Apa Itu Sleep Apnea Kenali 5 Tandanya Saat Tidur

Rekap Singkat!

  • Sleep apnea dapat muncul karena jaringan lunak tenggorokan yang mudah kolaps, rahang bawah yang posisinya mundur, atau saluran napas hidung yang menyempit.
  • Tidak semua dengkuran menandakan sleep apnea, karena sebagian orang mendengkur tanpa henti napas sama sekali.
  • Keausan permukaan gigi dan rahang yang pegal saat bangun sering baru dikaitkan dengan gangguan tidur setelah dokter gigi menemukannya.
  • Henti napas berulang perlu segera dievaluasi agar tidak berkembang menjadi gangguan jantung dan tekanan darah.
  • Pemilihan klinik dan dokter gigi yang memahami gangguan napas saat tidur turut menentukan ketepatan rujukan serta jenis alat yang disarankan.

Sebagian orang menganggap dengkuran sebagai tanda tidur yang nyenyak. Padahal suara itu muncul justru ketika aliran udara harus melewati saluran yang menyempit.

Sleep apnea merupakan gangguan yang membuat napas berhenti berulang kali selama tidur. Penderitanya jarang menyadari sendiri, karena gejalanya berlangsung saat kesadaran sedang menurun.

Dokter gigi sering menjadi pihak pertama yang menemukan petunjuknya. Tanda pada permukaan gigi dan bentuk rahang dapat terlihat pada pemeriksaan rutin. Pembahasan berikut menguraikan mekanisme, tanda yang perlu diwaspadai, serta langkah pemeriksaan sleep apnea.

Sleep Apnea Terjadi Saat Saluran Napas Tertutup Berulang

Selama tidur, otot di sekitar tenggorokan melemas secara alami. Pada sebagian orang, pelemasan itu cukup untuk membuat dinding saluran napas saling menempel dan menutup aliran udara.

Henti napas dihitung ketika aliran udara terhenti setidaknya sepuluh detik. Otak kemudian membangunkan tubuh sesaat agar otot kembali menegang, dan siklus tersebut dapat berulang puluhan kali dalam semalam.

Struktur rongga mulut ikut berperan pada sebagian kasus. Lengkung rahang yang sempit dan posisi rahang bawah yang mundur mempersempit ruang di belakang lidah, sehingga penilaian dari sisi behel gigi dan susunan rahang kadang menjadi bagian dari gambaran keseluruhan.

5 Tanda Sleep Apnea yang Muncul Selama Tidur

Tanda yang paling mudah dikenali umumnya justru dilaporkan oleh pasangan atau anggota keluarga.

Beberapa tanda tersebut antara lain:

1. Dengkuran Keras yang Diselingi Jeda Hening

Pola suara pada sleep apnea berbeda dari dengkuran biasa. Suara keras berhenti mendadak, diikuti keheningan beberapa detik, lalu kembali dengan embusan napas yang lebih kasar.

Jeda hening itulah yang menandakan aliran udara sempat terputus. Pengamatan dari orang serumah karena itu sering lebih berguna daripada laporan penderitanya sendiri.

2. Terbangun dengan Tersedak atau Megap-Megap

Sebagian penderita terbangun tiba-tiba dengan rasa tercekik atau napas tersengal. Kejadian ini merupakan respons tubuh terhadap kadar oksigen yang menurun.

Meskipun singkat, episode tersebut memutus siklus tidur dalam. Tidur yang terpecah membuat tubuh tidak memperoleh pemulihan meskipun jam tidurnya cukup.

3. Bangun dengan Mulut Kering dan Sakit Kepala

Bernapas melalui mulut sepanjang malam mengeringkan permukaan lidah dan gusi. Kondisi ini sekaligus meningkatkan risiko gigi berlubang karena saliva berkurang.

Baca juga: Mulut Terasa Kering? Waspadai Masalah Gigi Berikut Ini!

Sakit kepala pada pagi hari juga sering dilaporkan, dan umumnya berkaitan dengan perubahan kadar oksigen selama tidur.

4. Rasa Kantuk Berlebihan Sepanjang Hari

Kantuk yang muncul saat rapat, membaca, atau mengemudi merupakan tanda yang paling sering diabaikan. Penderita cenderung menganggapnya sebagai kelelahan biasa.

Kantuk berlebihan pada penderita sleep apnea berkaitan dengan risiko kecelakaan lalu lintas. Keluhan ini sebaiknya disampaikan kepada dokter, bukan diatasi dengan menambah asupan kafein.

5. Gigi Aus dan Rahang Terasa Pegal Saat Bangun

Sebagian penderita menggertakkan gigi sebagai respons terhadap gangguan napas. Bruxism atau kebiasaan menggertakkan gigi tersebut meninggalkan permukaan kunyah yang memendek dan datar.

Keausan yang berlanjut dapat menuntut perbaikan bentuk gigi, misalnya melalui crown gigi pada kasus yang sudah lanjut. Dokter gigi umumnya menanyakan kualitas tidur ketika menemukan pola keausan semacam ini.

Gangguan Ini Kerap Dianggap Sekadar Kebiasaan Mendengkur Biasa

Mendengkur dan henti napas bukan hal yang sama. Sebagian orang mendengkur keras tanpa mengalami penyumbatan, sementara sebagian lain mengalami henti napas dengan suara yang justru tidak menonjol.

