Behel gigi berfungsi merapikan susunan gigi sekaligus memperbaiki hubungan gigitan, bukan sekadar mengikuti tren fashion.
Tanpa pemeriksaan, perencanaan, dan pemantauan yang tepat, pemakaian behel dapat menimbulkan efek samping seperti resorpsi akar gigi, penyakit periodontal, demineralisasi enamel, dan sariawan.
Pemasangan behel oleh tukang gigi berada di luar ruang lingkup pekerjaan yang diizinkan, sehingga perawatan perlu dilakukan oleh dokter gigi yang kompeten.
Behel gigi kini digunakan di berbagai kalangan dan sering tampak seperti bagian dari penampilan sehari-hari. Padahal, fungsi utama behel adalah merapikan posisi gigi dan memperbaiki hubungan gigitan, bukan sekadar fashion. Bila dipasang tanpa pemeriksaan dan perawatan yang tepat, alat ini dapat menimbulkan masalah, dan pemasangan oleh tukang gigi bukan alternatif yang setara dengan perawatan oleh dokter gigi.
Pada pemasangan oleh praktisi non-medis yang tidak memiliki ilmu ortodonti, komplikasi yang dapat muncul antara lain penumpukan plak yang parah, kerusakan jaringan periodontal, hingga kematian gigi. Selain itu, durasi perawatannya tidak jelas, sehingga Anda rugi waktu, biaya, dan kesehatan. Simak risiko, efek samping, serta alasan pemasangannya harus ditangani tenaga medis yang kompeten.
Apa Itu Behel Gigi?
Sebelum membahas risikonya, kenali dulu apa yang sebenarnya dipasang pada gigi Anda. Behel atau orthodontic bracket adalah komponen ortodonti kecil berbahan logam atau keramik yang dipasang pada gigi untuk menahan kawat (archwire). Bracket direkatkan langsung pada permukaan gigi dengan adhesive, atau disolder pada band yang sebelumnya dipasang melingkari gigi.
Pada 2018, 57,6% masyarakat Indonesia tercatat memiliki masalah gigi dan mulut, dengan maloklusi menempati peringkat ketiga (80%). Maloklusi adalah susunan gigi yang tidak sebagaimana mestinya, dan behel gigi ditujukan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Karena itu, behel bukan aksesori atau fashion semata, dan perencanaan perawatannya tidak boleh main-main. Diagnosis ortodonti yang komprehensif menjadi landasan bagi perencanaan, pelaksanaan, dan ketahanan hasil perawatan.
Behel Gigi Makin Marak, Tanda Kesadaran Masyarakat Meningkat?
Banyaknya pengguna behel memang tampak seperti kemajuan, tetapi data menunjukkan gambaran yang lebih berlapis. Permintaan perawatan ortodonti pada orang dewasa terus meningkat. Di Amerika Serikat, permintaan itu naik sekitar 40% pada 2020 dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Salah satu pendorongnya adalah faktor psikososial, yaitu faktor sosial yang memengaruhi cara berpikir atau berperilaku seseorang terhadap orang lain.
Studi di Jakarta menemukan hubungan antara pemakaian bracket dan status psikososial. Responden merasa gigi yang tidak beraturan menurunkan daya tarik atau ‘nilai jual’ seseorang, sedangkan gigi yang rapi berpengaruh baik pada karier sosial dan kepercayaan diri. Kesadaran ini lebih tinggi pada wanita, yang motivasinya memang lebih berkaitan dengan estetika. Namun, sebagian besar responden masih memiliki pengetahuan yang kurang, dan inilah alasan risiko pemakaian behel perlu dipahami lebih dulu.
Apa Saja Risiko dan Efek Samping Behel Gigi?
Ada empat efek samping yang mungkin muncul selama pemakaian behel gigi:
Resorpsi akar gigi:Resorpsi akar adalah pemendekan akar gigi dan menjadi dampak paling umum dari piranti ortodonti cekat. Tingkat keparahannya bervariasi dan tidak dapat diprediksi dokter gigi, tetapi jarang membahayakan prognosis gigi. Gigi depan rahang atas paling sering mengalaminya. Faktor risikonya meliputi morfologi akar, riwayat trauma, kualitas perawatan endodontik, durasi perawatan, gaya bracket yang berlebihan, kebiasaan pasien, dan penyakit sistemik.
Penyakit periodontal: Akses untuk menjaga kebersihan mulut berkurang selama memakai behel, sehingga peradangan gusi akibat penumpukan plak sering ditemukan. Bakteri dalam plak inilah yang menyebabkan penyakit periodontal.
Demineralisasi enamel:White spot lesion atau demineralisasi enamel adalah tanda awal proses karies. Kondisi ini cukup sering terjadi pada pasien dengan behel cekat, meski angka kejadiannya bervariasi antarpenelitian, dan paling sering terlihat pada gigi depan rahang atas.
