Gigi taring permanen yang tak kunjung tumbuh dapat disebabkan banyak faktor, salah satunya kista di gigi berupa kista dentigerous yang terbentuk di sekitar mahkota gigi yang belum erupsi.
Kista di gigi sering tidak bergejala pada tahap awal, tetapi dapat membesar hingga mengubah tulang atau posisi gigi di sekitarnya.
Diagnosis ditegakkan lewat pemeriksaan klinis dan radiografi, dan penanganannya bergantung pada ukuran kista serta kemungkinan mempertahankan gigi yang terdampak.
Gigi taring permanen biasanya tumbuh pada usia 9 sampai 10 tahun di rahang bawah dan 11 sampai 12 tahun di rahang atas. Bila gigi taring tak kunjung muncul padahal gigi di sekitarnya sudah berubah, salah satu kemungkinannya adalah kista di gigi, terutama kista dentigerous yang berkaitan dengan gigi yang belum erupsi.
Meski begitu, kista di gigi hanyalah satu dari beberapa penyebab gagalnya gigi taring erupsi. Penyebab lain antara lain posisi gigi taring, ankilosis (gigi menyatu dengan tulang rahang), dan celah bibir-langit-langit (cleft lip palate). Karena itu, baik pada buah hati Anda maupun pada diri Anda sendiri, pemeriksaan ke dokter gigi tetap menjadi langkah terbaik.
Apa Itu Kista di Gigi?
Sebelum mengaitkannya dengan gigi taring, pahami dulu apa itu kista. Kista adalah kantong patologis, berongga satu (unilokuler) maupun banyak (multilokuler), yang berisi cairan, semifluida, atau gas, dan bukan berasal dari kumpulan nanah. Kista dapat muncul hampir di mana saja pada jaringan keras dan lunak tubuh, termasuk rongga mulut, dengan ukuran dari kecil hingga besar. Perlu diingat, tidak semua benjolan berarti kista.
Di dalam rongga mulut, kista dibagi menjadi kista odontogenik, yang berhubungan dengan pembentukan gigi, dan kista nonodontogenik. Kista odontogenik terbagi lagi menjadi kista perkembangan (developmental cyst) dan kista radang (inflammatory cyst). Salah satu kista perkembangan adalah kista dentigerous, yang berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi, paling sering gigi bungsu, gigi taring rahang atas, dan geraham kecil rahang bawah. Kista dentigerous paling umum muncul pada usia 10 sampai 30 tahun dan lebih sering pada laki-laki.
Adakah Hubungan Kista di Gigi dengan Gigi Taring yang Tidak Tumbuh?
Tentu ada. Gigi taring, terutama di rahang atas, adalah gigi yang paling sering mengalami impaksi setelah geraham bungsu. Impaksi berarti gigi gagal erupsi ke rongga mulut pada periode perkembangan tertentu dan tidak bisa lagi diharapkan tumbuh sendiri.
Salah satu penyebabnya adalah kista dentigerous yang berkembang di sekitar mahkota gigi taring yang belum erupsi. Akibatnya, jalur erupsi gigi taring terganggu sehingga impaksi dapat terjadi.
Apa Saja Penyebab Gigi Taring Tidak Tumbuh Selain Kista di Gigi?
Ada beberapa penyebab lain yang membuat gigi permanen, termasuk gigi taring, tidak tumbuh:
Gambar 1. Urutan erupsi gigi permanen (Marwah, 2019)
Apakah Kista di Gigi Memiliki Gejala Tertentu?
Pada kista dentigerous berukuran kecil, gejala biasanya tidak ada, dan kista sering ditemukan secara tidak sengaja saat pasien menjalani foto rontgen. Bila ukurannya besar, kadang timbul pembengkakan dan perluasan tulang tanpa rasa nyeri, kecuali bila terjadi infeksi sekunder. Pada gigi selain geraham bungsu, tanda yang paling terlihat adalah gigi yang tak kunjung erupsi.
Bagaimana Dokter Mengetahui Adanya Kista di Gigi?
Ada tiga pemeriksaan yang membantu dokter gigi memastikannya:
Pemeriksaan klinis: Lewat wawancara dan pemeriksaan di rongga mulut, dokter dapat mencurigai adanya kista. Namun, dugaan ini perlu dikonfirmasi lewat pemeriksaan radiografi.
Pemeriksaan radiografi: Pemeriksaan klinis hanya memberi dugaan diagnosis, sehingga dokter memerlukan foto rontgen untuk memastikan lesinya. Pada foto radiografi, kista dentigerous tampak sebagai bulatan hitam berongga satu dengan batas jelas (well-defined) yang mengelilingi mahkota gigi yang belum erupsi. Bila kista berukuran besar, gambarannya kadang tampak seperti berongga banyak karena sebagian sekat tulang masih bertahan di dalam area kista.
Pemeriksaan histopatologi: Bila ada kecurigaan terhadap lesi lain, termasuk keganasan, sampel jaringan dikirim ke laboratorium untuk mengenali karakter jaringan dan membedakan lesi yang gambarannya mirip, seperti squamous cell carcinoma, mucoepidermoid carcinoma, atau ameloblastoma.
