
Rekap Singkat!
- Warna gigi ditentukan oleh lapisan dentin di baliknya, ketebalan email, serta noda yang menempel dari makanan dan minuman.
- Senyum artis gigi putih di layar tidak selalu berasal dari perawatan pemutihan karena pencahayaan, tata rias, dan kamera juga memengaruhi tampilannya.
- Sebagian orang baru mengetahui warna gigi alaminya setelah noda permukaan dan karang gigi dibersihkan.
- Perubahan warna pada satu gigi saja perlu diperiksakan karena dapat berkaitan dengan masalah di dalam gigi.
Senyum artis gigi putih di layar sering terlihat begitu cerah sehingga banyak orang ingin memiliki tampilan yang sama. Tidak sedikit yang kemudian mencari cara instan untuk mendapatkan gigi putih.
Namun, tampilan artis gigi putih tidak selalu sepenuhnya berasal dari perawatan pemutihan. Pencahayaan studio, tata rias, sudut kamera, hingga proses penyuntingan dapat membuat warna gigi terlihat lebih cerah dibandingkan kondisi aslinya.
Sayangnya, keinginan mendapatkan gigi putih seperti artis terkadang mendorong penggunaan cara yang justru berisiko merusak lapisan gigi. Sebagian metode lain juga menjanjikan hasil yang sebenarnya tidak mungkin dicapai oleh semua orang.
Memahami apa yang membuat gigi terlihat putih dan cerah membantu menyaring informasi tersebut. Dengan begitu, harapan terhadap hasil perawatan menjadi lebih masuk akal. Oleh karena itu, penjelasan dasarnya perlu diketahui lebih dulu.
Apa yang Sebenarnya Membuat Artis Gigi Putih Terlihat Bersinar?
Tampilan artis gigi putih sering kali dipengaruhi oleh lebih dari sekadar warna alami gigi. Warna gigi sendiri tidak berasal dari lapisan terluarnya saja, melainkan dari perpaduan antara email yang tembus cahaya dan dentin di baliknya.
Karena itu, pembersihan karang gigi terkadang sudah cukup membantu memperlihatkan warna asli gigi yang sebelumnya tertutup noda. Beberapa hal yang menentukan tampilan warna gigi antara lain:
1. Warna Alami Dentin di Balik Lapisan Email
Dentin adalah lapisan di bawah email yang warnanya cenderung kekuningan secara alami.
Email bersifat tembus cahaya sehingga warna dentin ikut terlihat dari luar. Email yang lebih tipis dapat membuat warna dentin tampak lebih jelas.
Baca juga: 6 Efek Samping Veneer Gigi yang Perlu Dipahami
Karena itu, warna dasar gigi setiap orang memang berbeda-beda. Tidak semua orang memiliki warna alami seputih tampilan artis gigi putih yang sering terlihat di layar.
2. Noda Permukaan dari Makanan dan Kebiasaan
Noda yang menempel di permukaan gigi termasuk salah satu penyebab perubahan warna yang umum terjadi.
Kopi, teh, dan minuman berwarna gelap dapat meninggalkan pigmen pada permukaan gigi. Kebiasaan merokok juga dapat menyebabkan noda yang sulit dibersihkan. Noda tersebut sering menumpuk secara perlahan sehingga perubahannya tidak selalu langsung disadari.
Berbeda dengan warna dasar gigi, noda permukaan pada beberapa kondisi dapat dikurangi melalui perawatan yang sesuai. Scaling gigi dapat membantu membersihkan karang, plak, dan noda tertentu sehingga tampilan gigi terlihat lebih bersih.
Jika Anda ingin memahami lebih lanjut penyebab perubahan warna tersebut, Damessa juga membahas penyebab gigi kuning yang sering terlewat meskipun seseorang rajin menyikat gigi.
3. Pencahayaan, Tata Rias, dan Sudut Kamera
Tampilan artis gigi putih di layar tidak selalu mencerminkan warna asli giginya.