Sariawan:Sariawan mudah muncul bahkan tanpa piranti ortodonti, misalnya akibat ujung gigi yang tajam, tergigit, atau makanan yang keras. Namun, pada pengguna piranti ortodonti, baik cekat maupun lepasan, risikonya meningkat karena piranti bersentuhan langsung dengan mukosa mulut, terutama di pipi dan bibir, dan dapat pula di lidah.
Gambar berikut memperlihatkan contoh demineralisasi enamel pada gigi setelah perawatan ortodonti:
Demineralisasi enamel atau white spot lesion pada gigi setelah perawatan behel gigi
Gambar 1. Dekalsifikasi pasca perawatan ortodonti (Alotaibi, 2023)
Mengapa Pemasangan Behel Gigi Harus oleh Tenaga Medis yang Kompeten?
Setelah mengenal risikonya, wajar bila Anda bertanya mengapa pemasangan behel gigi tidak boleh sembarangan. Setiap orang memiliki diagnosis, kondisi gigi dan jaringan pendukung, serta rencana perawatan yang berbeda, sehingga dokter gigi perlu melakukan pemeriksaan pra-perawatan yang komprehensif. Bila dipasang oleh tenaga non-medis yang tidak memiliki kompetensi dan kewenangan, risiko dan efek sampingnya dapat menjadi lebih parah.
Dari sisi aturan, ruang lingkup pekerjaan tukang gigi diatur dalam Permenkes Nomor 39 Tahun 2014 tentang Pembinaan, Pengawasan, dan Perizinan Pekerjaan Tukang Gigi. Pasal 6 ayat 2 membatasi pekerjaan tukang gigi hanya pada pembuatan dan pemasangan gigi tiruan lepasan sebagian dan/atau penuh dari bahan heat curing acrylic yang memenuhi persyaratan kesehatan dan tidak menutupi sisa akar gigi. Pemasangan behel tidak termasuk di dalamnya, sehingga jangan memilih tukang gigi hanya karena penawarannya lebih murah atau terlihat praktis. Pikirkan pula risikonya ke depan.
Tidak setara. Pemasangan behel tidak termasuk ruang lingkup pekerjaan tukang gigi, dan komplikasinya dapat berupa plak yang parah, kerusakan jaringan periodontal, hingga kematian gigi.
Risikonya dapat ditekan lewat pemeriksaan sebelum pemasangan, kebersihan mulut yang baik, dan kontrol sesuai jadwal. Meski begitu, beberapa efek samping, seperti resorpsi akar, tidak dapat diprediksi oleh dokter gigi.
Dokter memeriksa kondisi gigi, gusi, dan gigitan Anda, lalu menyusun diagnosis serta rencana perawatan. Bila diperlukan, pemeriksaan penunjang seperti rontgen gigi dapat diminta untuk melihat kondisi akar dan tulang pendukung.
Sikat gigi dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur
Gunakan dental floss atau interdental brush
Kurangi makanan dan minuman yang manis
Hindari makanan yang terlalu keras atau lengket
Kontrol sesuai jadwal yang diberikan dokter
Jangan melepas atau mengubah komponen behel sendiri
Bila Anda terlanjur memasang behel di tukang gigi, segera periksakan kondisi gigi dan jaringan pendukungnya ke klinik terdekat. Penanganan selanjutnya perlu ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter gigi secara menyeluruh.
Kapan Harus Segera ke Dokter Gigi saat Memakai Behel Gigi?
Beberapa kondisi berikut tidak boleh ditunda penanganannya:
Bracket terlepas
Kawat terlalu panjang dan menusuk
Nyeri berat yang berkepanjangan
Gusi sangat bengkak
Pasang Behel Gigi dengan Aman, Konsultasikan ke Klinik Gigi Damessa
Behel gigi adalah alat perawatan ortodonti yang membutuhkan pemeriksaan dan pemantauan yang tepat, bukan aksesori penambah penampilan. Pemasangan oleh tukang gigi bukan pilihan yang aman maupun sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan mereka, jadi jangan sampai niat merapikan gigi justru mendatangkan masalah kesehatan gigi dan mulut. Buat janji konsultasi di Klinik Gigi Damessa terdekat sebelum Anda memutuskan.
Konsultasi dengan tim dokter gigi Damessa mencakup pembahasan kondisi gigi dan gusi, rencana perawatan, hingga jadwal kontrol berkala. Layanan behel gigi di Damessa ditangani oleh dokter spesialis ortodonti, sehingga setiap tahap perawatan dapat Anda tanyakan langsung.
Masih bimbang soal rencana pasang behel gigi atau ingin mengecek behel yang sedang dipakai? Chat admin Damessa lewat WhatsApp (tombolnya tersedia di halaman ini) untuk menanyakan jadwal dokter dan alur konsultasi. Lihat juga banner promo yang sedang berlaku untuk mengetahui penawaran terbaru.
Ramadhanti, I., Kusumastuti, T., & Nurcandra, F. (2023). Systematic review: Dampak kesehatan praktik Tukang Gigi pada Semua Kelompok Usia di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat UPN “Veteran” Jakarta, 4(1), 56–70.