Warna gigi dipengaruhi faktor dari dalam (intrinsik), faktor dari luar (ekstrinsik), serta kondisi tertentu pada gigi yang disebut interkategori.
Gigi yang makin menguning seiring bertambahnya usia dapat menjadi perubahan fisiologis yang normal, tetapi perubahan warna yang muncul tiba-tiba, hanya pada satu gigi, atau disertai ngilu dan nyeri sebaiknya diperiksakan.
Menjaga kebersihan gigi, membatasi kopi dan teh, berhenti merokok, serta rutin kontrol ke dokter gigi membantu menjaga warna dan kesehatan gigi.
Gigi menguning tidak selalu berarti gigi kotor atau tidak sehat. Warna gigi dipengaruhi oleh enamel, dentin, usia, serta berbagai kebiasaan dan kondisi tertentu. Kopi, teh, dan rokok memang dapat menimbulkan noda di permukaan gigi, tetapi perubahan warna juga bisa berasal dari dalam struktur gigi, misalnya akibat fluorosis, trauma, hingga karies.
Pernahkah Anda berkaca dan merasa gigi makin kuning dibanding beberapa tahun lalu? Pertanyaannya, apa sebenarnya penyebab gigi menguning, dan kapan kondisi ini perlu diperiksakan? Mari kenali penyebabnya satu per satu.
Apa Saja Penyebab Gigi Menguning?
Perubahan warna gigi termasuk keluhan yang paling sering dijumpai di klinik. Dalam tiga dekade terakhir, minat masyarakat terhadap gigi yang lebih terang dan putih memang terus meningkat. Spektrum warna gigi pun beragam, dan setiap warna dapat mewakili penyebab yang berbeda.
Berbagai studi membagi penyebab gigi menguning menjadi dua kelompok besar, yaitu intrinsik (dari dalam) dan ekstrinsik (dari luar), ditambah satu kelompok lain yang disebut interkategori.
1. Gigi Menguning dari Dalam (Intrinsik)
Perubahan warna intrinsik terjadi di dalam struktur keras gigi, yaitu enamel dan dentin, selama proses pembentukan gigi. Penyebabnya biasanya kelainan metabolik, kelainan sistemik, konsumsi obat, atau paparan bahan kimia. Perubahan ini juga dapat terjadi saat gigi sedang erupsi (tumbuh) dan memengaruhi sebagian atau seluruh gigi.
Kelainan genetik atau kongenital. Amelogenesis imperfekta (AI) adalah kelainan genetik yang mengganggu pembentukan enamel. Gigi menjadi lebih tipis dan rapuh, berwarna kekuningan hingga cokelat, serta lebih cepat menumpuk plak.
Gambar 1. Amelogenesis imperfekta (Hattab, 2024)
Dentinogenesis imperfekta (DI). Seperti AI, DI juga diturunkan dalam keluarga. Kelainan ini ditandai malformasi atau kegagalan pembentukan dentin, baik pada gigi susu maupun gigi dewasa.
Gambar 2. Dentinogenesis imperfekta (Hattab, 2024)
Bahan kimia dan obat-obatan. Fluorida dan tetrasiklin dapat menyebabkan perubahan warna intrinsik selama gigi berkembang. Tingkat keparahannya bergantung pada dosis, frekuensi, waktu, dan tahap perkembangan gigi. Tambalan amalgam juga dapat menimbulkan bercak abu kehitaman pada gigi.
Tidak selalu. Noda dari luar dan perubahan warna dari dalam gigi ditangani dengan cara yang berbeda, sehingga penyebabnya perlu diketahui lebih dulu melalui pemeriksaan dokter gigi.
Perubahan warna pada satu gigi saja, terlebih bila disertai ngilu atau nyeri, sebaiknya segera diperiksakan karena dapat berkaitan dengan trauma, karies, atau gigi yang pernah dirawat saluran akarnya.
Setelah pemeriksaan, dokter gigi Damessa dapat menyarankan pembersihan karang gigi, penambalan, atau bleaching gigi sesuai penyebab perubahan warnanya.
Gambar 4. Enamel fluorosis (Hattab, 2024)
2. Gigi Menguning dari Luar (Ekstrinsik)
Penyebab ekstrinsik lebih dekat dengan kebiasaan sehari-hari Anda, di antaranya:
Kopi dan teh. Keduanya mengandung tanin, zat yang cenderung menyerap plak dan menempel pada permukaan gigi sehingga membentuk noda cokelat kehitaman. Penambahan susu pada kopi atau teh dilaporkan dapat mengurangi perlekatan tanin ke permukaan gigi.
Rokok. Nikotin yang tidak berwarna akan berubah kuning saat bereaksi dengan oksigen sehingga gigi tampak menguning, sedangkan tar, residu hitam pada rokok, memberi warna kehitaman. Bila Anda perokok, ketahui juga pasta gigi untuk perokok yang dirancang membantu mengurangi noda nikotin.
