
Rekap Singkat!
- Karies pada gigi susu dapat berkembang cepat karena frekuensi camilan manis, kebersihan mulut yang belum optimal, atau paparan fluoride yang kurang.
- Tidak semua lubang gigi anak cocok ditangani dengan SDF, terutama apabila kerusakan sudah mendekati ruang saraf.
- Perubahan warna kehitaman pada area karies bersifat permanen dan sering baru disadari orang tua setelah aplikasi pertama selesai.
Lubang gigi pada anak sering ditemukan jauh sebelum gigi permanen mulai tumbuh. Sebagian orang tua menunda perawatan karena membayangkan suara bor, jarum suntik, dan tangis di ruang praktik.
SDF atau silver diamine fluoride menawarkan jalur yang berbeda dari tambalan konvensional. Cairan ini dioleskan langsung ke permukaan gigi yang berlubang, tanpa pengeboran dan umumnya tanpa anestesi.
Meskipun terdengar sederhana, SDF bukan jawaban untuk setiap kasus karies. Hasilnya bergantung pada seleksi kasus, kedalaman lubang, serta kesiapan keluarga menerima perubahan warna pada gigi. Pembahasan berikut menguraikan cara kerja, tahapan, keterbatasan, dan perawatan lanjutan setelah aplikasi SDF.
Mengenal SDF sebagai Perawatan Karies Tanpa Pengeboran
SDF adalah larutan yang mengandung ion perak dan fluoride dalam suasana basa, dan digunakan untuk menghentikan laju karies gigi yang masih aktif. Larutan ini bekerja secara kimia pada jaringan gigi yang telah rusak, bukan dengan mengangkat jaringan tersebut.
Cara kerjanya dapat dipahami melalui tiga aspek berikut.
1. Ion Perak Menekan Aktivitas Bakteri di Dentin
Komponen perak dalam SDF berperan sebagai agen antimikroba pada dentin yang telah melunak akibat karies.
Bakteri yang tersisa di dasar lubang umumnya menjadi tidak aktif setelah terpapar ion perak. Lesi yang semula lunak dan rapuh dapat berubah menjadi lebih keras serta lebih stabil secara klinis.
Baca juga: Manfaat Topical Fluoride bagi Si Kecil
Perubahan tekstur inilah yang menjadi penanda utama bahwa proses karies telah berhenti berkembang.
2. Fluoride Mendukung Remineralisasi Jaringan Gigi
Selain perak, SDF mengandung fluoride berkonsentrasi tinggi yang berperan pada remineralisasi atau proses pengembalian mineral ke jaringan gigi.
Fluoride membantu membentuk lapisan yang lebih tahan asam pada permukaan dentin yang terpapar. Kombinasi perak dan fluoride dilaporkan memberi efek yang saling melengkapi dibandingkan penggunaan fluoride saja.
Sediaan yang paling banyak diteliti pada anak adalah SDF dengan konsentrasi 38 persen.
3. Prosedur Berjalan Tanpa Bor dan Tanpa Suntikan
Karena tidak ada jaringan yang diangkat, aplikasi SDF umumnya tidak memerlukan pengeboran maupun anestesi lokal.
Hal ini menjadi pertimbangan penting pada anak yang mengalami dental anxiety atau kecemasan terhadap perawatan gigi. Anak yang belum mampu duduk tenang dalam waktu lama sering kali lebih siap menjalani prosedur singkat semacam ini.
Meskipun demikian, kenyamanan prosedur tidak otomatis menjadikan SDF pilihan terbaik untuk semua kondisi.
Hal yang Jarang Dijelaskan Sebelum Perawatan Ini Dimulai
Efek samping yang paling konsisten dilaporkan adalah perubahan warna menjadi kehitaman pada area karies yang dirawat. Warna tersebut bersifat permanen pada jaringan yang sudah rusak dan tidak dapat dihilangkan dengan penyikatan biasa.
Larutan ini juga tidak mengembalikan bentuk gigi, sehingga lubang tetap ada meskipun prosesnya sudah berhenti. Pada gigi susu berlubang di bagian depan yang terlihat saat anak tersenyum, pertimbangan estetik sering kali menjadi penentu keputusan.
Selain itu, penggunaannya tidak dianjurkan pada anak dengan riwayat alergi terhadap senyawa perak. Sariawan luas dan radang gusi yang sedang aktif juga umumnya menjadi alasan untuk menunda aplikasi.
Bagaimana Tahapan Aplikasi SDF Berlangsung di Klinik?
Pemeriksaan awal dilakukan untuk menilai kedalaman lubang, riwayat nyeri, dan kondisi jaringan di sekitarnya. Foto rontgen dapat diperlukan apabila dokter gigi mencurigai keterlibatan ruang saraf.
