Toothpaste Whitening Beneran Bikin Gigi Putih Ini Faktanya

Rekap Singkat!

  • Gigi tampak menguning karena noda dari kopi dan teh, penumpukan plak yang mengeras, atau perubahan warna yang berasal dari dalam jaringan gigi.
  • Tidak semua perubahan warna dapat diatasi toothpaste whitening, karena sebagian bersumber dari lapisan yang lebih dalam.
  • Penipisan email akibat pemakaian pasta berdaya kikis tinggi sering baru disadari setelah gigi mulai terasa ngilu.
  • Gigi yang menghitam hanya pada satu sisi perlu segera diperiksa agar penyebab dari dalam tidak terlewat.

Rak pasta gigi di minimarket dipenuhi kemasan yang menjanjikan senyum lebih cerah. Klaimnya terdengar sederhana, sedangkan mekanisme di baliknya jarang dijelaskan pada label.

Toothpaste whitening atau pasta gigi pemutih memang dapat mengubah tampilan gigi. Namun cara kerjanya berbeda dari perawatan pemutihan yang dilakukan di klinik.

Perbedaan tersebut menentukan seberapa jauh hasilnya bisa terlihat. Sebagian noda memang terangkat, sementara warna dasar gigi umumnya tetap sama. Pembahasan berikut menguraikan mekanisme, batas kemampuan, dan cara pakai toothpaste whitening yang lebih aman.

Bagaimana Toothpaste Whitening Bekerja pada Permukaan Gigi?

Toothpaste whitening bekerja pada lapisan terluar gigi, bukan pada jaringan di bawahnya. Mekanisme ini berbeda dari bleaching gigi yang mengandalkan reaksi kimia untuk mengubah warna dari dalam.

Umumnya ada tiga cara kerja yang dipakai dalam formulanya.

1. Partikel Abrasif Mengangkat Noda yang Menempel

Hampir semua pasta gigi mengandung partikel halus seperti silika terhidrasi yang mengikis lapisan noda ketika disikat.

Produk berlabel pemutih umumnya memiliki daya kikis lebih tinggi, yang diukur melalui indeks relative dentin abrasivity. Daya kikis itulah yang mengangkat noda ekstrinsik, yaitu pigmen yang menempel di permukaan email.

Baca juga: Memutihkan Gigi dengan Pasta Gigi Charcoal, Beneran Ngga Sih?

Tinjauan sistematis menyimpulkan efek cerah pada pasta berbahan arang aktif sebenarnya berasal dari daya kikis tersebut, bukan dari reaksi pemutihan.

2. Bahan Kimia Tambahan Menghambat Pigmen Menempel Kembali

Sebagian formula toothpaste whitening menambahkan surfaktan, pirofosfat, atau senyawa polimer untuk mengurangi penempelan pigmen baru.

Bahan tersebut tidak mengubah warna dasar gigi. Perannya lebih dekat pada pencegahan, sehingga hasilnya terlihat sebagai noda yang tidak bertambah gelap dari waktu ke waktu.

Beberapa produk juga memuat hydrogen peroxide dalam kadar rendah, meskipun waktu kontaknya saat menyikat gigi umumnya terlalu singkat untuk memberi efek setara perawatan klinik.

3. Pewarna Biru Menciptakan Efek Optik Sesaat

Sebagian toothpaste whitening mengandung blue covarine, yaitu pigmen biru yang menempel tipis pada permukaan email.

Lapisan itu menggeser persepsi warna dari kekuningan ke arah yang lebih netral, sehingga gigi tampak lebih putih segera setelah menyikat. Uji klinis menunjukkan perubahan tersebut bersifat optik dan tidak mengubah warna jaringan gigi.

Efeknya karena itu berkurang seiring lapisan pigmen terlepas dari permukaan.

Perbedaan Ini Menentukan Sejauh Mana Warna Bisa Berubah

Noda ekstrinsik berada di permukaan dan berasal dari kopi, teh, rokok, atau obat kumur tertentu. Jenis inilah yang masih mungkin berkurang dengan bantuan toothpaste whitening.

Perubahan warna intrinsik berbeda asalnya. Warna dentin yang menggelap seiring usia, riwayat obat tertentu pada masa pertumbuhan, atau cedera pada gigi tidak dapat dijangkau dari luar permukaan.

Hal yang juga sering terlewat adalah bahan tambalan dan mahkota buatan. Warna tambal gigi maupun crown gigi tidak berubah mengikuti gigi asli, sehingga selisih warnanya dapat menjadi lebih terlihat.

Langkah yang Diperlukan Ketika Toothpaste Whitening Tidak Cukup

Langkah pertama biasanya bukan mengganti pasta gigi, melainkan memastikan penyebabnya. Dokter gigi menilai apakah warna berasal dari lapisan permukaan, jaringan dalam, atau kombinasi keduanya.