Gambar berikut menunjukkan tampilan kista dentigerous pada gigi taring yang impaksi:
Tidak. Kista hanya salah satu kemungkinan. Penyebab lain mencakup posisi gigi taring, kurangnya ruang, ankilosis, celah bibir dan langit-langit, hingga faktor sistemik.
Tidak. Kista berukuran kecil sering tanpa gejala, dan pembengkakan akibat kista yang membesar umumnya juga tidak nyeri kecuali terjadi infeksi sekunder.
Pada gigi taring impaksi, perawatan umumnya dilanjutkan dengan perawatan ortodonti untuk memosisikan gigi sesuai lengkung rahang. Dokter akan menilai kemungkinannya, termasuk lewat layanan behel gigi di Damessa.
Gambar 2. Kista dentigerous pada gigi kaninus yang impaksi pada foto radiografi panoramik (kiri) dan foto radiografi periapikal (kanan) (Mohan et al., 2013)
Bagaimana Kista di Gigi Ditangani?
Pilihan penanganan kista di gigi ditentukan oleh ukuran kista, kondisi pasien, kedekatannya dengan struktur vital, serta rencana perawatan gigi yang terdampak. Dua tindakan yang umum dipertimbangkan:
Enukleasi: Pengangkatan total dinding kista beserta isinya sehingga seluruh jaringan patologis terangkat. Tindakan ini umumnya dilakukan pada kista dentigerous berukuran kecil, disertai pengambilan gigi yang terdampak bila memang tidak dapat dipertahankan.
Marsupialisasi: Pembuatan ‘jendela’ dari rongga kista ke mukosa mulut. Tindakan ini biasanya dipertimbangkan pada kista berukuran besar, karena enukleasi pada kista besar dapat menyebabkan disfungsi neurosensori.
Bila kista berkaitan dengan gigi taring yang impaksi, perawatan akan dilanjutkan dengan perawatan ortodonti untuk memosisikan gigi taring sesuai lengkung rahang.
Apakah Kista di Gigi Berbahaya bila Dibiarkan?
Kista di gigi umumnya datang tanpa gejala. Bila dibiarkan, kista dapat membesar tanpa terasa, kecuali bila terjadi infeksi, lalu merusak tulang atau menggeser gigi di sekitarnya.
Saat ukurannya bertambah, pembengkakan umumnya muncul tanpa disertai nyeri. Karena itu, bila Anda menemukan benjolan di rahang atau gusi, tetap periksakan ke dokter gigi meski tidak terasa sakit.
Kapan Harus Periksa Kista di Gigi bila Gigi Taring Tidak Tumbuh?
Segera kunjungi dokter gigi terdekat bila Anda atau buah hati mengalami kondisi berikut:
Gigi taring belum juga erupsi meski sudah berusia 13 tahun
Gigi susu masih bertahan ketika gigi permanen seharusnya mulai tumbuh
Pembengkakan pada rahang atas
Perubahan posisi gigi di sekitar gigi taring
Nyeri atau keluhan lain
Gigi Taring Tak Kunjung Tumbuh? Periksa Kemungkinan Kista di Gigi ke Klinik Gigi Damessa
Gigi taring yang tak kunjung tumbuh bisa jadi terhambat oleh kista di gigi di sekitarnya, dan karena kista sering tanpa gejala, pemeriksaan klinis dan radiografi menjadi cara yang paling tepat untuk memastikannya. Bila Anda atau buah hati mulai curiga, jangan menunggu pembengkakan muncul. Jadwalkan pemeriksaan di Klinik Gigi Damessa yang paling mudah Anda jangkau.
Pemeriksaan oleh tim dokter gigi Damessa dimulai dari gigi dan rahang Anda, lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang seperti rontgen gigi untuk melihat posisi gigi taring dan kemungkinan kista di sekitarnya. Hasilnya dijelaskan kepada Anda, termasuk langkah lanjutan yang paling sesuai.
Sentuh tombol WhatsApp di halaman ini untuk berkonsultasi singkat dengan admin Damessa, mulai dari jadwal dokter hingga persiapan sebelum rontgen. Sekalian, buka banner promo yang ditampilkan untuk melihat penawaran yang berlaku.
de Almeida Francisquini, I., de Lima Medeiros, Y., Campos, H. N., Marlière, D. A. A., & Assis, N. M. S. P. (2025). Orthosurgical Treatment of Impacted Canines with the Presence of Bilateral Dentigerous Cysts: A Case Report with Five-Year Follow-Up. Journal of maxillofacial and oral surgery, 24(3), 844–850. https://doi.org/10.1007/s12663-022-01811-5
Marwah, N. (2019). Textbook of Pediatric Dentistry (4th ed.). New Delhi, India: Jaypee Brothers Medical Publishers.
Miloro, M., Ghali, G. E., Larsen, P. E., & Waite, P. (2022). Peterson’s principles of oral and maxillofacial surgery. Springer International Publishing Springer.
Mohan, K. R., Natarajan, B., Mani, S., Sahuthullah, Y. A., Kannan, A. V., & Doraiswamy, H. (2013). An infected dentigerous cyst associated with an impacted permanent maxillary canine, inverted mesiodens and impacted supernumerary teeth. Journal of pharmacy & bioallied sciences, 5(Suppl 2), S135–S138. https://doi.org/10.4103/0975-7406.114307