
Rekap singkat!
- Paparan berlebihan pada gawai dapat memengaruhi kebiasaan makan anak, mengurangi aktivitas fisik, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan gigi anak.
- Konsumsi makanan manis yang terus-menerus menyebabkan peningkatan keasaman rongga mulut, yang memicu demineralisasi gigi dan berisiko menyebabkan karies.
- Orang tua dapat mengatur screen time, memilih camilan yang lebih sehat, dan menjaga kebersihan gigi anak dengan sikat gigi dua kali sehari.
Halo, Sahabat Damessa! Terkadang ketika kesibukan menerjang kita sebagai orang tua, gawai dengan berbagai macam tontonan dan camilan manis menjadi jurus pamungkas supaya buah hati tetap anteng. Namun, Sahabat Damessa tahu nggak sih? Kalau gawai dan camilan manis ini merupakan kombo super yang mampu mengganggu kesehatan gigi anak menjadi gupis? Lho, kok bisa? Cari tahu bersama dampak dari gawai dan camilan manis pada kesehatan gigi anak melalui artikel di bawah ini, yuk!
Risiko Paparan Layar Berlebih pada Anak
Sahabat Damessa tahu nggak, sih, kalau World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa bayi di bawah 1 tahun tidak boleh terekspos dengan layar, sedangkan anak-anak usia 2 sampai 5 tahun harus dibatasi waktu penggunaan alat-alat elektroniknya dengan tidak lebih dari 1 jam per hari. Hal ini sejalan, lho, Sahabat Damessa dengan informasi yang dikeluarkan oleh Indian Academy of Pediatrics yang merekomendasikan bahwa anak di bawah 2 tahun tidak boleh sama sekali terekspos layar, sedangkan pada anak dengan usia yang lebih tua dibutuhkan pengawasan penuh dari keluarga.
Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan, paparan sinar yang berlebihan ternyata berhubungan dengan luaran yang buruk, seperti kebiasaan makan yang kurang tercukupi, mampu mengurangi aktivitas fisik, gangguan tidur, obesitas, hingga masalah psikologis dan kesehatan sosial, lho! Kenapa begitu, ya?
Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktunya lebih banyak dengan gawai juga cenderung lebih mudah mengalami gangguan makan karena mengonsumsi makanan yang tinggi kalori, tetapi rendah nutrisi (snacking makanan manisdan cepat saji) selama memainkan gawai, alih-alih mengonsumsi real food seperti buah, sayuran, daging, dan ikan.
Peningkatan waktu paparan layar juga terbukti mengurangi waktu tidur yang mampu mengubah ritme sirkadian/jam kerja tubuh, lho! Pada akhirnya kebiasaan ini mampu mengakibatkan gangguan pada mikrobioma rongga mulut dan produksi air liur sehingga memicu lebih banyak masalah kesehatan gigi anak, seperti karies gigi, erosi enamel, radang gusi, dan maloklusi.
Risiko Konsumsi Camilan Manis Berlebih pada Anak
Nah, Sahabat Damessa tentunya sudah tahu, dong, ketika anak-anak terlalu banyak makan makanan manis giginya akan jadi gupis! Namun, kok bisa, ya? Jadi ketika ada plak pada gigi kita, yang mana pasti terbentuk setelah kita menyikat gigi, dan kita terus menerus mengonsumsi makanan manis yang tinggi akan gula maka karies ini akan terbentuk. Hal ini dikarenakan, gula yang terdapat dalam makanan manis akan dilarutkan oleh bakteri yang ada dalam rongga mulut, sehingga mampu menurunkan keasaman dari rongga mulut itu sendiri. Karies ini hanya akan terbentuk ketika paparannya terjadi secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama.
Mengapa Keduanya Bisa Menyebabkan Berbagai Masalah Kesehatan Gigi Anak?

