
Rekap Singkat!
- Torus palatinus pada mulut adalah pertumbuhan tulang jinak yang terbentuk di bagian tengah langit-langit keras mulut, tepat di garis tengahnya.
- Kondisi ini sangat umum ditemukan dan bukan merupakan tumor atau kanker, meskipun penampilannya bisa mengkhawatirkan bagi yang baru menyadarinya.
- Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, tetapi faktor genetik dan tekanan fungsional dari mengunyah diduga berperan.
- Torus palatinus pada mulut tidak memerlukan penanganan kecuali mengganggu fungsi bicara, menelan, atau menghalangi pemasangan gigi palsu.
- Jika tiba-tiba membesar dengan cepat, terasa nyeri, atau permukaannya berubah, segera periksakan ke dokter gigi.
Tidak sedikit orang yang panik ketika pertama kali menyadari ada benjolan keras di tengah langit-langit mulutnya. Pikiran langsung melayang ke hal-hal yang menakutkan, mulai dari tumor hingga kanker.
Padahal dalam banyak kasus, benjolan keras tersebut adalah torus palatinus pada mulut, yaitu kondisi jinak berupa pertumbuhan tulang yang bukan kanker dan umumnya tidak berbahaya.
Memahami torus palatinus pada mulut akan membantu Anda menentukan langkah yang tepat, antara tenang karena memang tidak perlu khawatir, atau segera ke dokter gigi jika ada tanda yang perlu diwaspadai.
Apa Itu Torus Palatinus pada Mulut
Mari mulai dari definisinya lebih dulu agar gambarannya lebih jelas.
Torus palatinus pada mulut adalah tonjolan atau eksostosis tulang yang tumbuh di sepanjang garis tengah palatum durum, yaitu bagian keras dari langit-langit mulut. Tonjolan ini terasa keras saat disentuh karena memang terdiri dari tulang kortikal, bukan jaringan lunak seperti kista atau tumor. Permukaannya dilapisi mukosa yang tampak normal, meski biasanya lebih tipis dibanding mukosa di area lain.
Ukuran torus palatinus pada mulut sangat bervariasi antar individu, dari yang hampir tidak terasa hingga cukup besar dan menonjol ke dalam rongga mulut. Bentuknya pun beragam, bisa bulat dan halus, lonjong, bergelombang, atau berlobus. Pertumbuhannya berlangsung sangat lambat selama bertahun-tahun sehingga banyak orang tidak menyadari keberadaannya.
Seberapa Umum Torus Palatinus pada Mulut Terjadi
Angkanya mungkin akan cukup mengejutkan bagi yang baru pertama kali mendengarnya.
Torus palatinus pada mulut adalah salah satu variasi anatomi rongga mulut yang paling umum ditemukan dalam praktik kedokteran gigi sehari-hari. Prevalensinya diperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen pada populasi dewasa, meskipun angka ini bervariasi antar kelompok etnis. Beberapa studi menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi pada populasi Asia dan Inuit dibanding populasi Eropa atau Afrika.
Kondisi ini lebih sering ditemukan pada perempuan dibanding laki-laki, dengan rasio antara 1,5 hingga 3 kali lipat tergantung studi yang dirujuk. Kondisi ini juga cenderung lebih sering ditemukan pada usia dewasa pertengahan dan sering berjalan dalam keluarga, yang mengindikasikan adanya komponen herediter yang signifikan.
Apa yang Menyebabkan Torus Palatinus pada Mulut
Hingga kini penyebab pastinya masih menjadi subjek penelitian, tetapi beberapa faktor sudah cukup konsisten dilaporkan.
Faktor genetik tampaknya paling dominan, mengingat torus palatinus pada mulut cenderung berjalan dalam keluarga dan distribusinya berbeda signifikan antar kelompok etnis. Orang dengan anggota keluarga yang memiliki kondisi ini memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalaminya.