Noda yang sudah mengeras bersama karang gigi tidak lagi terangkat oleh sikat. Pembersihan melalui scaling umumnya diperlukan lebih dahulu sebelum warna gigi dinilai kembali.

Apabila persoalannya berada pada warna dasar, perawatan pemutihan di klinik menjadi pilihan yang lebih sesuai. Pada kasus dengan perubahan bentuk atau noda yang sangat membandel, veneer gigi dapat dipertimbangkan setelah pemeriksaan.

Segera periksakan diri apabila satu gigi menggelap sendiri, terutama bila ada riwayat benturan atau nyeri sebelumnya. Kondisi tersebut dapat menandakan jaringan saraf yang mati dan biasanya memerlukan perawatan saraf gigi, bukan produk pemutih.

Cara Memakai Toothpaste Whitening agar Tetap Aman

Pemakaian dua kali sehari umumnya masih aman pada gigi yang sehat, meskipun risikonya meningkat ketika produk berdaya kikis tinggi dipakai bersama teknik menyikat yang terlalu keras.

Beberapa hal yang dapat diperhatikan antara lain:

1. Perhatikan Kandungan Fluoride pada Kemasan

Sebagian produk pemutih dipasarkan tanpa fluoride demi kesan alami. Padahal fluoride merupakan bahan dengan bukti paling kuat dalam mencegah gigi berlubang.

Apabila produk pilihan tidak memuat fluoride, dokter gigi dapat menyarankan sumber perlindungan lain sebagai penyeimbang.

2. Kurangi Tekanan Saat Menyikat Gigi

Daya kikis pasta bekerja bersama tekanan sikat, sehingga tekanan berlebih memperbesar kehilangan lapisan email. Gerakan lembut dengan bulu sikat halus umumnya sudah memadai.

Rasa ngilu yang muncul saat menyeruput minuman dingin dapat menjadi tanda bahwa tekanannya perlu dikurangi.

3. Selang-Seling dengan Pasta Gigi Harian Biasa

Pemakaian bergantian menekan paparan bahan abrasif tanpa menghilangkan manfaat pembersihannya. Cara ini sering disarankan bagi pengguna yang giginya mudah ngilu.

Toothpaste whitening dapat diposisikan sebagai pelengkap berkala, bukan sebagai pasta gigi utama setiap hari.

4. Batasi Sumber Noda dari Makanan dan Minuman

Kopi, teh, dan rokok tetap menjadi penyumbang noda terbesar pada permukaan gigi. Berkumur dengan air setelah mengonsumsinya dapat mengurangi waktu kontak pigmen.

Menyikat gigi sebaiknya tidak dilakukan segera setelah minuman asam, karena email sedang dalam kondisi lebih rentan.

Toothpaste Whitening Berguna dalam Batas yang Wajar

Apabila Anda mengharapkan perubahan beberapa tingkat warna hanya dari pasta gigi, harapan itu kemungkinan tidak akan terpenuhi. Toothpaste whitening lebih tepat dipandang sebagai penjaga kebersihan permukaan, bukan sebagai pengganti perawatan pemutihan.

Manfaatnya tetap nyata pada pengguna dengan noda permukaan ringan. Gigi yang bebas plak dan noda kopi umumnya sudah tampak lebih cerah tanpa tindakan tambahan.

Perlu diingat bahwa warna gigi yang benar-benar putih pada setiap orang tidak selalu realistis. Warna dasar dentin berbeda antarindividu, dan hasil yang wajar biasanya berupa warna yang lebih bersih, bukan seragam.

Pemeriksaan langsung membantu memisahkan noda permukaan dari perubahan warna yang lebih dalam. Tim dokter gigi Damessa dapat menjelaskan pilihan yang sesuai setelah sumber warnanya diketahui.

Konsultasi mengenai warna gigi dapat dilakukan di Klinik Gigi Damessa terdekat sebelum memilih produk maupun perawatan.

Referensi

  • Joiner, A. (2010). Whitening toothpastes: A review of the literature. Journal of Dentistry, 38(Suppl. 2), e17–e24.
  • Brooks, J. K., Bashirelahi, N., & Reynolds, M. A. (2017). Charcoal and charcoal-based dentifrices: A literature review. The Journal of the American Dental Association, 148(9), 661–670.
  • Vaz, V. T. P., Jubilato, D. P., Oliveira, M. R. M., Bortolatto, J. F., Floros, M. C., Dantas, A. A. R., & Oliveira Junior, O. B. (2019). Whitening toothpaste containing activated charcoal, blue covarine, hydrogen peroxide or microbeads: Which one is the most effective? Journal of Applied Oral Science, 27, e20180051.