Sebelum membahas mengapa keduanya bisa berhubungan, Sahabat Damessa kenalan terlebih dahulu dengan Stephan Curve, yuk! Stephan Curve merupakan suatu kurva yang menggambarkan bagaimana keasaman (pH) dalam rongga mulut kita sewaktu kita makan. Dalam kondisi normalnya, rongga mulut kita memiliki pH yang netral, yakni berkisar dari 7-7.5. Namun, ketika kita mengonsumsi makanan, pH dalam rongga mulut kita akan menjadi asam dan masuk ke zona berbahaya (danger zone) yang rentan terhadap terjadinya karies. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan ketika pH mencapai kritis (pH 5.5) maka mineral yang terdapat dalam gigi akan bertindak sebagai ‘agen penengah keasaman’ untuk mengembalikan supaya pH dalam rongga mulut tetap netral dengan cara mengeluarkan kalsium dan ion fosfat dari gigi. Dalam keadaan ini gigi mengalami demineralisasi.

Baca juga: Struktur Gigi Anak Tidak Rapi? Ini Waktu yang Tepat untuk Konsultasi Orthodonti!
Ketika anak-anak bermain gawai, mereka cenderung bermain sambil memakan jajan (snacking) yang berujung pada mindless snacking. Mindless snacking inilah yang menyebabkan frekuensi konsumsi makanan meningkat dari yang seharusnya. Ketika anak-anak snacking makanan manis secara terus-menerus, intensitas dari makanannya bertambah dan durasi dari snacking ini lama dikarenakan anak-anak bermain gawai, maka pH dalam rongga mulut akan makin turun. Padahal rongga mulut juga membutuhkan waktu untuk mengembalikan pH ke keadaan normalnya. Ketika rongga mulut tidak mempunyai cukup waktu untuk mengompensasi keadaan asam tersebut (remineralisasi), maka pH dalam rongga mulut akan makin turun dan terjadilah karies dalam rongga mulut.

Ketika hal ini terjadi terus menerus, maka tidak hanya karies yang akan terbentuk dalam rongga mulut si buah hati, lho, Sahabat Damessa! Radang gusi, sakit saat mengunyah makanan, gigi tanggal lebih dulu sebelum waktunya, hingga terjadinya maloklusi bisa terjadi pada si buah hati. Tanda-tanda awal yang biasanya dialami oleh buah hati adalah adanya white spot lesion, kemerahan pada gusi, bau mulut, serta ngilu saat makan dan minum dingin.

Solusi Praktis untuk Orang Tua
Don’t worry, Sahabat Damessa! Berikut hal-hal yang bisa Sahabat terapkan untuk menjaga kesehatan gigi anak, di antaranya:
- Mengatur screen time buah hati dengan bijak
Hal ini bisa dilakukan dengan tidak memberikan gawai pada saat makan, menggunakan aturan 20-20-20 (20 menit screen time, istirahat 20 detik, melihat objek 20 meter), serta menggunakan timer tiap kali anak akan menggunakan gawai.
- Memilih snack yang lebih aman untuk gigi
Alih-alih memberikan coklat, permen karet, wafer, maupun minuman kemasan, Sahabat Damessa bisa mulai menyediakan buah-buahan yang sudah dipotong, puding, maupun yoghurt sebagai penggantinya.
- Tetap menjaga kebersihan rongga mulut
Meskipun dengan kesibukan Sahabat Damessa sekalian, jangan lupa untuk tetap mengawasi buah hati supaya sikat gigi 2 kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur, selama 2 menit pada tiap sesinya.
Nah, sekarang Sahabat Damessa sudah paham, kan, apa dampak dari kombinasi super gawai dan makanan manis, serta bagaimana cara mencegahnya? Yuk, periksakan segera gigi si buah hati ke Klinik Damessa terdekat dan jangan lupa follow Instagram @damessa.dentalclinic untuk informasi seputar kesehatan gigi lainnya!
Referensi:
- Robin, A., Padmanabhan, V., Swaminathan, K., Kc, V., K, V., & Haridoss, S. (2025). Association Between Screen Time, Dietary Patterns, and Oral Health Among Children: A Cross-Sectional Study. Cureus, 17(3), e81348. https://doi.org/10.7759/cureus.81348
- Warreth, A. (2023). Dental caries and its management. International Journal of Dentistry, 2023, 1–15. doi:10.1155/2023/9365845
- Workman, J. (2020). Stephan curve helps with your dental care. Retrieved from https://jamiethedentist.com/dental-caries-decay/stephan-curve/