Pencahayaan panggung dapat membuat permukaan gigi memantulkan cahaya dengan lebih kuat. Warna riasan bibir juga dapat menciptakan kontras yang membuat gigi terlihat lebih cerah.
Sudut kamera dan hasil penyuntingan foto turut memengaruhi penampilan. Karena itu, membandingkan warna gigi sehari-hari dengan tampilan artis gigi putih di layar kurang tepat.
Perbandingan yang lebih realistis adalah dengan kondisi gigi sendiri sebelum dan sesudah menjalani perawatan.
Hal yang Sering Keliru saat Ingin Memiliki Gigi Putih seperti Artis
Melihat tampilan artis gigi putih membuat sebagian orang mengira bahwa gigi dapat diputihkan dengan bahan apa pun yang tersedia di rumah. Baking soda, arang, hingga perasan lemon sering digunakan dengan harapan menghasilkan warna yang lebih cerah.
Padahal, bahan yang terlalu abrasif atau bersifat asam dapat berisiko mengikis permukaan email. Jika email mengalami penipisan, warna dentin yang cenderung kekuningan justru dapat terlihat semakin jelas.
Sebagian orang juga berharap perawatan pemutihan dapat menyamakan warna seluruh gigi. Padahal, bleaching gigi memiliki batasan tertentu. Bahan pemutih tidak mengubah warna tambalan, mahkota tiruan, maupun veneer yang sudah terpasang.
Selain itu, ada anggapan bahwa gigi putih hasil pemutihan bersifat permanen. Dalam banyak kasus, warna dapat berubah kembali secara bertahap, terutama apabila kebiasaan sehari-hari yang menyebabkan noda tidak berubah.
Memiliki tampilan seperti artis gigi putih juga bukan berarti semua orang harus mengejar warna yang sama. Target warna sebaiknya disesuaikan dengan kondisi alami gigi dan hasil yang realistis.
Kapan Gigi Putih Sulit Dicapai Tanpa Bantuan Dokter?
Langkah pertama sebelum mencoba mendapatkan tampilan artis gigi putih adalah membedakan noda permukaan dari perubahan warna yang berasal dari dalam gigi. Pemeriksaan membantu memastikan sumber perubahan warna tersebut.
Dokter gigi dapat menilai kondisi email, gusi, serta ada tidaknya tambalan atau riwayat perawatan pada gigi. Penilaian ini membantu menentukan apakah bleaching gigi dapat dilakukan dan sesuai dengan kondisi pasien.
Namun, beberapa keadaan perlu diperiksakan lebih dahulu. Perubahan warna hanya pada satu gigi, gigi yang menggelap setelah terbentur, bercak putih atau cokelat sejak kecil, gusi yang mudah berdarah, atau ngilu yang menetap sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah kosmetik.
Perubahan warna tertentu dapat berkaitan dengan kondisi di dalam gigi. Dalam kasus seperti ini, perubahan warna gigi perlu dievaluasi terlebih dahulu untuk mengetahui penyebab dan pilihan perawatan yang sesuai.
Semakin jelas penyebabnya diketahui, semakin tepat perawatan yang dapat dipilih. Oleh karena itu, pemutihan sebaiknya tidak dilakukan sebelum kondisi gigi dinilai.
Kebiasaan yang Membantu Menjaga Gigi Putih Lebih Lama
Mendapatkan tampilan artis gigi putih tidak hanya bergantung pada perawatan di klinik. Kebiasaan sehari-hari juga berperan dalam menjaga warna gigi tetap bersih dan cerah.
Beberapa kebiasaan yang dapat membantu antara lain:
1. Kurangi Paparan Minuman Berwarna Pekat
Kopi, teh, dan minuman berwarna gelap dapat meninggalkan pigmen pada permukaan gigi. Mengurangi frekuensi konsumsinya dapat membantu membatasi paparan zat pewarna.
Menggunakan sedotan juga dapat membantu mengurangi kontak langsung minuman dengan bagian depan gigi. Namun, cara ini tidak sepenuhnya menghilangkan risiko munculnya noda.
