
Ringkasan Singkat!
- Penyebab sariawan terdiri dari berbagai faktor seperti trauma mekanis, stres, kekurangan nutrisi, hingga kondisi kesehatan tertentu.
- Kebiasaan sehari-hari seperti menyikat gigi terlalu keras atau konsumsi makanan tertentu dapat memicu munculnya sariawan.
- Kekurangan vitamin dan mineral penting seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat meningkatkan risiko sariawan berulang.
- Faktor internal seperti perubahan hormon, genetik, dan ketidakseimbangan bakteri mulut juga berperan dalam terjadinya sariawan.
- Pencegahan sariawan dapat dilakukan dengan menjaga pola hidup sehat, mengelola stres, serta memperhatikan kebersihan dan kesehatan mulut.
Sariawan merupakan gangguan pada rongga mulut yang kerap dianggap ringan, namun dapat berdampak pada kenyamanan saat makan, minum, hingga berbicara. Luka kecil yang muncul di jaringan mukosa ini sering kali terjadi berulang tanpa disadari pemicunya. Padahal, terdapat berbagai faktor yang berperan, mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga kondisi kesehatan tertentu. Pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai faktor-faktor tersebut menjadi dasar penting untuk mengurangi risiko kemunculannya.
Baca juga: 9 Cara Menghilangkan Karang Gigi Secara Alami, Efektif!
10 Penyebab Sariawan yang Sering Terjadi
Berbagai faktor berikut menjelaskan penyebab sariawan dapat terbentuk sekaligus pendekatan yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risikonya.
1. Trauma Mekanis
Trauma mekanis pada jaringan mulut sering terjadi akibat tergigit, gesekan behel, atau penggunaan sikat gigi dengan tekanan berlebih. Kondisi ini menyebabkan lapisan mukosa mengalami luka terbuka sehingga menjadi penyebab sariawan yang paling sering terjadi.
Upaya pencegahan berfokus pada mengurangi sumber gesekan, seperti menggunakan orthodontic wax pada bagian kawat yang tajam, memilih sikat gigi berbulu soft atau extra soft, serta membiasakan proses mengunyah yang lebih perlahan untuk menghindari cedera berulang.
2. Stres Psikologis
Penyebab sariawan juga dapat timbul dari tekanan psikologis yang tidak terkelola dengan baik. Ketidakseimbangan ini membuat jaringan mulut lebih rentan mengalami peradangan, termasuk sariawan.
Salah satu cara mencegah yang dapat dilakukan mencakup pengelolaan stres secara konsisten, seperti latihan pernapasan serta menjaga kualitas tidur agar sistem imun tetap berada dalam kondisi optimal.
3. Kekurangan Zat Besi atau Vitamin Tertentu
Kekurangan zat besi, vitamin B12, dan asam folat dapat menghambat regenerasi sel epitel pada rongga mulut. Akibatnya, jaringan menjadi lebih mudah mengalami kerusakan dan sulit pulih saat terjadi luka kecil yang dapat menjadi penyebab sariawan.
Perbaikan kondisi ini dilakukan melalui pola makan yang seimbang dengan sumber nutrisi tersebut, seperti daging merah, sayuran hijau, telur, dan produk susu. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan kebutuhan tambahan nutrisi.
4. Paparan Sodium Lauryl Sulfate (SLS)
Kandungan Sodium Lauryl Sulfate dalam pasta gigi dapat mempengaruhi kelembaban alami mukosa mulut, terutama pada individu dengan sensitivitas tinggi. Lapisan pelindung yang menipis meningkatkan kerentanan terhadap iritasi sehingga dapat menjadi penyebab sariawan.
Penggunaan pasta gigi berlabel SLS-free menjadi alternatif untuk menjaga keseimbangan kelembaban dan melindungi jaringan mukosa dari iritasi berulang.
5. Alergi Makanan
Reaksi sensitivitas terhadap jenis makanan tertentu seperti buah sitrun, makanan pedas, cokelat, atau kacang-kacangan dapat memicu inflamasi lokal pada jaringan mulut. Respons ini tidak selalu muncul secara langsung, sehingga menjadi penyebab penyebab sariawan yang paling sulit dikenali.
Pencegahan yang efektif adalah melakukan pencatatan konsumsi harian melalui food diary untuk mengidentifikasi pola pemicu, kemudian mengatur kembali pola makan terutama saat kondisi tubuh sedang tidak optimal.
6. Fluktuasi Hormon
Perubahan hormon dalam siklus tertentu, khususnya menjelang menstruasi, berkaitan dengan meningkatnya kerentanan jaringan mukosa terhadap iritasi. Penurunan hormon progesteron pada fase luteal berkontribusi pada munculnya sariawan.
Penyesuaian pola hidup seperti menjaga hidrasi dan meningkatkan asupan vitamin C alami dari buah-buahan dapat membantu memperkuat daya tahan jaringan pada periode tersebut.
7. Faktor Genetik
Kecenderungan genetik tertentu berkaitan dengan sistem imun yang lebih sensitif terhadap rangsangan kecil di rongga mulut. Penyebab sariawan ini tidak dapat dimodifikasi, namun pengaruhnya dapat diminimalkan dengan mengelola faktor eksternal seperti stres, pola makan, dan kebiasaan menjaga kebersihan mulut secara konsisten.
