
Rekap Singkat!
- Overbite yang dalam dapat terbentuk karena pola pertumbuhan rahang, kebiasaan oral sejak kecil, atau hilangnya dukungan gigi belakang.
- Tidak semua overbite bermasalah, karena tumpang tindih gigi depan sekitar 2–4 milimeter masih tergolong normal.
- Overbite yang menekan jaringan lunak perlu segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kerusakan gusi dan gigi depan.
- Pemilihan klinik dan dokter gigi spesialis ortodonti turut menentukan ketepatan diagnosis serta jenis alat yang digunakan.
Sebagian orang baru menyadari gigi depan atasnya menutupi gigi bawah setelah melihat foto dari samping. Kondisi tersebut dikenal sebagai overbite, dan derajatnya sangat bervariasi antarindividu.
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah apakah overbite masih dapat diperbaiki pada usia dewasa. Jawabannya bergantung pada penyebabnya, apakah berasal dari posisi gigi atau dari struktur rahang.
Overbite ringan umumnya tidak memerlukan tindakan apa pun. Namun tumpang tindih yang berlebihan dapat memicu keausan gigi depan dan iritasi jaringan lunak. Pembahasan berikut menguraikan penyebab, tanda yang perlu diwaspadai, serta pilihan perawatan yang tersedia.
Mengapa Overbite Bisa Terbentuk dan Terus Berkembang?
Secara klinis, overbite menggambarkan seberapa jauh gigi seri atas menutupi gigi seri bawah dalam arah vertikal saat rahang menutup. Tumpang tindih sekitar 2–4 milimeter umumnya masih dianggap wajar, sedangkan overlap yang jauh melampaui angka itu digolongkan sebagai overbite yang dalam.
Beberapa faktor berikut umumnya berperan pada pembentukannya.
1. Pola Rahang dan Bentuk Gigi yang Diturunkan
Sebagian besar kasus overbite yang dalam berkaitan dengan pola pertumbuhan rahang yang diwariskan dalam keluarga.
Tinggi wajah bagian depan yang relatif pendek membuat gigi depan cenderung saling menutup lebih jauh. Bentuk mahkota gigi seri yang panjang juga dapat menambah kesan tumpang tindih meskipun posisi rahang tergolong normal.
Baca juga: Underbite: Penyebab, Gejala, dan Perawatan
Kondisi semacam ini termasuk salah satu bentuk maloklusi yang paling sering ditemukan dalam praktik ortodonti.
2. Kebiasaan Oral dan Tekanan Otot Kunyah
Kebiasaan yang berlangsung lama sejak masa kanak-kanak dapat memengaruhi posisi akhir gigi depan. Dorongan lidah ke arah samping dan kebiasaan menggigit bibir termasuk di antaranya.
Otot kunyah yang kuat juga memberi tekanan vertikal pada lengkung gigi. Bruxism atau kebiasaan menggertakkan gigi dapat mempercepat pengurangan tinggi mahkota gigi belakang.
Apabila gigi belakang memendek, gigi depan cenderung menutup lebih dalam dari posisi sebelumnya.
3. Kehilangan Gigi Belakang dan Keausan Permukaan
Gigi geraham berperan sebagai penyangga ketinggian gigitan. Ketika satu atau beberapa gigi belakang hilang dan tidak diganti, dukungan tersebut berkurang.
Rahang bawah kemudian dapat menutup lebih jauh dari posisi semula. Overbite yang tadinya normal pun berpotensi bertambah dalam seiring waktu.
Pola ini menjelaskan mengapa sebagian orang dewasa merasa gigitannya berubah tanpa pernah menjalani perawatan ortodonti.
Kondisi Ini Sering Tidak Menimbulkan Keluhan di Awal
Tumpang tindih yang berlebihan jarang menimbulkan rasa sakit pada tahap awal. Banyak pasien datang dengan keluhan estetik, bukan karena nyeri.
Tanda yang lebih halus justru muncul pada permukaan gigi. Tepi gigi seri bawah yang memendek, gigi depan atas yang tampak makin tipis, serta luka berulang di langit-langit di belakang gigi depan termasuk petunjuk yang sering terlewat.
Sebagian pasien juga mengeluhkan bunyi atau rasa lelah pada sendi rahang, meskipun hubungan antara pola gigitan dan gangguan TMJ masih terus diperdebatkan dalam literatur.
Pilihan Perawatan untuk Memperbaiki Overbite yang Dalam
Langkah pertama adalah menentukan apakah overbite berasal dari posisi gigi atau dari hubungan rahang. Pemeriksaan klinis biasanya dilengkapi foto rontgen sefalometri untuk menilai proporsi wajah.
