Anak Anda merengek minta dipasangi ‘gigi robot’ karena melihat temannya memakai mahkota gigi berwarna metalik? Permintaan itu memang terdengar lucu, tetapi gigi robot yang dimaksud adalah stainless steel crown (SSC), yaitu mahkota siap pakai berbahan logam yang digunakan dokter gigi untuk memulihkan gigi anak yang berlubang besar atau rusak parah.
Jadi, SSC bukan sekadar pemanis penampilan, dan umumnya dipasang pada geraham pertama sulung. Lantas, apakah semua gigi berlubang besar langsung bisa dipasangi gigi robot? Kapan SSC disarankan, dan adakah efek sampingnya? Simak pembahasan berikut.
Apa Itu Stainless Steel Crown (SSC)?
Sebelum membahas indikasinya, kenali dulu apa sebenarnya gigi robot ini. Stainless steel crown adalah crown atau mahkota siap pakai berbahan logam untuk menutupi atau memulihkan gigi yang rusak atau berlubang besar. Karena siap pakai, SSC tersedia dalam berbagai ukuran yang sesuai untuk geraham pertama dan kedua sulung, juga untuk geraham permanen pertama.
Warna metaliknya yang mengilap mirip robot, sehingga banyak anak menyebutnya gigi robot. SSC juga berbeda dengan tambalan. Crown dibuat di luar rongga mulut lalu dipasang dengan semen, sedangkan tambalan konvensional dibuat langsung di dalam rongga mulut dengan bahan seperti resin komposit, semen silika, atau amalgam.
Gambar 1.Stainless steel crown (Seale dan Randall, 2015)
Kapan Stainless Steel Crown Diperlukan pada Anak?
Penggunaan stainless steel crown tidak terbatas pada gigi sulung, tetapi juga bisa dilakukan pada gigi permanen. Indikasinya pada anak antara lain:
Gigi sulung setelah perawatan pulpa, seperti pulpotomi atau pulpektomi
Gigi sulung dengan kelainan perkembangan tertentu sehingga memiliki defek yang besar
Gigi sulung dengan karies luas yang melibatkan lebih dari dua permukaan
Gigi sulung yang patah
Gigi sulung dengan risiko karies tinggi, terutama geraham sulung
Restorasi sementara pada geraham permanen anak yang rusak parah akibat karies atau defek perkembangan
Pemasangan SSC pada anak tergolong sederhana. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
Pemeriksaan kondisi gigi: Dokter memeriksa kondisi gigi buah hati Anda, kemudian gigi dibersihkan dan diisolasi agar dokter lebih mudah melakukan tindakan.
Anestesi (bila diperlukan): Bila gigi memerlukannya, dokter memberikan anestesi sebelum tindakan dimulai.
Pembersihan jaringan karies: Jaringan karies dibersihkan agar tidak terjadi karies sekunder di kemudian hari, umumnya bersamaan dengan pengurangan struktur gigi secukupnya sebagai tempat mahkota.
Pemilihan mahkota: Setelah gigi bersih dan ruang untuk mahkota cukup, dokter memilih mahkota yang berukuran sesuai, lalu mengevaluasi bagian tepi dan retensinya.
Evaluasi gigitan: Dokter memeriksa apakah mahkota memengaruhi gigitan anak. Bila ada perubahan, mahkota disesuaikan kembali agar tidak terjadi trauma oklusi di kemudian hari.
Pemasangan mahkota: Mahkota dipasang dengan semen silika, kemudian kelebihan semen dibersihkan agar tidak menjadi tempat menumpuknya plak dan sisa makanan.
Apakah Stainless Steel Crown Aman untuk Anak?
Umumnya aman, dan SSC masih menjadi gold standard untuk restorasi penuh pada gigi sulung, bahkan bila dibandingkan dengan mahkota zirconia (keramik) yang sewarna gigi. Meski kurang unggul dari sisi estetika, stainless steel crown memiliki beberapa kelebihan klinis dibandingkan zirconia, yaitu:
Retentivitas yang baik
Kuat menahan beban kunyah
Respons gusi yang baik
Akumulasi plak yang lebih sedikit
Keausan gigi lawan (antagonis) yang lebih rendah
Berapa Lama Stainless Steel Crown Dapat Bertahan pada Anak?
Gigi sulung hanya berada di rongga mulut dalam jangka waktu tertentu, sehingga ketahanan SSC dipengaruhi usia anak. Kondisi gigi, kebersihan mulut, dan fungsi kunyah juga turut berperan.