2. Bilas Mulut Setelah Mengonsumsi Minuman Berwarna
Berkumur dengan air putih dapat membantu membersihkan sisa minuman yang masih tertinggal di rongga mulut.
Untuk minuman atau makanan yang bersifat asam, menyikat gigi tidak harus dilakukan langsung setelah mengonsumsinya. Menunggu beberapa waktu sebelum menyikat gigi dapat membantu mengurangi risiko abrasi pada permukaan gigi.
Kebiasaan sederhana ini tidak secara langsung menghasilkan tampilan artis gigi putih, tetapi dapat membantu menjaga warna gigi agar tidak cepat berubah akibat paparan sehari-hari.
3. Hentikan Kebiasaan Merokok
Tembakau dapat menyebabkan noda yang menempel kuat pada permukaan gigi. Noda tersebut sering kali lebih sulit dibersihkan dibandingkan noda dari makanan dan minuman.
Selain memengaruhi warna gigi, merokok juga dapat berdampak pada kesehatan gusi dan jaringan mulut. Menghentikan kebiasaan tersebut memberikan manfaat yang jauh melampaui soal penampilan.
4. Jalani Pembersihan Karang Gigi Secara Berkala
Pembersihan berkala dapat membantu menghilangkan karang dan noda yang menumpuk. Banyak orang merasa giginya terlihat lebih bersih setelah menjalani scaling.
Namun, penting untuk memahami bahwa scaling dan bleaching memiliki fungsi yang berbeda. Scaling membantu membersihkan karang dan noda pada permukaan, sedangkan bleaching ditujukan untuk membantu mencerahkan warna gigi.
Perbedaan keduanya dapat dipahami lebih lanjut melalui artikel Damessa tentang memutihkan gigi atau membersihkan karang gigi.
Pemeriksaan berkala juga membantu mengenali masalah lain sejak awal. Perubahan warna gigi terkadang dapat menjadi salah satu tanda adanya kondisi yang perlu diperiksa.
Gigi Putih yang Sehat Lebih Berharga daripada Sekadar Seperti Artis
Melihat artis gigi putih di layar memang dapat menjadi inspirasi, tetapi warna gigi yang sangat putih bukanlah standar alami bagi semua orang. Mengejar tampilan tersebut dengan cara yang salah justru dapat merugikan kesehatan gigi.
Ada beberapa hal yang perlu Anda pahami, mulai dari warna alami gigi, penyebab munculnya noda, batas hasil yang dapat dicapai melalui bleaching, hingga kebiasaan yang membantu menjaga kebersihan gigi.
Pada beberapa kondisi, bleaching juga bukan satu-satunya pilihan. Jika perubahan warna sulit diatasi atau disertai masalah bentuk gigi, dokter dapat mempertimbangkan pilihan lain seperti veneer gigi sesuai kebutuhan dan kondisi klinis.
Yang terpenting bukan memiliki warna gigi yang sama dengan artis gigi putih, melainkan memastikan gigi dan mulut berada dalam kondisi sehat sebelum mempertimbangkan perawatan estetik.
Apabila Anda ingin mengetahui pilihan perawatan yang sesuai untuk mendapatkan gigi yang lebih cerah secara aman, konsultasikan kondisi Anda ke Klinik Gigi Damessa.
Tim dokter gigi Damessa dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh dan menjelaskan pilihan perawatan berdasarkan kondisi gigi Anda. Dengan penilaian yang tepat, target warna gigi dapat ditentukan secara lebih realistis sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Referensi
- Eachempati, P., Kumbargere Nagraj, S., Kiran Kumar Krishanappa, S., Gupta, P., & Yaylali, I. E. (2018). Home-based chemically-induced whitening (bleaching) of teeth in adults. Cochrane Database of Systematic Reviews, 12, CD006202.
- Goldberg, M., Grootveld, M., & Lynch, E. (2010). Undesirable and adverse effects of tooth-whitening products: A review. Clinical Oral Investigations, 14(1), 1-10.
- Perdigao, J. (Ed.). (2016). Tooth Whitening: An Evidence-Based Perspective. Springer.