Pada kasus yang bersifat dental, perbaikan dilakukan dengan meratakan lengkung gigi. Dokter gigi dapat memilih menekan posisi gigi depan, menaikkan gigi belakang, atau menggabungkan keduanya sesuai tampilan gusi saat pasien tersenyum.
Alat yang digunakan dapat berupa behel dan clear aligner, tergantung besarnya pergerakan yang direncanakan. Pada anak yang masih tumbuh, alat fungsional kadang dipakai lebih dahulu, meskipun tinjauan sistematis menyimpulkan bukti pembandingnya masih terbatas.
Kasus yang berakar pada ketidaksesuaian rahang umumnya tidak selesai dengan pergerakan gigi saja. Dalam kondisi tersebut, kombinasi perawatan ortodonti dan bedah ortognatik dapat dipertimbangkan setelah pertumbuhan dinyatakan selesai.
Kebiasaan yang Membantu Menjaga Hasil Perawatan Overbite
Perbaikan overbite pada pasien dewasa cenderung lebih rentan kembali dibandingkan pada anak yang masih tumbuh, sehingga tumpang tindih 2–4 milimeter yang sudah dicapai perlu dijaga secara aktif.
Beberapa kebiasaan yang dapat membantu antara lain:
1. Gunakan Retainer sesuai Jadwal yang Ditentukan
Gigi memiliki kecenderungan kembali ke posisi lama pada bulan-bulan pertama setelah alat dilepas. Retainer gigi berfungsi menahan hasil selama jaringan pendukung menyesuaikan diri.
Frekuensi pemakaian biasanya dikurangi secara bertahap, dan penilaiannya diserahkan kepada dokter gigi yang merawat.
2. Ganti Gigi Belakang yang Hilang Tanpa Menunda
Ruang kosong di area geraham membuat ketinggian gigitan kehilangan penyangga. Kondisi ini dapat memperdalam kembali tumpang tindih gigi depan.
Penggantian dengan gigi tiruan, jembatan, atau implan sebaiknya dibicarakan segera setelah pencabutan direncanakan.
3. Kendalikan Kebiasaan Menggertakkan Gigi saat Tidur
Tekanan berulang pada malam hari dapat mengikis permukaan kunyah tanpa disadari. Keausan tersebut secara perlahan menurunkan tinggi gigitan.
Pelindung gigi malam atau night guard dapat dipertimbangkan apabila dokter gigi menemukan tanda keausan yang terus berkembang.
4. Jadwalkan Pemeriksaan Berkala untuk Menilai Gigitan
Perubahan posisi gigi umumnya berlangsung perlahan dan sulit dinilai sendiri. Pemeriksaan berkala memungkinkan pergeseran kecil terdeteksi lebih awal.
Dokumentasi foto dan cetakan gigi dari waktu ke waktu membantu membandingkan kondisi secara lebih objektif.
Overbite Umumnya Masih Dapat Diperbaiki dengan Penanganan Tepat
Apabila Anda merasa gigi depan atas menutupi gigi bawah terlalu jauh, langkah paling masuk akal adalah memastikan derajatnya melalui pemeriksaan. Sebagian kasus ternyata masih berada dalam batas yang wajar.
Usia dewasa bukan penghalang untuk memperbaiki overbite. Pergerakan gigi tetap dapat dilakukan sepanjang jaringan pendukungnya sehat, meskipun durasi perawatan mungkin lebih panjang.
Perlu diingat bahwa hasil yang realistis ditentukan sejak tahap diagnosis. Overbite dental dan overbite skeletal membutuhkan pendekatan yang berbeda, dan menyamakan keduanya justru berisiko mengecewakan.
Segera periksakan diri apabila muncul luka berulang di langit-langit, gigi depan yang cepat memendek, atau nyeri sendi rahang yang menetap. Tim dokter gigi Damessa dapat menilai kondisi tersebut sekaligus merencanakan perawatan yang sesuai.
Konsultasi mengenai overbite dapat dilakukan di Klinik Gigi Damessa terdekat bersama dokter gigi spesialis ortodonti.
Referensi
Millett, D. T., Cunningham, S. J., O’Brien, K. D., Benson, P. E., & de Oliveira, C. M. (2018). Orthodontic treatment for deep bite and retroclined upper front teeth in children. Cochrane Database of Systematic Reviews, (2), CD005972.
Nanda, R. (2015). Management of deep overbite malocclusion. In Esthetics and biomechanics in orthodontics (2nd ed.). Elsevier Saunders.
Proffit, W. R., Fields, H. W., Larson, B. E., & Sarver, D. M. (2019). Contemporary orthodontics (6th ed.). Elsevier.