Gambar 6. Noda merokok (Hattab, 2024)
Buah pinang. Mengunyah buah pinang mungkin kini jarang ditemui, tetapi kebiasaan ini dapat mengubah warna gigi dan gusi, memicu sariawan, hingga menimbulkan keganasan seperti oral submucous fibrosis.
Gambar 7.Oral submucous fibrosis (Kolegium Penyakit Mulut Indonesia, 2020)
Penuaan. Perubahan fisiologis seiring waktu ini berhubungan dengan gaya hidup, genetika, dan lingkungan. Keausan dan paparan asam menipiskan enamel sehingga dentin, struktur di bawah enamel yang warnanya lebih gelap, tampak lebih jelas dan gigi terlihat kekuningan.
3. Penyebab Gigi Menguning Lainnya (Interkategori)
Sebagian perubahan warna memiliki penyebab dan karakteristik tertentu sehingga tidak dapat dimasukkan ke dua kelompok di atas. Kelompok interkategori ini mencakup perdarahan ruang pulpa, perawatan endodontik, karies, gigi yang aus, dan bahan tambal. Pada gigi yang pernah menjalani perawatan endodontik, mahkota gigi terkadang berubah warna karena aliran darah ke ruang pulpa menurun, dan bahan tambal seperti amalgam juga dapat mengubah warna gigi.
Gambar 8. (Kiri) Perubahan warna karena perdarahan pada ruang pulpa; (kanan) perubahan warna akibat kematian pulpa (Hattab, 2024)
Trauma yang keras pada gigi juga dapat mengubah warna mahkota, baik secara langsung maupun bertahap. Karies pun termasuk kelompok ini, karena warnanya memberi petunjuk tentang perjalanan penyakitnya, meski tingkat keparahannya tidak dapat ditentukan hanya dari warna. Karies aktif berwarna kuning muda, karies yang berkembang lambat berwarna cokelat muda, dan karies yang sudah tidak berkembang (arrested caries) berwarna cokelat tua.White spot lesion juga menjadi pertanda awal bahwa gigi memiliki karies.
Apakah Gigi Menguning Itu Normal?
Warna gigi ditentukan oleh enamel dan dentin. Enamel bersifat translusen (tembus pandang) dan hanya berperan kecil pada warna gigi, sedangkan dentin lebih opaque (tidak tembus cahaya) dan berpengaruh signifikan karena mampu menyerap cahaya. Seiring bertambahnya usia, gigi cenderung makin gelap karena ruang pulpa menyusut, enamel menipis, dan struktur di dalam dentin berubah.
Jadi, gigi menguning akibat usia merupakan hal yang normal dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Namun, segera periksakan ke klinik bila perubahan warna hanya terjadi pada satu gigi, seperti pada Gambar 8, atau disertai keluhan lain.
Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mencegah gigi menguning:
Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluorida
Bersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi atau interdental brush
Batasi minum kopi dan teh
Hentikan kebiasaan merokok
Rutin kontrol ke dokter gigi minimal enam bulan sekali
Bila perubahan warna membuat Anda kurang percaya diri, jangan buru-buru memilih produk pemutih gigi. Jenis dan penyebab perubahan warna sangat beragam, jadi pastikan penyebabnya diketahui lebih dulu agar perawatan yang dipilih tidak salah sasaran.
Gigi Menguning Tak Selalu Butuh Pemutih, Konsultasikan dengan Dokter Gigi Damessa
Warna gigi mencerminkan banyak hal, dari kebiasaan harian hingga kondisi di dalam gigi. Karena penyebabnya berbeda-beda, cara terbaik mengetahui apa yang terjadi pada gigi Anda adalah pemeriksaan langsung di Klinik Gigi Damessa.
Tim dokter gigi Damessa akan mencari tahu terlebih dahulu apakah gigi menguning Anda disebabkan noda permukaan, perubahan dari dalam gigi, atau tanda karies, lalu menyarankan perawatan yang paling sesuai, mulai dari pembersihan karang gigi dan penambalan hingga pemutihan gigi.
Ingin tahu langkah yang paling cocok untuk Anda? Kirim pertanyaan awal lewat tombol WhatsApp di laman ini, dan admin Damessa akan membantu mengatur jadwal di cabang terdekat. Sambil menunggu balasan, Anda juga bisa membuka banner promo untuk melihat promo yang tersedia saat ini.
Referensi
Gasparik, C., Pérez, M. M., Ruiz-López, J., Ghinea, R. I., & Dudea, D. (2025). The color of natural teeth: A scoping review of In-Vivo studies. Journal of dentistry, 158, 105725. https://doi.org/10.1016/j.jdent.2025.105725
Gupta, R., Hegde, J., Prakash, V., & Srirekha, A. (2019). Concise conservative dentistry and endodontics. Elsevier India.
Hattab, F. N. (2024). Tooth discoloration: Causes and clinical presentation—part I. Journal of Oral Health and Community Dentistry, 18(2), 63–74. https://doi.org/10.5005/jp-journals-10062-0187
Kolegium Penyakit Mulut Indonesia. (2020). Panduan Praktik Klinis Ilmu Penyakit Mulut Edisi ke-1. Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia.