Bolehkah Gigi Ompong Dibiarkan Saja Kenali Dampaknya bagi Kesehatan Mulut

Rekap Singkat!

  • Gigi ompong sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama karena dapat memengaruhi fungsi mengunyah dan susunan gigi.
  • Kehilangan gigi dapat menyebabkan gigi di sekitarnya bergeser, perubahan gigitan, hingga penyusutan tulang rahang.
  • Semakin lama ruang gigi kosong dibiarkan, semakin besar kemungkinan diperlukan perawatan yang lebih kompleks.
  • Tersedia berbagai pilihan pengganti gigi yang hilang, seperti gigi palsu lepasan, bridge, maupun implan gigi.

Pernahkah Sahabat Damessa kehilangan satu gigi lalu berpikir, “Ah, cuma satu, masih bisa dipakai makan”? Apalagi jika gigi ompong berada di bagian belakang sehingga tidak terlihat saat tersenyum, banyak orang memilih membiarkannya bertahun-tahun tanpa pengganti.

Padahal, kehilangan gigi bukan hanya memengaruhi penampilan. Setiap gigi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan gigitan, membantu proses mengunyah, serta mempertahankan susunan gigi dan tulang rahang. Ketika satu gigi hilang, perubahan memang tidak selalu langsung terasa. Namun, jika ruang gigi kosong dibiarkan terlalu lama, berbagai masalah dapat muncul secara bertahap.

Lalu, apakah gigi ompong benar-benar boleh dibiarkan begitu saja? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu Gigi Ompong?

Gigi ompong atau edentulism adalah kondisi ketika seseorang mengalami kehilangan gigi, baik satu gigi, beberapa gigi, maupun seluruh gigi pada rahang atas atau bawah.

Jika hanya sebagian gigi yang hilang, kondisi ini disebut partial edentulism. Sementara itu, apabila seluruh gigi pada salah satu atau kedua rahang hilang, kondisinya disebut complete edentulism.

Penyebab gigi ompong sangat beragam, mulai dari kerusakan gigi hingga kondisi bawaan.

1. Gigi Berlubang

Karies yang tidak segera ditangani dapat terus berkembang hingga mencapai saraf gigi. Ketika kerusakan sudah terlalu parah dan gigi tidak lagi dapat dipertahankan, pencabutan menjadi pilihan terakhir sehingga terjadi kehilangan gigi.

2. Penyakit Gusi

Penyakit periodontal merupakan salah satu penyebab utama kehilangan gigi pada orang dewasa. Peradangan kronis akibat plak dan karang gigi dapat merusak jaringan penyangga sehingga gigi menjadi goyang dan akhirnya harus dicabut.

3. Trauma

Benturan akibat kecelakaan, olahraga, maupun jatuh dapat menyebabkan gigi terlepas secara langsung (avulsi).

4. Pencabutan Gigi

Pada beberapa kondisi, pencabutan memang diperlukan untuk mengatasi infeksi berat, kerusakan gigi yang tidak dapat diperbaiki, atau sebagai bagian dari perawatan ortodonti.

5. Faktor Genetik

Sebagian orang memang terlahir tanpa benih satu atau beberapa gigi. Kondisi ini memerlukan perawatan jangka panjang agar fungsi mengunyah dan estetika tetap terjaga.

Apa yang Terjadi Setelah Kehilangan Gigi?

Banyak orang mengira masalah selesai setelah luka pencabutan sembuh. Padahal, tubuh akan terus beradaptasi terhadap ruang gigi kosong yang ditinggalkan.

1. Gigi Bergeser ke Ruang Kosong

Salah satu dampak gigi ompong yang paling sering terjadi adalah pergeseran gigi di sebelahnya. Karena kehilangan penyangga, gigi dapat perlahan miring menuju ruang kosong.

Akibatnya, susunan gigi menjadi tidak rapi dan sela-sela gigi lebih mudah menjadi tempat tersangkutnya sisa makanan.

2. Gigi Lawan Menjadi Lebih Panjang

Gigi pada rahang yang berlawanan juga dapat bergerak turun atau naik menuju ruang gigi kosong karena tidak lagi memiliki pasangan saat menggigit. Kondisi ini dikenal sebagai supraerupsi dan dapat mengganggu keseimbangan gigitan.

3. Tulang Rahang Menyusut

Akar gigi memberikan rangsangan yang membantu mempertahankan volume tulang rahang. Setelah terjadi kehilangan gigi, rangsangan tersebut menghilang sehingga tulang perlahan mengalami penyusutan (resorpsi).

Semakin lama gigi ompong dibiarkan, semakin banyak tulang yang hilang. Hal ini dapat mempersulit pemasangan implan atau perawatan lain di kemudian hari.

Baca juga: Gigi Keropos di Usia Muda: Bukan Cuma Soal Jarang Sikat Gigi

Dampak Gigi Ompong terhadap Kesehatan Mulut

Selain perubahan posisi gigi, terdapat beberapa dampak gigi ompong lain yang perlu diperhatikan.

