turut memengaruhi perkembangan dan manifestasi dental anxiety pada anak-anak. Di beberapa daerah di Indonesia, ada keyakinan di mana sakit gigi dinormalisasi atau diremehkan, sehingga alih-alih rasa sakitnya tervalidasi malah membentuk anxiety terhadap dokter gigi.
Tips yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah untuk Mengurangi Dental Anxiety!
Sekarang Sahabat Damessa bisa simak bersama tips yang bisa dilakukan di rumah supaya si kecil lebih berani pergi ke dokter gigi sebagai berikut!
1. Ajak Anak Bermain Role-Play (Permainan Peran)
Coba bermain dokter-dokteran dengan memberikan peran kepada si kecil sebagai dokter gigi atau pasien. Perkenalkan alat kedokteran gigi versi mainan, lalu ajak anak “memeriksa” boneka sebagai pasien. Aktivitas sederhana ini membantu anak memahami prosedur perawatan gigi dan membuat anak merasa lebih familiar sebelum berkunjung ke dokter gigi.
2. Bacakan Buku Cerita tentang Kunjungan ke Dokter Gigi
Gunakan dental storybook atau buku cerita anak yang menggambarkan kunjungan pertama ke dokter gigi. Cerita ini membantu anak membayangkan suasana klinik, mengenal alat-alat, dan tahu apa yang akan terjadi nantinya. Semakin banyak anak tahu, semakin kecil rasa takutnya.
3. Putarkan Video Edukasi atau Animasi tentang Perawatan Gigi
Video animasi pendek tentang dokter gigi bisa menjadi media visual yang menyenangkan untuk anak. Pilih video yang ramah anak dan menjelaskan proses perawatan dengan bahasa sederhana. Anak-anak biasanya lebih mudah menyerap informasi lewat visual yang menarik.
Baca juga: Penanganan Pertama Saat Anak Sakit Gigi, Orang Tua Perlu Tau!
Nah, sekarang Sahabat Damessa sudah tahu, kan, penyebab dan cara mengatasi dental anxiety pada anak-anak. Yuk, segera berkunjung ke Klinik Damessa terdekat untuk memeriksakan keluhan si buah hati. Jangan tunggu nanti-nanti!
Referensi:
Alsaadoon, A. M., Sulimany, A. M., Hamdan, H. M., & Murshid, E. Z. (2022). The Use of a Dental Storybook as a Dental Anxiety Reduction Medium among Pediatric Patients: A Randomized Controlled Clinical Trial. Children, 9(3), 328. https://doi.org/10.3390/children9030328
Arsunan, A. A. A. (2025). Managing Pediatric Dental Anxiety: A Narrative Review of Psychosocial and Clinical Determinants. IndoDent : Jurnal Kedokteran Gigi, 1(1), 1–16. Retrieved from https://journal.idscipub.com/index.php/indodent/article/view/593
Fithri, Z. (2025). Role Play: Manajemen Tingkah Laku Anak dalam Membentuk Persepsi Positif tentang Dokter Gigi (Literature Review). DENThalib Journal, 3(1), 18–23.
Ying, J., Tao, H., He, Q., Zhang, Z., Hu, W., Chen, S., & Guan, Y. (2023). Children’s Dental Fear: Occurrence Mechanism and Prevention Guidance. Journal of Multidisciplinary Healthcare, Volume 16, 2013–2021. doi:10.2147/jmdh.s412412