Apa Penyebab Dilaserasi Gigi dan Bagaimana Menanganinya

Rekap Singkat!

  • Dilaserasi gigi umumnya berkaitan dengan benturan pada gigi susu, gangguan perkembangan benih gigi, atau hambatan ruang saat gigi tumbuh.
  • Tidak semua akar yang bengkok menimbulkan keluhan karena sebagian gigi tetap berfungsi normal seumur hidup.
  • Sebagian pasien baru mengetahui kondisinya setelah menjalani foto rontgen menjelang perawatan saluran akar atau pemasangan behel.

Bentuk akar gigi tidak selalu lurus seperti yang dibayangkan banyak orang. Sebagian gigi memiliki akar yang membelok tajam pada satu titik.

Kondisi ini dikenal dengan istilah dilaserasi gigi, yaitu perubahan sudut yang mencolok antara mahkota dan akar. Kelainan tersebut umumnya terbentuk jauh sebelum gigi muncul ke permukaan.

Tidak sedikit orang yang tidak pernah menyadari memilikinya. Padahal, dilaserasi gigi dapat memengaruhi jalannya perawatan tertentu. Oleh karena itu, mengenali kondisinya sejak awal cukup bermanfaat.

Apa Penyebab Dilaserasi Gigi pada Anak dan Dewasa?

Dilaserasi gigi terbentuk ketika sebagian benih gigi sudah mengeras, lalu bagian yang belum terbentuk melanjutkan pertumbuhannya pada sudut yang berbeda. Karena letaknya di dalam tulang, kondisinya umumnya baru terlihat saat pemeriksaan menjelang perawatan saluran akar.

Beberapa penyebab yang sering dikaitkan antara lain:

1. Benturan pada Gigi Susu Sebelum Gigi Tetap Tumbuh

Penyebab yang paling banyak diterima adalah benturan pada gigi susu di atas benih gigi tetapnya.

Ujung akar gigi susu terletak sangat dekat dengan benih gigi penggantinya. Karena itu, benturan pada masa balita dapat menggeser bagian benih yang sudah mengeras.

Baca juga: Kapan Gel Anestesi Untuk Anak Digunakan? Simak Faktanya

Namun, tidak semua benturan berujung pada kelainan bentuk akar. Dampaknya bergantung pada arah, kekuatan, dan tahap perkembangan benih gigi saat kejadian.

2. Gangguan pada Perkembangan Benih Gigi

Sebagian kasus terjadi tanpa riwayat benturan sama sekali.

Gangguan pada proses pembentukan benih gigi diduga berperan pada kelompok ini. Beberapa laporan juga mengaitkannya dengan kelainan bawaan tertentu.

Dilaserasi gigi pada kelompok ini lebih sering ditemukan pada gigi belakang. Hal tersebut menjelaskan mengapa tidak semua kasus dapat dirunut ke riwayat kecelakaan.

3. Hambatan Ruang Saat Gigi Tumbuh

Ruang yang sempit di dalam rahang dapat memengaruhi arah pertumbuhan akar.

Adanya kista, gigi berlebih, atau gigi yang terhalang dapat membelokkan arah tumbuh benih gigi. Akar kemudian terbentuk mengikuti ruang yang tersedia.

Kondisi ini sering ditemukan bersamaan dengan gigi yang terlambat tumbuh. Karena itu, gigi yang tidak kunjung muncul sebaiknya diperiksakan.

Mengapa Kondisi Ini Sering Baru Ketahuan Saat Dewasa?

Bagian yang membelok berada di dalam tulang rahang sehingga tidak terlihat dari luar. Mahkota gigi umumnya tampak normal dan tumbuh pada posisi yang wajar.

Selain itu, gigi dengan akar bengkok umumnya tidak menimbulkan nyeri maupun gangguan mengunyah. Fungsi gigi tetap berjalan seperti biasa selama tidak ada masalah lain.

Dalam banyak kasus, dilaserasi gigi baru terlihat pada foto rontgen. Pemeriksaan tersebut biasanya dilakukan menjelang perawatan saluran akar, pencabutan, atau pemasangan behel.

Bagaimana Dilaserasi Gigi Ditangani oleh Dokter Gigi?

