
Rekap Singkat
- Perikoronitis adalah infeksi pada gusi di sekitar gigi bungsu yang tumbuh sebagian akibat penumpukan bakteri dan sisa makanan.
- Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri, bengkak, sulit membuka mulut, dan berisiko menyebabkan infeksi serius bila tidak ditangani.
- Penanganan perikoronitis meliputi pembersihan area gigi, obat-obatan, operkulektomi, hingga pencabutan gigi bungsu sesuai kondisi pasien.
Perikoronitis adalah peradangan pada jaringan gusi di sekitar gigi bungsu yang tumbuh sebagian. Kondisi ini terjadi karena penumpukan sisa makanan dan bakteri di bawah gusi yang menutupi gigi (operkulum) sehingga memicu infeksi. Gejala yang sering muncul meliputi nyeri, bengkak, bau mulut, hingga sulit membuka mulut.
Jika tidak ditangani, infeksi dapat menyebar dan menyebabkan komplikasi serius seperti abses hingga Ludwig’s angina. Penanganan meliputi pembersihan area gigi, obat-obatan, hingga tindakan seperti operkulektomi atau pencabutan gigi bungsu.
Apakah Sahabat Damessa pernah merasakan nyeri tiba-tiba pada rahang bawah, terutama di bagian gigi bungsu? Saat dilihat, rasanya tidak ada yang salah. Hanya terlihat gusi yang menonjol dan kemerahan di bagian paling belakang, tetapi kenapa bisa terasa sangat sakit? Yuk, cari tahu penjelasannya bersama di artikel berikut ini!
Apa itu Perikoronitis?
Perikoronitis merupakan suatu proses keradangan dalam rongga mulut yang disebabkan oleh adanya infeksi pada gusi yang mengelilingi atau menutupi gigi yang akan erupsi dan sering kali dikaitkan dengan erupsi gigi bungsu rahang bawah. Perikoronitis ini berasal dari bahasa Yunani, yakni “peri” yang berarti sekitar, “corona” yang berarti mahkota, dan “itis” yang berarti inflamasi atau keradangan.
Perikoronitis ini disebut juga dengan operkulitis. Hal ini dikarenakan adanya jaringan lunak yang menutupi gigi yang sebagian telah erupsi dikenal sebagai operkulum gusi atau flap perikoronal. Area ini yang biasanya sulit untuk dibersihkan sehingga terjadi penumpukan makanan pada sela-selanya dan berujung pada terjadinya keradangan.
Pada umumnya kondisi perikoronitis ini dirasakan oleh orang-orang di usia 20-29 tahun ketika gigi bungsu cenderung mulai dan sedang erupsi. Gejala perikoronitis dapat secara signifikan memengaruhi kualitas kehidupan sehari-hari, lho, Sahabat Damessa!
Hal ini dikarenakan adanya perikoronitis dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti berbicara, membuka mulut, mengunyah, bahkan untuk tidur. Jika tidak diobati, perikoronitis ini bisa berkembang menjadi infeksi yang mampu mengancam jiwa.
Perikoronitis ini dibagi menjadi dua kategori, yakni akut dan kronis. Perikoronitis akut biasanya terjadi secara tiba-tiba dan memiliki gejala yang signifikan seperti rasa nyeri yang hebat ketika menggigit, menelan, adanya bau mulut, serta ketidakmampuan untuk menutup rahang. Pada perikoronitis yang dikategorikan ke dalam perikoronitis kronis, biasanya pasien tidak akan merasakan adanya gejala ataupun bila ada hanya sekadar rasa nyeri yang tumpul disertai rasa tidak nyaman untuk sehari dua hari.

Mengapa Perikoronitis Bisa Terjadi?
Umumnya perikoronitis terjadi pada gigi bungsu yang tumbuh sebagian atau impaksi. Ketika gigi ini tumbuh sebagian atau bahkan mengalami impaksi, maka akan ada jaringan lunak berupa gusi yang menutupi gigi tersebut yang dikenal dengan operkulum. Area inilah yang merupakan tempat ideal untuk pertumbuhan bakteri dikarenakan sisa-sisa makanan dan plak mudah sekali terjebak di daerah operkulum ini serta menyebabkan terjadinya keradangan karena susah untuk dibersihkan.
Ditambah lagi dengan adanya faktor pemicu lain seperti trauma dari gigi atas saat menggigit, perikoronitis dalam fase akut dapat terjadi secara terus menerus. Ketika perikoronitis ini terjadi, jaringan dalam tubuh mampu bereaksi dengan melepaskan cairan inflamasi dan eksudat seluler yang secara klinis akan tampak seperti massa padat pada daerah perikoronal sehingga menyebabkan penderita kesusahan untuk menutup mulut.
