5 Penyebab Dislokasi Rahang yang Sering Tak Disadari

Rekap Singkat!

  • Dislokasi rahang dapat terjadi karena mulut terbuka terlalu lebar, bentuk sendi yang mendukung, atau ligamen penahan yang longgar.
  • Tidak semua bunyi pada sendi rahang menandakan dislokasi, karena sebagian hanya berupa pergeseran bantalan sendi.
  • Kelonggaran sendi yang menjadi dasar keluhan sering baru disadari setelah episode pertama terjadi.
  • Rahang yang terkunci terbuka perlu segera ditangani agar otot tidak mengalami kekakuan yang menyulitkan pengembalian posisi.
  • Pemilihan klinik dan dokter gigi berperan penting dalam penanganan awal serta pencegahan kejadian berulang.

Sendi rahang merupakan satu-satunya sendi tubuh yang dapat terlepas tanpa benturan dari luar. Gerakan sehari-hari yang tampak sepele sudah cukup memicunya pada orang tertentu.

Kondisi ini terjadi ketika bonggol sendi bergeser melewati tonjolan tulang di depannya dan tidak kembali sendiri. Mulut kemudian terkunci dalam posisi terbuka, disertai nyeri dan kesulitan berbicara.

Sebagian besar penyebabnya bukan kecelakaan besar. Justru kebiasaan biasa dan faktor bawaan yang lebih sering berperan. Pembahasan berikut menguraikan penyebab, penanganan awal, dan cara menurunkan risiko dislokasi rahang berulang.

Dislokasi Rahang Terjadi Saat Sendi Keluar dari Cekungannya

Sendi rahang bekerja dengan dua gerakan sekaligus, yaitu berengsel dan meluncur ke depan. Saat mulut terbuka lebar, bonggol sendi bergerak maju hingga mendekati puncak tonjolan tulang di depan cekungannya.

Pada kondisi normal, otot menarik bonggol tersebut kembali ketika mulut menutup. Dislokasi rahang muncul ketika bonggol terlanjur melewati tonjolan itu dan otot justru mengunci posisinya di sana.

Arah pergeseran ke depan merupakan yang paling sering ditemukan. Kondisi tersebut termasuk dalam kelompok gangguan TMJ atau gangguan sendi temporomandibular, meskipun tidak semua gangguan sendi berujung pada dislokasi.

5 Penyebab Dislokasi Rahang yang Kerap Terlewat

Sebagian besar kejadian dislokasi rahang bermula dari situasi yang tampak tidak berbahaya.

Beberapa penyebab tersebut antara lain:

1. Menguap Terlalu Lebar Tanpa Menahan Dagu

Menguap membuka mulut lebih lebar dibandingkan mengunyah maupun berbicara. Gerakan ini berlangsung refleks, sehingga sulit dikendalikan ketika sedang mengantuk.

Baca juga: Ciri Rahang Bergeser yang Perlu Diwaspadai

Tertawa terbahak, muntah, dan menggigit makanan yang terlalu tebal juga tercatat sebagai pemicu dislokasi rahang dalam laporan klinis.

2. Membuka Mulut Lama Selama Tindakan Medis

Tindakan yang berlangsung lama menuntut mulut tetap terbuka melebihi kebiasaan sehari-hari. Pencabutan gigi bungsu dan tindakan pada gigi belakang termasuk di antaranya.

Prosedur lain yang cukup panjang seperti perawatan saraf gigi juga menempatkan sendi pada posisi maju dalam waktu lama. Pemasangan alat bantu napas saat pembiusan tercatat sebagai penyebab lain dalam literatur.

Risiko ini dapat ditekan dengan pemberian jeda istirahat selama tindakan berlangsung.

3. Bentuk Sendi dan Ligamen yang Longgar

Sebagian orang memiliki cekungan sendi yang dangkal atau tonjolan tulang yang bentuknya kurang menahan. Ligamen dan kapsul sendi yang lentur menambah kemungkinan bonggol melewati batasnya.

Faktor ini bersifat bawaan dan tidak dapat diubah dengan latihan. Penderitanya biasanya baru mengetahui setelah mengalami episode pertama.

Kelenturan sendi yang berlebihan di bagian tubuh lain kadang menjadi petunjuk awal.

4. Efek Samping Obat yang Memicu Kejang Otot

Beberapa golongan obat dapat menimbulkan kontraksi otot wajah yang tidak terkendali. Kontraksi tersebut mampu mendorong rahang keluar dari posisinya.

Kejang dan gangguan saraf tertentu juga tercatat sebagai penyebab dalam laporan kasus. Riwayat pengobatan karena itu sebaiknya disampaikan kepada dokter gigi sebelum tindakan dimulai.

5. Riwayat Dislokasi Sebelumnya yang Tidak Ditangani

Episode pertama meninggalkan ligamen yang lebih longgar dari sebelumnya. Ambang pemicunya menurun, sehingga kejadian berikutnya dapat muncul pada gerakan yang lebih ringan.

Pola berulang inilah yang paling sering membawa pasien kembali ke unit gawat darurat. Penanganan yang berhenti pada pengembalian posisi saja umumnya belum cukup.

Kondisi Ini Berbeda dengan Bunyi Klik pada Sendi

Bunyi klik saat membuka mulut sering dikira tanda sendi yang akan terlepas. Padahal bunyi tersebut umumnya berasal dari bantalan sendi yang bergeser dan kembali sendiri.