1. Mengganggu Kemampuan Mengunyah

Ketika satu sisi rahang tidak lagi memiliki gigi, seseorang biasanya hanya mengunyah menggunakan sisi lainnya. Lama-kelamaan, beban mengunyah menjadi tidak seimbang sehingga proses penghancuran makanan kurang optimal.

2. Memengaruhi Cara Berbicara

Apabila kehilangan gigi terjadi pada bagian depan, pengucapan beberapa huruf seperti “s”, “f”, “v”, dan “th” dapat berubah sehingga berbicara terasa kurang nyaman.

3. Menurunkan Kepercayaan Diri

Tidak sedikit orang merasa kurang percaya diri ketika tersenyum atau berbicara akibat gigi ompong, terutama jika gigi yang hilang berada di bagian depan.

4. Meningkatkan Risiko Penyakit Mulut

Ruang gigi kosong lebih mudah menjadi tempat berkumpulnya sisa makanan. Jika kebersihan mulut tidak terjaga, risiko gigi berlubang maupun penyakit gusi juga dapat meningkat.

Apakah Semua Gigi yang Hilang Harus Diganti?

Pada umumnya, dokter gigi akan menyarankan penggunaan pengganti gigi yang hilang apabila kondisi pasien memungkinkan.

Namun, keputusan tersebut tetap mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain:

  • Usia pasien.
  • Kondisi kesehatan secara umum.
  • Jumlah kehilangan gigi.
  • Letak gigi yang hilang.
  • Kondisi tulang rahang.
  • Kesehatan jaringan penyangga gigi.
  • Kemampuan menjaga kebersihan rongga mulut.

Karena itu, kapan perlu gigi palsu tidak selalu sama pada setiap orang. Pemeriksaan dokter gigi diperlukan agar pilihan perawatannya sesuai dengan kondisi masing-masing.

Pilihan Pengganti Gigi yang Hilang

Saat ini terdapat beberapa pilihan pengganti gigi yang hilang yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

1. Gigi Palsu Lepasan

Gigi palsu lepasan atau removable denture dapat dilepas dan dipasang sendiri oleh pasien. Jenis ini umumnya memiliki biaya yang lebih terjangkau dan prosedur pembuatannya relatif sederhana.

image 7

Gambar 1. Gigi tiruan lepasan lengkap (Zarb et al., 2013)

2. Bridge

Bridge merupakan gigi palsu cekat yang tidak dapat dilepas sendiri. Perawatan ini memanfaatkan gigi di sebelah ruang gigi kosong sebagai penyangga untuk menggantikan gigi yang hilang.

Sebelum menggunakan bridge
Sesudah menggunakan bridge

Gambar 2. Sebelum dan sesudah menggunakan bridge
(Rosenstiel, Land dan Fujimoto, 2016)

3. Implan Gigi

Implan merupakan salah satu pilihan pengganti gigi yang hilang yang paling mendekati fungsi gigi alami. Implan ditanam pada tulang rahang sehingga mampu menopang mahkota gigi sekaligus membantu mempertahankan volume tulang.

Dokter akan menentukan pilihan yang paling sesuai berdasarkan kondisi mulut, jumlah gigi yang hilang, serta kesehatan jaringan pendukungnya.

Cara Mencegah Gigi Ompong

Cara terbaik mencegah gigi ompong adalah mempertahankan gigi asli selama mungkin.

Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi risiko kehilangan gigi.

  • Menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida.
  • Membersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi bila diperlukan.
  • Mengurangi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
  • Melakukan scaling secara berkala sesuai anjuran dokter.
  • Segera menambal gigi berlubang sebelum kerusakan bertambah besar.
  • Memeriksakan kesehatan gigi setiap enam bulan sekali.

Pemeriksaan rutin memungkinkan dokter menemukan masalah sejak dini sehingga peluang mempertahankan gigi alami menjadi lebih besar.

Konsultasikan Gigi Ompong dengan Dokter Tepercaya

Gigi ompong bukan sekadar masalah penampilan. Kehilangan gigi dapat menyebabkan perubahan susunan gigi, gangguan mengunyah, perubahan cara berbicara, hingga penyusutan tulang rahang apabila ruang gigi kosong dibiarkan terlalu lama.

Karena itu, jangan menunda konsultasi setelah kehilangan gigi. Dokter gigi akan membantu menentukan kapan perlu gigi palsu atau pilihan pengganti gigi yang hilang yang paling sesuai, baik berupa gigi palsu lepasan, bridge, maupun implan.

Semakin cepat dampak gigi ompong ditangani, semakin besar peluang mempertahankan fungsi mengunyah, kesehatan mulut, serta kualitas hidup dalam jangka panjang. Jika Sahabat Damessa baru saja mengalami kehilangan gigi, segera jadwalkan pemeriksaan di Klinik Gigi Damessa agar mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Referensi

  • Carr, A. B., & Brown, D. T. (2016). McCracken’s removable partial prosthodontics(Thirteenth edition). Elsevier.
  • Rosenstiel, S., Land, M. & Fujimoto, J. (2016). Contemporary Fixed Prosthodontics. 5th Edition, Mosby Inc.
  • Zarb, G., Hobkirk, J. A., Eckert, S. E., & Jacob, R. F. (2013). Prosthodontic treatment for Edentulous Patients. Elsevier.