SSC menjadi restorasi yang direkomendasikan bila restorasi perlu bertahan lebih dari dua tahun atau usia anak kurang dari enam tahun. Alasannya, geraham permanen umumnya tumbuh pada usia 6 sampai 7 tahun, dan SSC melindungi geraham sulung agar tidak tanggal sebelum geraham dewasa muncul. Dengan begitu, gigi di sebelahnya tidak bergeser dan ruang bagi gigi permanen tidak berkurang. Bila tanggal prematur terjadi, kemungkinan maloklusi meningkat.
Bagaimana Cara Merawat Stainless Steel Crown pada Anak?
Perawatannya tidak jauh berbeda dari perawatan gigi sehari-hari. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan:
Sikat gigi dua kali sehari secara teratur
Gunakan benang gigi, terutama pada sela-sela gigi
Batasi makanan dan minuman yang tinggi gula
Kontrol rutin ke dokter gigi
Bila setelah pemasangan anak mengalami kemerahan, nyeri menetap, gusi bengkak, crown terasa longgar atau terlepas, atau sakit saat menggigit, segera bawa anak ke dokter gigi untuk diperiksa.
Jarang, tetapi mungkin. Nikel dalam SSC dapat memicu reaksi hipersensitivitas pada anak tertentu dengan gejala seperti gusi bengkak, sehingga keluhan tersebut perlu segera diperiksakan.
Dokter gigi perlu memeriksa kondisi gigi anak secara langsung. Anda dapat berkonsultasi lewat layanan perawatan gigi anak Damessa agar dokter menilai perlu tidaknya mahkota.
Adakah Efek Samping Stainless Steel Crown yang Perlu Diwaspadai?
Meski jarang, ada kondisi yang disebut nickel-sensitive children, yaitu reaksi hipersensitivitas (alergi) pada anak terhadap nikel yang terkandung dalam SSC. Gejalanya biasanya berupa pembengkakan gusi dan kerusakan tulang alveolar. Segera periksakan ke klinik terdekat bila Anda mencurigai keluhan ini, dan jangan menunggu lama.
Ragu Gigi Anak Perlu Stainless Steel Crown? Konsultasikan ke Klinik Gigi Damessa
Jadi, stainless steel crown atau gigi robot bukan soal tampilan semata, melainkan restorasi yang kuat untuk gigi sulung yang berlubang besar atau sudah menjalani perawatan pulpa. Setiap anak memiliki kondisi gigi yang berbeda, sehingga perlu tidaknya mahkota baru dapat dipastikan lewat pemeriksaan langsung. Periksakan gigi buah hati di Klinik Gigi Damessa sebelum lubang di giginya semakin dalam.
Pada kunjungan di sana, tim dokter gigi Damessa dapat menilai apakah gigi anak cukup ditambal atau perlu ditutup dengan crown gigi, lalu menjelaskan langkah perawatannya kepada Anda sebelum tindakan dimulai.
Cemas soal lama tindakan atau persiapan anak di hari kunjungan? Tuliskan pertanyaan Anda melalui kontak WhatsApp Damessa yang tertera pada halaman ini, dan admin akan membantu menjawab sekaligus mengatur jadwal. Cek pula banner promo yang sedang tampil sebelum Anda mendaftar.
Referensi
Agrawal, R., Khanduja, R., Singhal, M., Gupta, S., & Kaushik, M. (2022). Clinical Evaluation of Stainless Steel Crown versus Zirconia Crown in Primary Molars: An In Vivo Study. International journal of clinical pediatric dentistry, 15(1), 15–19. https://doi.org/10.5005/jp-journals-10005-2134
Kher, M.S., Rao, A. (2019). The Posterior Preformed Metal Crown (Stainless Steel Crown). In: Contemporary Treatment Techniques in Pediatric Dentistry . Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-030-11860-0_4
Mahoney, E., Kilpatrick, N., Hibbert, S., & Johnston, T. (2013). Restorative paediatric dentistry. In Handbook of Pediatric Dentistry (pp. 79–102). Elsevier. https://doi.org/10.1016/B978-0-7234-3695-9.00006-7
Malekzadeh Shafaroudi, A., Nasiri, P., & Nahvi, A. (2021). Nickel sensitivity in children due to using stainless steel crowns: A narrative review. Journal of Pediatrics Review, 9(2), 145–152. https://doi.org/10.32598/jpr.9.2.870.2
Seale, N. S. (2002). The use of stainless steel crowns. Position Paper, 24(5), 501–505.
Seale, N. S., & Randall, R. (2015). The use of Stainless Steel Crowns: A systematic literature review. Conference Paper, 37(2).
Sequeira-Byron, P., Fedorowicz, Z., Carter, B., Nasser, M., & Alrowaili, E. F. (2015). Single crowns versus conventional fillings for the restoration of root-filled teeth. The Cochrane database of systematic reviews, 2015(9), CD009109. https://doi.org/10.1002/14651858.CD009109.pub3