Gigi kemudian diisolasi dengan gulungan kapas lalu dikeringkan, sementara bibir dan kulit sekitar dilindungi agar tidak ikut ternoda. SDF dioleskan tipis menggunakan aplikator kecil, hanya pada permukaan yang berlubang.
Larutan dibiarkan menyerap sekitar satu menit sebelum kelebihannya diserap kembali. Anak umumnya diminta tidak makan dan minum selama kurang lebih satu jam setelah aplikasi SDF.
Pada sebagian kasus, dokter gigi menutup lubang dengan glass ionomer cement setelah larutan bekerja. Pendekatan gabungan ini dikenal sebagai silver modified atraumatic restorative treatment, dan bertujuan mengembalikan bentuk gigi sekaligus menyamarkan noda gelap.
Perawatan di Rumah Setelah Aplikasi SDF Selesai
Tinjauan sistematis melaporkan sekitar 81 persen lesi karies aktif pada gigi susu berhenti berkembang setelah aplikasi SDF 38 persen, meskipun angka tersebut tetap bergantung pada perawatan harian di rumah.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua antara lain:
1. Tunda Makan dan Minum pada Satu Jam Pertama
Jeda singkat setelah aplikasi memberi waktu bagi larutan untuk berikatan dengan jaringan gigi. Makanan yang masuk terlalu cepat berpotensi mengurangi kontak tersebut.
Air putih biasanya sudah boleh diberikan setelah jeda selesai, kecuali dokter gigi menyarankan lain.
2. Sikat Gigi Anak Dua Kali Sehari secara Terarah
Penyikatan pagi dan sebelum tidur tetap menjadi dasar pengendalian karies, termasuk pada gigi yang sudah dirawat. Pasta gigi berfluoride digunakan sesuai takaran yang dianjurkan untuk usia anak.
Orang tua sebaiknya masih mendampingi hingga anak benar-benar mampu menjangkau seluruh permukaan gigi belakang.
3. Batasi Frekuensi Camilan Manis di Antara Waktu Makan
Frekuensi paparan gula sering kali lebih menentukan dibandingkan jumlahnya. Camilan yang dikonsumsi sedikit demi sedikit sepanjang hari membuat rongga mulut berada dalam kondisi asam lebih lama.
Mengelompokkan camilan ke dalam waktu tertentu dapat membantu menjaga kesehatan gigi anak dalam jangka panjang.
4. Jadwalkan Kontrol Ulang dan Perlindungan Tambahan
Efek SDF tidak berlangsung selamanya, sehingga aplikasi ulang umumnya dijadwalkan secara berkala. Dokter gigi akan menilai kembali tekstur lesi pada setiap kunjungan.
Pada gigi geraham yang permukaannya masih utuh, fissure sealant dapat dipertimbangkan sebagai upaya pencegahan tambahan.
Syarat agar Hasil SDF Bertahan dalam Jangka Panjang
Apabila Anda sedang mempertimbangkan perawatan ini untuk anak, keputusan sebaiknya diambil setelah pemeriksaan langsung. SDF bekerja paling baik ketika ditempatkan sebagai bagian dari rencana pengendalian karies, bukan sebagai tindakan tunggal.
Perubahan warna yang muncul memang tidak dapat dihindari, tetapi warna gelap tersebut justru menandakan lesi yang telah mengeras. Pada gigi belakang, perubahan ini umumnya tidak terlihat saat anak berbicara maupun tersenyum.
Segera bawa anak ke dokter gigi apabila muncul nyeri berdenyut, pembengkakan gusi atau pipi, dan demam. Kondisi tersebut mengarah pada infeksi yang membutuhkan penanganan berbeda dan tidak dapat diselesaikan dengan aplikasi SDF.
Diskusi terbuka mengenai kelebihan sekaligus keterbatasan perawatan biasanya membantu orang tua mengambil keputusan tanpa tergesa. Tim dokter gigi Damessa dapat membantu menilai apakah SDF sesuai dengan kondisi gigi anak Anda.
Pemeriksaan dapat dilakukan di Klinik Gigi Damessa terdekat, bersama dokter gigi yang terbiasa menangani pasien anak.
Referensi
- Gao, S. S., Zhao, I. S., Hiraishi, N., Duangthip, D., Mei, M. L., Lo, E. C. M., & Chu, C. H. (2016). Clinical trials of silver diamine fluoride in arresting caries among children: A systematic review. JDR Clinical & Translational Research, 1(3), 201–210.
- American Academy of Pediatric Dentistry. (2017). Use of silver diamine fluoride for dental caries management in children and adolescents, including those with special health care needs. Pediatric Dentistry, 39(5), 135–145.
- American Dental Association. (2024). Silver diamine fluoride. ADA Oral Health Topics.