Baca juga: Kapan Prosedur Operasi Flap Gusi Dibutuhkan? Ini Penjelasannya
Mengapa Perikoronitis Perlu Diwaspadai?
Sahabat Damessa, perikoronitis sangat perlu diwaspadai, lho! Pada awalnya, kondisi ini biasanya muncul sebagai rasa nyeri di sekitar gigi bungsu yang cukup mengganggu, bahkan pada beberapa orang dapat sampai mengganggu kualitas tidur.
Namun, jika tidak ditangani dengan baik, perikoronitis dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Pada kasus yang masih terlokalisasi di sekitar gigi, peradangan ini dapat berubah menjadi abses perikoronal. Infeksi tersebut kemudian berpotensi menyebar ke area orofaring dan dasar lidah yang dapat menyebabkan kesulitan menelan.
Dalam kondisi yang lebih parah, perikoronitis dapat berkembang menjadi Ludwig’s angina, yaitu infeksi serius pada ruang bawah lidah. Kondisi ini ditandai dengan demam, pembengkakan pada dasar mulut dan lidah, serta kesulitan menelan dan berbicara. Bahkan, pada kasus tertentu, pembengkakan dapat menekan saluran napas sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan berpotensi mengancam jiwa.
Lantas, Bagaimana Cara Mengatasi Perikoronitis?
Nyatanya ada berbagai macam cara untuk mengatasi perikoronitis ini, lho, Sahabat Damessa! Di antaranya:
1. Melakukan Pembersihan pada Operkulum Gigi Bungsu
Hal ini umumnya akan dilakukan di klinik Dokter Gigi, ya, Sahabat Damessa! Nantinya dokter gigi akan membersihkan operkulum pada gigi bungsu yang mengalami keluhan dengan air hangat maupun larutan saline. Cara lain juga dapat dilakukan dengan mengangkat operkulum secara perlahan dari gigi dengan menggunakan scaler maupun alat kuretase dan membersihkan bagian bawahnya dengan menggunakan antiseptik.
2. Kumur Antiseptik
Antiseptik yang bisa digunakan diantaranya adalah obat kumur yang mengandung chlorhexidine 0.12% maupun bisa juga berkumur dengan air garam hangat dua kali sehari.
3. Pemberian Obat Antibiotik dan Antinyeri (bila diperlukan)
Dikarenakan perikoronitis merupakan suatu proses keradangan akibat adanya infeksi dari bakteri, umumnya dokter gigi akan memberikan obat antibiotik dan antinyeri.
4. Pencabutan Gigi Bungsu (Odontektomi)
Studi menjelaskan bahwa operasi odontektomi boleh dilakukan ketika gigi bungsu bawah sudah tumbuh sempurna (mahkota dan akar sudah terbentuk).
5. Operkulektomi
Ketika penderita tetap ingin mempertahankan gigi bungsunya tanpa dilakukan pencabutan, maka tindakan operkulektomi akan disarankan. Operkulektomi bisa dilakukan dengan menggunakan laser maupun pisau bedah, lho!
6. Menjaga Kesehatan Rongga Mulut dan Rutin Kontrol ke Dokter Gigi
Menjaga kesehatan rongga mulut ini tidak hanya ketika dirasa perawatannya sudah selesai saja ya, Sahabat Damessa, tetapi juga ketika beraktivitas sehari-hari.
Sahabat Damessa sudah tahu, kan, bahwa perikoronitis ini merupakan suatu infeksi yang bisa menyebabkan berbagai komplikasi tidak hanya dalam rongga mulut saja, tetapi juga pada bagian kepala dan leher. Yuk, segera periksakan keluhanmu ke Klinik Damessa terdekat sebelum terlambat, ya, Sahabat Damessa!
Untuk memperoleh berbagai informasi edukatif seputar cara menjaga kesehatan gigi dan mulut, tips perawatan harian, serta update promo dan layanan terbaru, follow juga akun Instagram resmi di @damessa.dentalclinic sekarang juga dan dapatkan wawasan kesehatan yang lebih luas setiap harinya.
Referensi:
Dhonge, R. P., Zade, R. M., Gopinath, V., & Amirisetty, R. (2015). An Insight into Pericoronitis. Int J Dent Med Res, 1(6), 172–175.
Kwon G, Serra M. Pericoronitis. [Updated 2022 Nov 21]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK576411/