Anggapan bahwa gangguan ini hanya dialami orang bertubuh besar juga tidak sepenuhnya tepat. Bentuk rahang, ukuran amandel, dan struktur hidung ikut menentukan, sehingga orang bertubuh kurus tetap dapat mengalaminya.

Hal lain yang jarang disadari adalah dampaknya pada pemakai gigi buatan. Kehilangan gigi belakang mengubah tinggi gigitan dan posisi rahang, sehingga penggunaan gigi tiruan perlu dibicarakan bersama rencana penanganan gangguan napas.

Bagaimana Sleep Apnea Dipastikan dan Ditangani Secara Medis?

Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya dari keluhan. Pemeriksaan baku berupa studi tidur yang merekam aliran udara, kadar oksigen, dan gerakan dada sepanjang malam.

Hasilnya dinyatakan sebagai jumlah episode gangguan napas per jam. Nilai di atas lima kali dalam satu jam pada orang dewasa umumnya sudah masuk kategori yang perlu ditindaklanjuti.

Penanganan utama untuk kasus sedang hingga berat berupa alat tekanan udara positif yang dipakai saat tidur. Pada kasus ringan sampai sedang, atau pada pasien yang tidak dapat mentoleransi alat tersebut, dokter gigi dapat membuatkan alat pemaju rahang bawah setelah diagnosis ditegakkan dokter spesialis. Pemeriksaan rontgen gigi membantu menilai proporsi rahang sebelum alat dirancang.

Segera cari pertolongan medis apabila muncul nyeri dada, sesak berat, atau kantuk yang membuat pasien nyaris tertidur saat mengemudi. Kondisi tersebut menandakan dampak yang sudah melampaui gangguan tidur semata dan memerlukan penanganan segera.

Kebiasaan yang Membantu Mengurangi Risiko Sleep Apnea

Perubahan kebiasaan tidak menggantikan penanganan medis, meskipun beberapa penyesuaian sederhana dapat mengurangi beratnya keluhan pada sebagian orang.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Sampaikan Keluhan Tidur pada Kunjungan Gigi

Dokter gigi menilai bentuk lengkung rahang, ukuran lidah, dan pola keausan gigi pada pemeriksaan rutin. Informasi mengenai dengkuran melengkapi temuan tersebut.

Rujukan ke dokter spesialis dapat dipercepat apabila petunjuknya ditemukan sejak awal.

2. Perhatikan Posisi Tidur Setiap Malam

Tidur telentang membuat lidah dan langit-langit lunak lebih mudah jatuh ke belakang. Sebagian penderita melaporkan keluhan yang lebih ringan ketika tidur menyamping.

Penyesuaian posisi ini bersifat membantu, bukan menggantikan pemeriksaan.

3. Kurangi Alkohol dan Obat Penenang Menjelang Tidur

Kedua hal tersebut melemaskan otot saluran napas melebihi kondisi normal. Penyumbatan karena itu dapat menjadi lebih sering dan lebih lama.

Penghentian obat yang diresepkan sebaiknya hanya dilakukan atas arahan dokter yang memberikannya.

4. Perhatikan Pola Napas Anak Saat Tidur

Anak yang tidur dengan mulut terbuka, mendengkur, atau gelisah sepanjang malam perlu diperiksa lebih lanjut. Pola napas mulut dapat memengaruhi pertumbuhan lengkung rahang.

Pemeriksaan melalui layanan perawatan gigi anak membantu mendeteksi tanda tersebut pada masa pertumbuhan.

Sleep Apnea Dapat Dikelola dengan Penanganan yang Tepat

Apabila Anda mengenali beberapa tanda di atas pada diri sendiri atau anggota keluarga, langkah berikutnya adalah pemeriksaan, bukan menebak beratnya sendiri. Gangguan ini termasuk kondisi yang dapat dikelola ketika ditemukan lebih awal.

Penanganannya bersifat lintas bidang. Dokter spesialis menegakkan diagnosis, sementara dokter gigi berperan pada penilaian struktur rahang dan pembuatan alat oral apabila diindikasikan.

Perlu diingat bahwa alat pemaju rahang bukan produk yang dapat dibeli bebas dan dipakai tanpa pengawasan. Pemakaian jangka panjang dapat menggeser posisi gigi, sehingga pemantauan berkala tetap diperlukan.

Diskusi terbuka mengenai kualitas tidur biasanya membuka temuan yang tidak muncul pada pemeriksaan gigi biasa. Tim dokter gigi Damessa dapat membantu menilai tanda pada rongga mulut sekaligus mengarahkan pemeriksaan lanjutan.

Konsultasi mengenai tanda sleep apnea dari sisi gigi dan rahang dapat dilakukan di Klinik Gigi Damessa terdekat.

Referensi

  • Gottlieb, D. J., & Punjabi, N. M. (2020). Diagnosis and management of obstructive sleep apnea: A review. JAMA, 323(14), 1389–1400.
  • Ramar, K., Dort, L. C., Katz, S. G., Lettieri, C. J., Harrod, C. G., Thomas, S. M., & Chervin, R. D. (2015). Clinical practice guideline for the treatment of obstructive sleep apnea and snoring with oral appliance therapy: An update for 2015. Journal of Clinical Sleep Medicine, 11(7), 773–827.
  • Sateia, M. J. (2014). International classification of sleep disorders—third edition: Highlights and modifications. Chest, 146(5), 1387–1394.