Kondisi yang masih dapat kembali tanpa bantuan disebut subluksasi. Pembeda utamanya sederhana, yaitu apakah pasien masih mampu menutup mulutnya sendiri atau tidak.

Hilangnya dukungan gigi belakang juga jarang dikaitkan dengan sendi. Padahal pemakaian gigi tiruan yang tepat membantu menjaga tinggi gigitan, sehingga beban pada sendi tidak bertumpu pada satu sisi saja.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Dislokasi Rahang Terjadi?

Langkah pertama adalah tidak memaksa menutup mulut. Tekanan yang dipaksakan justru memperkuat kejang otot dan mempersulit pengembalian posisi.

Pasien sebaiknya segera dibawa ke unit gawat darurat atau klinik gigi yang mampu menangani. Pengembalian posisi dilakukan dengan teknik manual oleh tenaga terlatih, dan angka keberhasilannya dilaporkan di atas delapan puluh lima persen pada kasus yang ditangani lebih awal.

Waktu menjadi faktor yang menentukan. Setelah sekitar dua minggu, otot pengunyah mengalami kekakuan dan pemendekan, sehingga pengembalian manual menjadi jauh lebih sulit dilakukan.

Segera cari pertolongan gawat darurat apabila rahang terkunci terbuka, muncul kesulitan menelan, atau terjadi pembengkakan yang mengganggu napas. Pemeriksaan rontgen gigi umumnya dilakukan setelahnya untuk memastikan tidak ada patahan yang menyertai.

Kebiasaan yang Menurunkan Risiko Dislokasi Rahang Berulang

Pencegahan dislokasi rahang tidak menghapus faktor bawaan, meskipun beberapa penyesuaian sederhana dapat mengurangi frekuensi kejadian pada pasien dengan riwayat sebelumnya.

Beberapa kebiasaan yang dapat membantu antara lain:

1. Tahan Dagu Saat Menguap atau Tertawa

Menopang dagu dengan tangan membatasi seberapa jauh mulut terbuka. Kebiasaan ini sederhana tetapi cukup efektif bagi pasien dengan sendi yang longgar.

Menguap sambil menundukkan kepala sedikit juga mengurangi jarak bukaan.

2. Potong Makanan Menjadi Ukuran Lebih Kecil

Gigitan pada makanan yang tebal memaksa rahang terbuka melebihi kebiasaan. Memotong lebih dahulu menghilangkan pemicu tersebut tanpa mengubah pola makan.

Makanan yang terlalu keras dan liat juga sebaiknya dikurangi karena menambah beban otot pengunyah.

3. Minta Jeda Saat Tindakan Gigi Berlangsung Lama

Pasien dapat menyampaikan riwayat sendi kepada dokter gigi sebelum tindakan dimulai. Jeda menutup mulut setiap beberapa menit mengurangi kelelahan otot.

Penopang gigitan juga dapat digunakan agar rahang tidak menahan posisi terbuka sendirian.

4. Periksakan Sendi yang Sering Berbunyi atau Terkunci

Keluhan yang berulang sebaiknya dinilai sebelum berkembang menjadi episode penuh. Pemeriksaan mencakup pola gerak rahang dan keseimbangan gigitan.

Kebiasaan menggertakkan gigi atau bruxism ikut dinilai karena menambah ketegangan pada otot di sekitar sendi.

Dislokasi Rahang Umumnya Dapat Ditangani Tanpa Operasi

Apabila Anda pernah mengalami rahang terkunci terbuka, kejadian tersebut sebaiknya tidak dianggap selesai setelah posisinya kembali. Penilaian lanjutan membantu menentukan apakah ada faktor yang membuatnya mudah berulang.

Sebagian besar kasus dislokasi rahang dapat diselesaikan dengan penanganan manual dan pembatasan gerakan sementara. Tindakan bedah umumnya baru dipertimbangkan pada kasus yang berulang dan tidak terkendali dengan cara konservatif.

Perlu diingat bahwa mencoba mengembalikan posisi sendiri berisiko menimbulkan cedera tambahan. Teknik pengembalian menuntut arah tekanan tertentu yang sulit dilakukan tanpa pelatihan.

Pemahaman mengenai pemicu pribadi biasanya cukup membantu pasien menghindari kejadian berikutnya. Tim dokter gigi Damessa dapat menilai pola gerak rahang sekaligus mengarahkan penanganan yang sesuai.

Konsultasi mengenai keluhan sendi dan riwayat dislokasi rahang dapat dilakukan di Klinik Gigi Damessa terdekat.

Referensi

  • Akinbami, B. O. (2011). Evaluation of the mechanism and principles of management of temporomandibular joint dislocation: Systematic review of literature and a proposed new classification of temporomandibular joint dislocation. Head & Face Medicine, 7, 10.
  • Prechel, U., Ottl, P., Ahlers, O. M., & Neff, A. (2018). The treatment of temporomandibular joint dislocation. Deutsches Ärzteblatt International, 115(5), 59–64.
  • Chan, T. C., Harrigan, R. A., Ufberg, J., & Vilke, G. M. (2008). Mandibular reduction. The Journal of Emergency Medicine, 34(4), 435–440.