Langkah pertama adalah memastikan bentuk akar melalui pemeriksaan radiografi. Gambaran ini menjadi dasar untuk menentukan pendekatan perawatan yang sesuai.

Apabila gigi tidak menimbulkan keluhan, umumnya tidak diperlukan tindakan apa pun. Pemantauan berkala sering kali sudah memadai untuk kondisi seperti ini.

Namun, beberapa keadaan memerlukan perhatian lebih. Nyeri yang menetap, pembengkakan pada gusi, gigi yang tidak kunjung tumbuh melewati usia yang wajar, atau gigi yang goyang tanpa sebab jelas sebaiknya diperiksakan karena memerlukan penilaian lebih lanjut.

Pada gigi yang memerlukan perawatan saluran akar atau perawatan behel, dokter gigi umumnya menyesuaikan teknik dan durasinya. Perencanaan yang matang membantu mengurangi kemungkinan penyulit di tengah perawatan.

Langkah yang Membantu Mencegah Dilaserasi Gigi pada Anak

Sebagian besar kasus tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi kelompok yang berkaitan dengan benturan justru yang paling mungkin dikurangi risikonya.

Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:

1. Kurangi Risiko Benturan pada Masa Balita

Usia balita adalah masa ketika anak paling sering terjatuh saat belajar berjalan. Menata ruang bermain yang aman membantu mengurangi risiko benturan pada wajah.

Pengawasan saat bermain juga berperan penting. Benturan pada mulut sering terjadi dalam hitungan detik.

2. Periksakan Gigi Susu Setelah Anak Terjatuh

Gigi susu yang terlihat baik-baik saja belum tentu bebas masalah. Pemeriksaan membantu menilai apakah benih gigi tetapnya ikut terpengaruh.

Dokter gigi dapat menyarankan pemantauan berkala setelah kejadian. Langkah ini membantu mengenali perubahan sedini mungkin.

3. Pantau Pertumbuhan Gigi Tetap Anak

Gigi tetap yang tidak kunjung tumbuh sesuai waktunya perlu diperhatikan. Keterlambatan tersebut kadang berkaitan dengan bentuk akar yang tidak biasa.

Pemeriksaan radiografi dapat memperlihatkan posisi gigi yang belum muncul. Penilaian ini membantu menentukan perlu tidaknya tindakan.

4. Gunakan Pelindung Mulut saat Berolahraga

Anak yang aktif berolahraga memiliki risiko benturan yang lebih besar. Pelindung mulut dapat membantu meredam benturan pada gigi depan.

Alat ini umumnya dianjurkan pada olahraga dengan kontak fisik. Penggunaannya juga bermanfaat bagi gigi tetap yang sudah tumbuh.

Dilaserasi Gigi Bukan Halangan untuk Dirawat

Dilaserasi gigi memang membuat perawatan lebih menantang, tetapi hampir semua kasus tetap dapat ditangani dengan perencanaan yang tepat.

Ada beberapa hal yang perlu Anda pahami, mulai dari penyebabnya, alasan kondisi ini jarang disadari, hingga pentingnya pemeriksaan sebelum perawatan dimulai.

Yang terpenting adalah memastikan bentuk akar gigi Anda diketahui sebelum tindakan direncanakan.

Apabila Anda akan menjalani perawatan saluran akar, pencabutan, atau pemasangan behel, konsultasikan kondisi Anda ke Klinik Gigi Damessa.

Tim dokter gigi Damessa siap melakukan pemeriksaan menyeluruh dan menyusun rencana perawatan sesuai kondisi Anda. Dengan persiapan yang tepat, perawatan dapat berjalan lebih terkendali.

Referensi

  • Jafarzadeh, H., & Abbott, P. V. (2007). Dilaceration: Review of an endodontic challenge. Journal of Endodontics, 33(9), 1025-1030.
  • Topouzelis, N., Tsaousoglou, P., Pisoka, V., & Zouloumis, L. (2010). Dilaceration of maxillary central incisor: A literature review. Dental Traumatology, 26(5), 427-433.
  • Hamasha, A. A., Al-Khateeb, T., & Darwazeh, A. (2002). Prevalence of dilaceration in Jordanian adults. International Endodontic Journal, 35(11), 910-912.