Selain genetik, tekanan fungsional dari mengunyah diduga merangsang pertumbuhan tulang di area langit-langit sebagai respons adaptif terhadap beban mekanis berulang. Teori ini menjelaskan mengapa torus palatinus pada mulut kadang tampak berkaitan dengan kebiasaan bruxism atau menggertakkan gigi serta oklusi yang kuat. Ada pula dugaan peran faktor hormonal mengingat prevalensinya yang lebih tinggi pada perempuan, meski mekanismenya belum sepenuhnya terbukti.
Baca juga: Jenis Gigi Palsu dan Harganya Lengkap Berdasarkan Metode Pemasangan
Apakah Torus Palatinus Menimbulkan Masalah
Jawabannya bergantung pada ukuran dan kebutuhan perawatan gigi masing-masing orang.
Dalam sebagian besar kasus, torus palatinus pada mulut sama sekali tidak menimbulkan masalah dan tidak memerlukan penanganan apa pun. Banyak orang hidup puluhan tahun dengan kondisi ini tanpa pernah menyadarinya.
Namun ada situasi tertentu di mana kondisi ini menjadi masalah. Tonjolan berukuran sangat besar bisa mengganggu bicara dengan mengubah resonansi suara atau mempersulit pengucapan konsonan tertentu. Tantangan klinis yang paling sering muncul adalah ketika pasien memerlukan gigi palsu yang menutup area langit-langit, karena tonjolan besar bisa menghalangi dudukan gigi palsu dan memicu sariawan akibat gesekan gigi tiruan.
Kapan Torus Palatinus Perlu Diangkat
Pengangkatan bukan tindakan rutin dan hanya dilakukan bila ada indikasi klinis yang jelas.
Indikasi tersebut antara lain ketika torus palatinus pada mulut secara signifikan mengganggu fungsi bicara atau menelan, menghalangi pemasangan gigi palsu, ukurannya sangat besar sehingga mukosa tipis di atasnya sering terluka, atau berulang kali mengalami ulserasi traumatik.
Prosedur pengangkatan dilakukan di bawah anestesi lokal oleh dokter gigi spesialis bedah mulut. Tonjolan tulang dikurangi secara bertahap menggunakan bur atau chisel, lalu mukosa di atasnya ditutup kembali dengan jahitan. Pemulihan umumnya berlangsung dua hingga empat minggu dengan diet makanan lunak.
Tanda yang Perlu Segera Diwaspadai
Meski jinak, ada beberapa perubahan yang sebaiknya tidak ditunda pemeriksaannya.
Jika pertumbuhan yang selama ini lambat tiba-tiba menjadi cepat dalam waktu singkat, kondisi ini perlu segera dievaluasi. Munculnya nyeri spontan di area tonjolan, perubahan warna mukosa di atasnya, luka atau ulserasi yang tidak kunjung sembuh dalam dua minggu, serta permukaan tonjolan yang mendadak terasa tidak rata adalah tanda yang perlu mendapat evaluasi profesional.
Kini Anda sudah memahami bahwa torus palatinus pada mulut adalah kondisi yang sangat umum dan dalam sebagian besar kasus sepenuhnya jinak. Mengetahui bahwa benjolan keras di langit-langit mulut Anda adalah torus palatinus bisa memberikan ketenangan pikiran dan mencegah kekhawatiran yang tidak perlu.
Jika Anda belum pernah memeriksakan benjolan tersebut dan belum tahu pasti penyebabnya, inilah saat yang tepat untuk melakukannya.
Di Klinik Gigi Damessa, dokter kami siap memastikan diagnosis dan memberikan rekomendasi yang paling tepat berdasarkan kondisi spesifik Anda.
Referensi
- Jainkittivong A, Langlais RP. (2000). Buccal and palatal exostoses: prevalence and concurrence with tori. Oral Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology, Oral Radiology, and Endodontology. 90(1):48-53.
- Haugen LK. (1992). Palatine and mandibular tori: a morphologic study in the current Norwegian population. Acta Odontologica Scandinavica. 50(4):201-210.
- Sawyer DR, Taiwo EA, Mosadomi A. (1983). Oral anomalies in Nigerian children. Community Dentistry and Oral Epidemiology. 11(5):322-325.