8. Ketidakseimbangan Bakteri Mulut
Perubahan komposisi bakteri mulut dapat menurunkan fungsi perlindungan alami terhadap infeksi yang dapat berkembang menjadi penyebab sariawan. Dominasi bakteri patogen meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada jaringan mukosa.
Menjaga keseimbangan ini dapat dilakukan dengan penggunaan mouthwash non-alkohol serta konsumsi makanan probiotik seperti yogurt untuk mendukung keberadaan bakteri baik.
9. Berhenti Merokok Secara Mendadak
Perubahan kondisi jaringan mulut setelah penghentian kebiasaan merokok dapat menyebabkan mukosa menjadi lebih sensitif. Efek keratinisasi yang sebelumnya terbentuk akibat paparan asap rokok berkurang, sehingga jaringan lebih mudah mengalami iritasi.
Masa transisi ini dapat dikelola dengan terapi pengganti nikotin seperti permen karet atau patch, serta peningkatan asupan nutrisi dari buah-buahan untuk mempercepat adaptasi jaringan.
10. Masalah Kesehatan Tersembunyi
Kemunculan sariawan yang berulang atau tidak kunjung sembuh dapat disebabkan olej kondisi kesehatan lain seperti Celiac disease, Inflammatory Bowel Disease (IBD), atau penyakit Behçet. Sariawan berfungsi sebagai indikator awal dari gangguan yang lebih kompleks. Pemeriksaan medis menyeluruh menjadi langkah penting apabila luka muncul dalam jumlah banyak atau berlangsung lebih dari dua minggu.
Penyebab sariawan tidak hanya dipicu oleh satu faktor, melainkan hasil interaksi berbagai kondisi yang saling berkaitan, baik dari aspek kebiasaan, nutrisi, hingga kesehatan mulut. Beberapa faktor dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup, sementara sebagian lainnya memerlukan perawatan yang lebih spesifik atau evaluasi medis lanjutan.
Jika sariawan terasa parah, sering muncul, atau tidak kunjung sembuh, segera konsultasikan ke dokter gigi. Di Klinik Gigi Damessa, pelayanan diberikan oleh dokter gigi berpengalaman yang dapat membantu mendiagnosis penyebab dan memberikan perawatan yang tepat untuk mengatasi sariawan.
Referensi:
- D’Amario M, Foffo G, Grilli F, Capogreco M, Pizzolante T, Rastelli S. Treatments for Recurrent Aphthous Stomatitis: A Literature Review. Dentistry Journal. 2025 Feb;13(2):66. doi: 10.3390/dj13020066. Cited by: 10
- Rosa A, Cianconi G, De Angelis R, Pujia AM, Arcuri C. Hypovitaminosis and its association with recurrent aphthous stomatitis: a comprehensive review of clinical correlations and diagnostic considerations. Frontiers in Oral Health. 2025 Jan;6:1520067. doi: 10.3389/froh.2025.1520067. Cited by: 7
- Prehananto H, Istiati, Zahro S. Correlation Between Stress and Recurrent Aphthous Stomatitis in Bank BRI Tulungagung Employees: An Observational Analytic. Dentika: Dental Journal. 2023 Jun;26(1):67-71. doi: 10.32734/dentika.v26i1.10052. Cited by: 5
- Minhas S, Sajjad A, Kashif M, Taj F, Alwadaani H, Khurshid Z. Oral Ulcers Presentation in Systemic Diseases: An Update. Open Access Macedonian Journal of Medical Sciences. 2019 Sep;7(20):3341-3347. doi: 10.3889/oamjms.2019.689. PMID: 32002047. Cited by: 109
- Al-Amad SH, Hasan H. Vitamin D and hematinic deficiencies in patients with recurrent aphthous stomatitis. Clinical Oral Investigations. 2020 Jul;24(7):2427-2432. doi: 10.1007/s00784-019-03102-1. PMID: 31654210.
- Ślebioda Z, Szponar E, Kowalska A. Recurrent aphthous stomatitis: genetic aspects of etiology. Advances in Dermatology and Allergology/Postępy Dermatologii i Alergologii. 2013 Apr;30(2):96-102. doi: 10.5114/pdia.2013.34158. PMID: 24278051. Cited by: 158
- de Barros Gallo C, Mimura MA, Sugaya NN. Psychological stress and recurrent aphthous stomatitis. Clinics (Sao Paulo). 2009 Jul;64(7):645-648. doi: 10.1590/s1807-59322009000700007. PMID: 19606240. Cited by: 310
- Preeti L, Magesh KT, Rajkumar K, Karthik R. Recurrent aphthous stomatitis. Journal of Oral and Maxillofacial Pathology. 2011 Sep;15(3):252-256. doi: 10.4103/0973-029X.86669. PMID: 22144824. Cited by: 421
- Shulman JD. An exploratory study of self-reported aphthous ulcers in a general population, 1988-1994. Community Dentistry and Oral Epidemiology. 2004 Feb;32(1):30-36. doi: 10.1111/j.1600-0528.2004.00119.x. PMID: 14961838.
- Scully C, Gorsky M, Lozada-Nur F. The diagnosis and management of recurrent aphthous stomatitis: a consensus approach. The Journal of the American Dental Association. 2003 Feb;134(2):200-207. doi: 10.14219/jada.archive.2003.0134. PMID: 12630623.